Perang Dagang Bikin Harga Kedelai Berantakan

Kabar perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China kian simpang siur. Dari membaik, kembali jadi memburuk.
Mutiara Nabila | 25 November 2018 17:20 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Kabar perkembangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China kian simpang siur. Dari membaik, kembali jadi memburuk. Hal itu membuat harga komoditas seperti kedelai, terutama sepanjang tahun ini, jadi berantakan.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping, dijadwalkan akan melakukan pertemuan di Argentina bersamaan dengan pergelaran konferensi tingkat tinggi (KTT) negara-negara anggota Group of 20 (G20). Hal itu membawa sentimen positif terkait hubungan dagang antara kedua negara yang diperkirakan akan membentuk suatu kesepakatan untuk memperbaiki hubungan perdagangannya.

Namun, pada pekan lalu Pemerintah AS menyebutkan bahwa China telah gagal untuk memperbaiki perilakunya dalam anggapan pencurian kekayaan intelektual China kepada AS. Pernyataan tersebut membalikkan prospek positif hubungan dagang AS dan China jadi kembali memanas.

Hubungan dagang kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia yang memanas sudah membuat harga dan perdagangan sejumlah komoditas terutama komoditas pertanian luluh lantak. Salah satu komoditas pertanian yang terjebak sangat dalam pada perang dagang adalah kedelai.

Pembalasan tarif dari China sebesar 25% kepada AS pada 6 Juli lalu dan memasukkan kedelai dalam daftar tarif menjadi penyebab utama kemerosotan harga kedelai yang cukup dalam di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) sebagai patokan global sepanjang tahun ini.

Perang tarif tersebut membuat China sebagai konsumen utama kedelai, menghindari pasokan dari AS yang sebelumnya menjadi pemasok kedelai utama bagi China. Dengan keputusan tersebut, ditambah dengan panen kedelai AS yang membeludak, petani AS kini kian sengsara.

China, yang membeli 60% komoditas biji-bijian itu dari luar negeri, menurunkan pembeliannya hingga 18 – 20 juta ton pada kuartal IV/2018, dibandingkan dengan impor sebanyak 24,1 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Sebelumnya, Mantan Wakil Menteri Perdagangan China Long Yongtu, yang ikut melakukan negosiasi ketika China ingin masuk ke dalam Organisasi Dagang Dunia (WTO), menyebutkan bahwa China seharusnya hanya melakukan pembalasan terhadap ekspor pertanian AS sebagai upaya pembalasan terakhir.

“Berdasarkan pengalaman perang dagang AS dan China, menurut saya produk pertanian sangat sensitif, dan kedelai menjadi salah satu komoditas yang paling sensitif. Seharusnya China menghindari menaruh kedelai sebagai target di awal,” ungkapnya, dikutip dari Bloomberg, Minggu (25/11).

Menurutnya, tarif China pada komoditas kacang-kacangan itu membuat petani AS kesulitan untuk menjual pasokannya dan membuat petani AS harus menyimpan dan menimbun panennya dengan biaya tinggi dan membuat penghasilan mereka mengalami penurunan.

Dengan keputusan untuk melakukan penyimpanan, bukan harga yang sesuai yang diterima, tanaman busuk justru jadi masalah yang harus dihadapi petani saat ini, membuat permintaan lenyap, bahkan dari domestik AS sendiri.

China yang menghindari pasokan kedelai dari AS, kemudian mengalihkan pembelian utamanya ke Brasil, salah satu produsen kedelai terbesar di dunia. Namun, dengan adanya perbedaan musim antara Brasil dan AS, serta jumlah produksinya yang masih di bawah AS, membuat pengiriman pasokan kedelai dari Brasil ikut terhambat.

Adapun, untuk mengatasi hambatan tersebut, China juga sempat memacu petani domestiknya untuk memperbanyak penanaman kedelai dan membuat pasokan domestik China juga mengalami lonjakan dan membuat harga kedelai global tidak bisa terangkat.

Pada penutupan perdagangan Jumat (23/11), harga kedelai di bursa CBOT mengalami penurunan 2 poin atau 0,23% menjadi US$881 sen per bushel.

Sepanjang 2018, harga kedelai di CBOT sudah mengalami penurunan sebanyak 7,43%, jauh jika dibandingkan dengan harga komoditas biji-bijian seperti jagung dan gandum yang masing-masing mengalami kenaikan harga secara year-to-date (ytd) mencapai 2,35% dan 17,04%.
 
Trump Ingin China Kembali Lanjutkan Pembelian Kedelai

Pemeritah AS berencana untuk mendorong komitmen daru China agar kembali melanjutkan impor kedelai dari AS apabila ada keputusan perdagangan apapun yang bisa dicapai kedua negara saat melakukan pertemuan.

Setelah menerapkan tarif pada kedelai AS dan menjauhi pasokan dari Negeri Paman Sam, yang membuat petani AS risau, China mengalihkan pembeliannya pada pasokan dari Amerika Selatan, yang memicu kekhawatiran bahwa perang dagang akan memberikan dampak yang berkelanjutan dan dalam jangka panjang.

Dengan AS yang ingin kembali mendorong penjualan produk pertanian secara umum, Wakil Menteri Pertanian AS Steve Censky mengatakan apabila nanti ada kesepakatan dagang, pengembalian penjualan kedelai akan menjadi bahasan utama, melihat komoditas itu menjadi salah satu yang menjadi target utama dalam perang dagang.

“Kami ingin meyakinkan bahwa pembicaraan perdagangan mendatang akan memasukkan topik soal komoditas pertanian, yang normalnya kami ekspor ke China dan telah terkena dampak besar dari balasan tarif dari China,” ujar Censky.

Censky yang sebelumnya mengepalai Asosiasi Kedelai Amerika, mengatakan bahwa Presiden AS Donald Trump akan mengejar komitmen tinggi dari pembelian kedelai China, karena ingin memastikan bahwa China akan kembali melanjutkan pembelian.

Censky juga menyebut bahwa tindakan China, yang menaruh tarif pada kedelai AS sangat strategis, termasuk dalam niatnya merugikan Trump yang perpolitikannya mendapat dukungan penuh dari sektor pertanian.

Pada Juli lalu, Pemerintah AS juga pernah mengumumkan akan memberikan bantuan senilai US$12 miliar kepada petani yang mengalami kerugian lantaran terjebak dalam perang dagang. Pada Oktober, Menteri Pertanian AS Sonny Perdue mengatakan bahwa Pemerintah AS tidak punya rencana untuk memperpanjang bantuan tersebut pada 2019.
 

Tag : harga kedelai, perang dagang AS vs China
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top