Pilarmas Sekuritas: Pasar Obligasi Terlihat Rapuh

Di tengah banyaknya sentimen, baik dari dalam maupun luar negeri, Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas pada Senin (25/2/2019).
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 25 Februari 2019  |  09:46 WIB
Pilarmas Sekuritas: Pasar Obligasi Terlihat Rapuh
Ilustrasi Surat Utang Negara. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pasar obligasi terlihat rapuh saat ini, di tengah semakin tingginya ketidakpastian dan banyaknya sentimen yang diperkirakan berpengaruh, khususnya pekan ini.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan pasar obligasi diperkirakan akan dibuka melemah dengan potensi melemah terbatas pada Senin (25/2/2019). Keterbatasan ini datang dari beberapa sentimen yang akan menghampiri pada pekan ini.

Meskipun AS dan China telah setuju mengenai ketentuan mata uang, khususnya agar China dapat menjaga mata uangnya tetap stabil, perkembangan pembicaraan dagang antara kedua belah pihak masih terus berlanjut.

Dia menuturkan banyak beredar kabar mengenai perkembangan dagang kedua negara, di mana beberapa merupakan kabar baik dan beberapa lainnya adalah kabar buruk.

"Hal ini yang harus kita cermati, tatkala pertemuan kedua negara tersebut sudah memasuki fase deadline pekan depan, meskipun kabarnya bahwa pertemuan kedua negara berlanjut positif," lanjut Nico dalam riset harian, Senin (25/2).

Beralih dari sana, pertemuan antara AS dengan Korea Utara (Korut) di Hanoi , Vietnam pada 27-28 Februari 2019 juga merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu. Pertemuan tersebut diharapkan menghasilkan beberapa keputusan yang positif.

Setelah itu, Gubernur The Fed Jerome Powell akan melakukan pidato di depan Komite Jasa Keuangan AS. Hal ini merupakan sesuatu yang akan ditunggu oleh pasar.

Beralih ke Inggris, proses Brexit dinilai hanya membuat kemajuan yang sangat kecil. Perdana Menteri (PM) Inggris Theresa May mengirimkan dua menteri utamanya ke Brussels, Belgia untuk menemukan jalan keluar Brexit yang mulai mengalami kebuntuan.

Meski tidak ada hal yang baru, tetapi pembicaraan dinilai akan terus berlangsung.

Apabila proses Brexit masih belum dapat berjalan dengan baik, ada kemungkinan anggota Parlemen Inggris akan kembali mengancam untuk merebut kendali dari May. Hal ini akan menjadi sentimen negatif mengenai proses Brexit itu sendiri.

"Kami melihat bahwa pergerakan obligasi akan mengalami pergerakan terbatas hari ini, dengan fokus terhadap lelang esok hari yang lebih kepada obligasi acuan dan konvensional. Kami merekomendasikan hold dengan potensi penurunan hari inim apabila pergerakan obligasi bergerak melebihi 45 bps," terangnya.

Imbal hasil Obligasi Indonesia 10 tahun ditutup turun di level 7,94% dari sebelumnya di posisi 7,95%. Sementara itu, imbal hasil obligasi Indonesia 20 tahun ditutup tidak berubah di 8,33%.

Nico menambahkan pasar obligasi pada akhir pekan lalu terlihat berusaha menguat meskipun secara teknikal analisa, seharusnya masih mengalami penurunan.

Di sisi lain, rupiah ditutup di level Rp14.058, menguat dibandingkan hari sebelumnya di level Rp14.071.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
surat utang negara

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup