Transaksi Broker Terdorong Capital Inflow Asing

Peningkatan transaksi broker yang cukup signifikan pada awal tahun ini ditengarai karena didorong oleh kembali masuknya asing ke pasar modal dalam negeri, setelah mencatatkan nilai jual bersih yang cukup tinggi dalam 2 tahun terakhir.
Emanuel B. Caesario | 06 Februari 2019 21:39 WIB
Pengunjung mengambil foto monitor perdagangan harga saham di Jakarta, Jumat (1/2/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA—Peningkatan transaksi broker yang cukup signifikan pada awal tahun ini ditengarai karena didorong oleh kembali masuknya asing ke pasar modal dalam negeri, setelah mencatatkan nilai jual bersih yang cukup tinggi dalam 2 tahun terakhir.

Berdasarkan data Bloomberg, transaksi broker pada Januari 2019 mencapai Rp448,1 triliun, meningkat 11,5% dibandingkan dengan nilai transaksi pada bulan yang sama 2018 lalu yang senilai Rp401,78 triliun. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan dengan nilai rata-rata transaksi per bulan 2018 lalu yang sebesar Rp335 triliun per bulan.

Janson Nasrial, Senior Vice President Royal Investium Sekuritas, mengatakan bahwa faktor utama dan yang paling jelas menjadi penyebab peningkatan transaksi broker di awal tahun ini adalah nada dovish The Fed tentang potensi peningkatan suku bunga Fed Fund Rate tahun ini.

The Fed memberikan indikasi suku bunga tahun ini netral atau kemungkinan besar hanya naik satu kali lagi. Hal ini menyebabkan aset berisiko, khususnya aset finansial dari negara berkembang beserta mata uangnya mendapatkan imbas positif.

Alhasil, banyak dana investor asing kini mengalir ke pasar modal negara berkembang. Sepanjang tahun berjalan, arus masuk investor asing sudah mencapai US$985 juta atau sekitar Rp14,12 triliun, jauh lebih baik dibandingkan tahun lalu yang hanya US$132 juta atau Rp2,3 triliun.

“Meningkatnya arus masuk dana asing ke IHSG membuat adanya peningkatan transaksi di IHSG. Sentimen positif dari netralnya Fed Fund Rate tersebut juga membuat penguatan rupiah sehingga IHSG semakin menarik,” katanya, Rabu (6/2/2019).

Janson tidak menampik bahwa January effect turut berpengaruh pula terhadap peningkatan aktivitas transaksi pada bulan Januari dibandingkan bulan-bulan lainnya. Namun, pergerakan IHSG pada Januari tahun ini lebih didorong oleh membaiknya risk appetite asing terhadap IHSG.

“Hal yang paling penting untuk bulan-bulan ke depan adalah selama The Fed nadanya dovish, foreign flow masih massive, meskipun fundamental ekonomi kita tidak ke mana-mana,” katanya.

Adapun, sepanjang Januari 2019, IHSG tumbuh 5,46% ke level 6.532,97. Kinerja IHSG berada pada urutan kedua terbaik di Asean dan urutan keempat di Asia Pasifik. Dalam lingkup pasar modal dunia, kinerja IHSG berada di urutan ke-20. Pertumbuhan IHSG pada Januari 2019 lebih tinggi dibandingkan Januari 2018 yang sebesar 3,9%.

CAPITAL INFLOW

Kiswoyo Adi Joe, Kepala Riset Narada Asset Management, mengatakan bahwa kembali masuknya asing ke pasar modal Indonesia pada awal tahun ini masih belum sebanding dengan nilai penjualan mereka dalam 2 tahun terakhir.

Kiswoyo menilai, faktor kembali masuknya investor asing ini menjadi pendorong aktivitas transaksi di pasar, sebab investor asing cenderung aktif memanfaatkan peluang keuntungan dari dinamika pasar jangka pendek.

Selain itu, pasar modal Indonesia pun kini sedang dalam fase pertumbuhan, sehingga trennya menunjukkan aktivitas transaksi memang terus meningkat dari waktu ke waktu. Hal ini tidak terlepas dari daya tarik pasar modal Indonesia yang menunjukkan pertumbuhan kinerja yang sangat menarik.

Menurutnya, pada Februari, aktivitas transaksi kemungkinan akan meningkat lagi. Dirinya memperkirakan IHSG berpotensi bergerak hingga ke level tertingginya sepanjang sejarah pada bulan ini, yakni 6.700.

Hal ini kemungkinan akan didorong oleh antisipasi pasar untuk masuk lebih dini, sebelum memasuki fase konsolidasi pada Maret dan April yang mana pasar diperkirakan akan bergerak sideways karena sentimen politik pemilu.

Tag : sekuritas, transaksi saham
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top