Pilarmas Sekuritas: IHSG Cenderung Bergerak Terbatas

Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pasar hari ini cenderung menanti  risalah FOMC minutes meeting yang akan keluar Kamis (21/2/2019) dan mendorong pasar bergerak mixed cenderung terbatas hari ini, Rabu (20/2/2019).
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  09:29 WIB
Pilarmas Sekuritas: IHSG Cenderung Bergerak Terbatas
Pengunjung beraktivitas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Rabu (13/2/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Pilarmas Investindo Sekuritas menilai pasar hari ini cenderung menanti  risalah FOMC minutes meeting yang akan keluar Kamis (21/2/2019) dan mendorong pasar bergerak mixed cenderung terbatas hari ini, Rabu (20/2/2019).

FOMC minutes ditunggu terkait dengan kebijakan The Fed ke depannya. Tentu apabila pernyataan dovish, akan menjadi booster yang ditunggu oleh pasar. 

Namun, besar atau tidaknya booster untuk mendorong kenaikan, akan tergantung bagaimana hasil pertemuan dari delegasi China terhadap Amerika yang telah berlangsung sejak hari Selasa kemarin.  Apabila pertemuan ini berjalan dengan baik, tentu akan menjadi sentiment yang positif bagi kenaikkan harga obligasi dan saham.

Dalam pertemuan yang berlangsung kemarin, Amerika meminta China untuk menjaga nilai Yuan agar stabil. Hal ini diminta sebagai bagian dari negosiasi perdagangan. Sejauh ini kedua belah pihak terlihat optimis dan positif, sehingga masih ada harapan bahwa pertemuan ini mengalami kemajuan.

Tidak sampai di situ, kabar perkembangan terus terjadi di Brexit. Perdana Menteri Theresa May akan mengadakan pertemuan “penting” dengan Presiden Komisi Eropa, Jean–Claude Juncker pada hari ini. Tentu hal ini merupakan sesuatu yang patut ditunggu pasar.

Tidak hanya itu saja, pertemuan Bank Sentral Indonesia yang dilakukan esok hari merupakan sentimen berikutnya. Memang benar bahwa stabilitas ekonomi tidak dapat dinegosiasikan, tetapi juga bukan tidak mungkin bahwa ada potensi penurunan tingkat suku bunga Bank Indonesia di sana.

Sentimen ini akan menjadi penggerak pasar dalam beberapa hari ke depan. Dari dalam negeri, upaya pemerintah untuk meningkatkan ekspor batu bara dinilai dapat memberikan sentiment terhadap jatuhnya harga jual.

Berdasarkan data Ditjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, produksi batu bara pada 2018 mencapai 548,58 juta ton, lebih tinggi 20 juta ton dari catatan awal Januari 2019 sebanyak 528 juta ton.

Pada 2018, pemerintah menambah kuota produksi 100 juta ton yang seluruhnya untuk pasar ekspor. Hal itu bertujuan memperbaiki defisit neraca perdagangan. 

Kenaikan ekspor ini terjadi di tengah turunnya permintaan batu bara dari negara India yang terkoreksi 11% secara tahunan menjadi 17,25 juta ton pada Januari tahun ini. 

Pada tahun ini, Kementerian ESDM menyatakan DMO batu bara mencapai 128 juta ton, lebih tinggi dari realisasi DMO tahun lalu 115 juta ton atau setara 26% dari target produksi 490 juta ton. Sehingga harga batu bara berpeluang terkoreksi ke 93 USD.

"Secara teknikal, kami memproyeksikan IHSG bergerak mixed cenderung melemah dan di perdagangkan pada rentang harga 6.480 – 6.500 untuk perdagangan hari ini," katanya dalam riset harian, Rabu (20/2/2019).

Pada perdagangan hari Selasa (19/02/2019) IHSG ditutup melemah 3 poin atau -0.05% ke level 6.494. Sektor pertambangan, perkebunan dan property memberikan kontribusi kenaikan terbesar pada perdagangan kemarin. Investor asing mencatakan penjualan bersih sebesar Rp618 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
IHSG, Indeks BEI

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top