Harga Logam Dasar di Bursa LME Menguat, Ini Penopangnya

Logam dasar yang diperdagangkan di bursa London Metal Exchange mampu ditutup di zona hijau ditopang tertekannya mata uang poundsterling akibat ketidakpastian Brexit yang hingga saat ini belum mencapai kesepakatan apapun.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 24 Februari 2019  |  19:16 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Logam dasar yang diperdagangkan di bursa London Metal Exchange mampu ditutup di zona hijau ditopang tertekannya mata uang poundsterling akibat ketidakpastian Brexit yang hingga saat ini belum mencapai kesepakatan apapun.

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (22/2/2019), harga aluminium menguat 0,42% menjadi US$1.913 per ton, diikuti harga tembaga yang menguat 1,54% menjadi US$6.478 per ton.  

Selain itu, harga zinc juga menguat 1,53% menjadi US$2.724 per ton, disusul harga tin yan menguat 0,33% menjadi US$21.495 per ton.

Adapun, komoditas logam di LME dimanfaatkan oleh investor karena diperdagangkan dengan poundsterling yang tengah tertekan.

Di sisi lain, produsen baja Inggris tengah menyoroti kesulitan-kesulitan akibat dari ketidakpastian Brexit yang mempengaruhi Industri. Pada pekan lalu, Maskapai regional Inggris, Flybmi, menyambangi kantor pemerintahan Inggris dan menyalahkan Brexit atas kenaikan biaya karbon.

Kemudian, disusul oleh Honda Motor Co. yang mengatakan akan menutup pabrik di Inggris, dan para petinggi dari Honda Motor Co. tersebut menyatakan keprihatinan terhadap pemerintah Inggris.

CFO British Steel Gerald Reichmann mengatakan bahwa produsen baja mengaku sudah mempersiapkan berbagai skenario berbeda dari Brexit yang masih belum mendapat sebuah kesepakatan menjelang tenggat waktunya, yaitu 29 Maret mendatang.

“Kami memiliki rencana yang kuat untuk menangani berbagai skenario dari Brexit termasuk pergantian rezim kredit karbon. Kami berharap tidak ada interupsi di operasional kami, terutama jika kami dapat terus melanjutkan perdangan dengan Eropa,” ujar Gerald seperti dikutip dari Bloomberg, Minggu (24/2/2019).

Sebagai informasi, Uni Eropa membekukan izin dana alokasi bebas karbon untuk perusahaan Inggris sejak awal 2019 akibat ketidakpastian Brexit, dan berlaku hingga kedua belah pihak sudah mendapatkan sebuah kesepakatan.

Keputusan tersebut berarti, salah satu produsen baja terbesar di Inggris, British Steel, tidak dapat menggunakan izin dan harus mengeluarkan biaya lebih untuk melakukan perdagangan kecuali ada kemajuan dalam perbincangan Brexit yang mengarah pada penangguhan diangkat tepat waktu.

British Steel Ltd. kemungkinan akan menghadapi kerugian mencapai US$130 juta dalam kurun waktu tiga minggu apabila perdana menteri Theresa May tidak dapat mengamankan kesepakatan Brexit.

Pengakhiran penangguhan tunjangan gratis atau penangguhan batas waktu kepatuhan akan membantu British Steel serta perusahaan lainnya, mulai dari maskapai penerbangan hingga produsen listrik dan produsen berat, yang semuanya harus mematuhi peraturan iklim Uni Eropa dan menyerahkan izin karbon pada pertengahan Maret untuk menutupi emisi 2018 mereka.

Adapun, dalam kurun waktu lima minggu lagi, Perdana Menteri Theresa May masih berusaha untuk mengamankan kesepakatan yang dapat memenangkan dukungan dari anggota parlemen Uni Eropa dan Inggris. Jika ia tidak bisa, maka keputusannya adalah Inggris akan keluar dari Uni Eropa pada 29 Maret tanpa kesepakatan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aluminium, industri logam dasar

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup