Ekspor Sawit Mulai Bergeliat, Pelaku Usaha Tak Bisa Pastikan Keberlanjutannya

Peningkatan ekspor ke beberapa negara tradisional minyak kelapa sawit sudah mulai terlihat. Hanya saja, pelaku usaha masih belum dapat memastikan keberlanjutannya.
M. Richard | 30 November 2018 16:42 WIB
Petani memetik tandan buah segar kelapa sawit - jibi

Bisnis.com, JAKARTA - Peningkatan ekspor ke beberapa negara tradisional minyak kelapa sawit sudah mulai terlihat. Hanya saja, pelaku usaha masih belum dapat memastikan keberlanjutannya.

Wakil Ketua III Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Togar Sitanggang mengatakan pihaknya masih belum dapat memprediksikan permintaan ekspor akan terus meningkat.

"Permintaan pada Oktober memang tumbuh, cuma kita tidak bisa mengharapkan pasar akan selalu begitu, kita tidak bisa menjamin," katanya kepada Bisnis,Jumat (30/11/2018).

Sebelumnya, Ketua Bidang Perdagangan dan Promosi Gapki Master P. Tumanggor menjelaskan sentimen negatif dari negara tujuan ekspor masih sangat kuat, salah satunya India. Hal tersebut membuat peningkatan ekspor ke depan masih belum dapat dipastikan.

“Ada isu, India akan kembali menaikkan bea masuk impor CPO. Akibatnya, pembebasan pungutan ekspor, justru tak berdampak siginifikan,” jelasnya, Selasa (27/11).

Berdasarkan catatan Bisnis, pemerintah India berencana kembali menaikkan bea masuk impornya terhadap produk CPO dan turunannya.  Hal itu dilakukan setelah mengetahui langkah Indonesia yang pada akhirnya membebaskan pungutan ekspor CPO untuk sementara waktu.

India dalam hal ini tidak ingin petani minyak bunga matahari dalam negerinya terganggu oleh  produk impor CPO. Terlebih, produksi minyak biji bunga matahari India pada akhir tahun 2018 hingga awal 2019 diperkirakan akan mengalami kenaikan.

Oleh karena itu, Tumanggor meminta agar pemerintah kembali memperkuat lobi-lobi dagangnya kepada India agar produk CPO Indonesia dapat kembali dipacu ekspornya. 

Di sisi lain, demi mengantisipasi alotnya negosiasi antara Jakarta dan New Delhi, dia pun mendesak agar pemerintah segera merealisasikan mandatori biodiesel B30 pada awal tahun depan.

“B20 sudah mulai jalan saat ini. Sekarang, tinggal pemerintah mensosialiasikan ke publik untuk menyiapkan pelaksanaan B30. Supaya kejadian penolakan dari pengusaha transportasi ketika diminta mengunakan B20 tidak terulang lagi,” jelasya.

Berdasarkan siaran pers Gapki, sepanjang Oktober volume ekspor CPO dan turunannya, Olechemical dan Biodiesel tercatat 3,35 juta ton, atau naik 5% dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya 3,19 juta ton.

Ekspor terdiri dari CPO sekitar 760,82 ribu ton (24% dari total volume ekspor) dan sisanya produk turunan atau olahan dari CPO sebanyak 2,34 juta ton (76%).

Jika ditotal, sampai dengan Oktober 2018, Indonesia sudah mengekspor 4,9 juta ton CPO (18%) dan produk turunan/olahan 21,17 juta ton (82%). 

Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono menjelaskan geliat pasar global ini terutama didukung oleh permintaan CPO dari China yang meningkat sangat signifikan. 

Oktober ini China meningkatkan impor minyak sawit dari Indonesia hingga 541.810 ton, atau naik 63% dari permintaan September yang hanya 332.520 ton.

"Bahkan, angka tersebut belum termasuk permintaan biodiesel China yang telah dimulai sejak Mei 2018. Adapun, volume ekpor biodiesel ke China periode Mei-Oktober 2018 telah mencapai 637.340 ton," jelasnya.

Tag : gapki, minyak sawit
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top