Moody’s Turunkan Peringkat Agung Podomoro (APLN) Jadi B1

Moody’s Investor Service memutuskan menurunkan peringkat PT Agung Podomoro Land Tbk. serta surat utang globalnya yang diterbikan anak usahanya APL Realty Holdings Pte. Ltd. dari Ba3 menjadi B1 dengan outlook stabil.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 28 November 2018  |  00:20 WIB
Moody’s Turunkan Peringkat Agung Podomoro (APLN) Jadi B1
Moody Investors Service - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Moody’s Investor Service memutuskan menurunkan peringkat PT Agung Podomoro Land Tbk. serta surat utang globalnya yang diterbikan anak usahanya APL Realty Holdings Pte. Ltd. dari Ba3 menjadi B1 dengan outlook stabil.

Obligasi tersebut dijamin oleh emiten berkode saham APLN ini dan beberapa anak perusahaannya.

Jacintha Poh, Wakil Presiden dan Pemeringkat Senior Moody’s, mengatakan bahwa penurunan peringkat mencerminkan ekspektasi Moody’s bahwa metrik kredit Agung Podomoro akan melemah ke level yang tidak lagi sesuai dengan peringkat Ba3.

Pasalnya, perseroan membukukan tingkat penjualan pemasarannya yang rendah. Selain itu, arus kas mereka dalam 12-18 bulan ke depan akan lebih banyak berasal dari penjualan tunggal skala besar atau block sales. Karakteristik ini lebih cocok dengan peringkat B1.

"Meskipun demikian, kami berharap Agung Podomoro akan terus menghasilkan arus kas berulang yang dapat diprediksi dan cukup untuk menutup 0,9x hingga 1,0x dari biaya bunga yang disesuaikan pada 2018 dan 2019," tambah Poh.

Selama 10 bulan pertama tahun 2018, Agung Podomoro meraih marketing sales sekitar Rp2,3 triliun, meskipun ada upaya untuk memacu permintaan melalui promosi dan diskon khusus.

Meskipun capaian ini sudah lebih tinggi dibandingkan capaian sepanjang tahun 2017 yang sebesar Rp1,9 triliun, tetapi capaian ini jauh di bawah ekspektasi Moody sebesar Rp3,5 triliun dan menunjukkan lemahnya permintaan dari pembeli. Sulit bagi perseroan untuk memenuhi target tersebut di dua bulan terakhir 2018.

Lebih lanjut, Moody menilai meningkatnya suku bunga dan risiko politik menjelang pemilihan presiden yang akan datang di Indonesia dapat mengurangi sentimen di antara pembeli rumah dan membatasi marketing sales pada 2019.

Oleh karena itu, Moody's memproyeksikan metrik kredit utama Agung Podomoro akan melemah selama 12-18 bulan ke depan.

Moody's berharap emiten dengan kode sahm APLN ini untuk menyelesaikan dan menerima uang tunai dari penjualan Hotel Sofitel Bali sekitar Rp1,6 triliun pada akhir 2018.

Selain itu, APLN jgua diharapkan dapat menyelesaikan penjualan lahan industri lainnya di Podomoro Industrial Park di Karawang, Jakarta Raya untuk CFLD sekitar Rp2,5 triliun pada 2019. Namun, uang tunai akan dikumpulkan selama periode tiga tahun dari 2019 ke 2021.

Likuiditas APLN akan tetap lemah selama 12 bulan ke depan, karena utang jangka pendeknya yang besar sekitar Rp1,7 triliun. Meskipun demikian, Moody mengharapkan risiko refinancing akan berkurang karena masih adanya fasilitas komitmen kredit perseroan sekitar RP2, triliun per 30 September 2018 dan rekam jejak perseroan yang cukup baik.

Peringkat B1 Agung Podomoro mencerminkan posisinya yang mapan sebagai salah satu pengembang properti terbesar di Indonesia, dengan diversifikasi di beberapa proyek dan segmen properti - perumahan, perkantoran, ritel, industri dan perhotelan.

Di sisi lain, peringkat dibatasi oleh skala perusahaan yang kecil bila dibandingkan dengan rekan global; struktur perusahaan yang kompleks; dan eksposure yang tinggi pada volatilitas sektor properti dan peraturan yang berkembang di Indonesia.

Sementara itu, outlook yang stabil mencerminkan harapan Moody’s bahwa Agung Podomoro akan menghasilkan pendapatan berulang yang stabil dari properti investasinya dan mencapai penjualan pemasaran tahunan di atas Rp2,5 triliun.

Selain itu, Moody’s juga mempertimbangkan kemampuan perseroan mempertahankan disiplin keuangan sambil mengejar pertumbuhan; dan berhasil membiayai kembali utang jatuh temponya selama 12-18 bulan ke depan.

Peningkatan peringkat dalam jangka pendek tampaknya tidak mungkin, mengingat kinerja operasi perseroan yang lemah. Tren kenaikan peringkat dapat muncul jika Agung Podomoro dapat mencapai tiga hal. 

Pertama, mencapai marketing sales sekitar Rp3,5 triliun secara berkelanjutan. Kedua, meningkatkan profil keuangannya, sehingga utang yang disesuaikan / EBITDA turun di bawah 3,5 kali dan EBIT / cakupan bunga di atas 3,0 kali. Ketiga, mempertahankan likuiditas yang sehat dalam bentuk saldo kas dan fasilitas kredit yang terkomitmen.

Peringkat Agung Podomoro dapat menghadapi tekanan lebih lanjut jika: (1) perusahaan gagal melaksanakan rencana bisnisnya dan mengeksekusi penjualan aset yang direncanakan; (2) pasar properti memburuk, menyebabkan kelemahan yang berlarut-larut dalam operasi perusahaan dan metrik kredit; atau (3) perusahaan tidak memiliki kas dan fasilitas yang memadai untuk menutupi kewajiban utang jangka pendeknya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
agung podomoro

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top