Sudah Sepekan, Pemesanan ST003 Masih Terbatas

Setelah hampir satu pekan dipasarkan, instrumen sukuk negara tabungan seri ST-003 masih belum mendapatkan permintaan yang cukup signifikan, atau masih kurang dari Rp500 miliar.
Emanuel B. Caesario | 07 Februari 2019 21:10 WIB
Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Lucky Alfirman (Kanan) berbincang dengan Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Dwi Irianti Hadiningdyah (kiri) saat meluncurkan Sukuk Tabungan ST-003 di Jakarta, Jumat (1/2/2019). - ANTARA/Dhemas Reviyanto

Bisnis.com, JAKARTA—Setelah hampir satu pekan dipasarkan, instrumen sukuk negara tabungan seri ST-003 masih belum mendapatkan permintaan yang cukup signifikan, atau masih kurang dari Rp500 miliar.

Berdasarkan data pemasaran Investree.id pada Kamis (7/2/2019) pukul 15.00 WIB, ST-003 baru mendulang pemesanan sebanyak Rp450,4 miliar, atau 22,52% dari target indikatifnya Rp2 triliun. Dengan demikian, masih ada kuota tersisa senilai Rp1,55 triliun.

Instrumen ini sudah mulai dipasarkan sejak awal Februari, Jumat (1/2/2019) dan akan berakhir 13 hari lagi pada Rabu (20/2/2019). Instrumen ini bisa dibeli mulai Rp1 juta hingga Rp3 miliar oleh investor ritel.

Instrumen ini diterbitkan dengan karakter kupon mengambang dengan dasar (floating with floor) sebesar 8,15%. Kupon ini terbentuk dari suku bunga BI 7 Days Repo Rate (BI 7DRR) 6% ditambah spread tetap 215 bps atau 2,15%.

Kupon ini lebih tinggi 90,8 bps dibandingkan yield surat utang negara (SUN) tenor 2 tahun saat hari pertama masa pemasaran instrumen ini. Artinya, kupon ini sebenarnya sangat menarik, apalagi bila menimbang bunga deposito yang saat ini di kisaran 4,25% - 6,25% per tahun.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa emisi instrumen surat berharga negara (SBN) ritel memang menghadapi tantangan, sebab kondisi likuiditas perbankan juga sedang mengetat.

Penerbitan instrumen ST003 ini kebanyakan menyasar nasabah prioritas dari kalangan perbankan, sebab sifat instrumen ini tidak banyak berbeda dibandingkan deposito perbankan. Di sisi lain, para agen pemasarannya pun mayoritas adalah perbankan, sehingga tidak tertutup kemungkinan adanya konflik kepentingan.

Dari 13 mitra distribusi instrumen ini, sebanyak 8 di antaranya merupakan bank, yakni Bank BRISyariah, Bank Syariah Mandiri, Bank BCA, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank Permata, Bank BRI, dan Bank BTN.

Hanya sebagian kecil dari luar bank. Dari perusahaan sekuritas hanya satu, yakni Trimegah Sekuritas, sedangkan dari perusahaan efek khusus ada dua, yakni Bareksa dan Tanamduit. Mitra lainnya yakni lewat perusahaan financial technology peer-to-peer lending, yakni Investree dan Modalku.

Ramdhan menilai, strategi pemerintah untuk menerbitkan instrumen SBN ritel setiap bulan memang membuka risiko penyerapan yang minim pada masing-masing seri yang diterbitkan. Memang benar, potensi investor ritel dalam negeri masih sangat besar, tetapi untuk menjangkaunya dibutuhkan upaya dan biaya yang cukup tinggi.

Kendati demikian, Ramdhan masih optimistis hingga akhir masa penawarannya, instrumen ini akan bisa mendulang permintaan hingga melampaui targetnya yang sebesar Rp2 triliun, sebab daya tarik instrumen ini cukup tinggi.

“Saya pikir antara Rp2 triliun hingga Rp3 triliun masih memungkinkan. Masa pemasarannya juga masih cukup panjang. Hanya saja perlu sosialisasi yang lebih luas lagi ke masyarakat,” katanya.

Tag : obligasi ritel
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top