PTBA Targetkan Proyek Gasifikasi Mulai Awal 2019

Emiten pertambangan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) menargetkan pembentukan joint venture (JV) proyek gasifikasi batu bara bersama PT Pertamina (Persero) dan Air Products and Chemicals, Inc. di Peranap, Riau, rampung pada awal 2019. Dengan demikian, pengerjaan penghiliran juga dapat dimulai.
Hafiyyan | 23 November 2018 19:37 WIB
Aktivitas penambangan batu bara PT Bukit Asam (Persero) Tbk di Tanjung Enim, Sumatra Selatan - Bloomberg/Dadang Tri

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten pertambangan PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) menargetkan pembentukan joint venture (JV) proyek gasifikasi batu bara bersama PT Pertamina (Persero) dan Air Products and Chemicals, Inc. di Peranap, Riau, rampung pada awal 2019. Dengan demikian, pengerjaan penghiliran juga dapat dimulai.

Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin menyampaikan, PTBA bersama dengan perusahaan mitra sedang mematangkan perencanaan proyek gasifikasi batu bara di Mulut Tambang Batubara Peranap, Riau. Diharapkan pembentukan JV dapat rampung pada awal 2019, sehingga proyek dapat dimulai.

“Mudah-mudahan awal tahun depan dimulai,” tuturnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (22/11/2018).

Poin-poin yang masih menjadi pembahasan di antara ialah pembagian porsi saham masing-masing dalam JV, nilai investasi proyek, dan rencana pendanaan. Di dalam perencanaan awal, gasifikasi batu bara akan diubah menjadi dimethyl ether (DME) dan syntetif natural gas (SNG).

Kapasitas produksi pabrik DME per tahun sebesar 400.000 ton, sedangkan kapasitas SNG sejumlah 50 million standard cubic feet per day (mmscfd). Arviyan menyampaikan, pengembangan proyek gasifikasi ini diharapkan mulai beroperasi pada 2022 atau paling lambat pada 2023.

Dengan pengoperasian proyek penghiliran tersebut, diharapkan dapat mensubtitusi produk liquified petroleum gas (LPG). Selama ini, Indonesia masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan LPG baik untuk industri maupun rumah tangga. Dari kebutuhan LPG sebesar 7 juta ton pada 2017, 70%-nya dipasok dari negara lain.

Dia menjelaskan, peranan PTBA dalam JV proyek penghiliran ini ialah sebagai penyuplai bahan baku batu bara. Adapun, Pertamina sebagai pihak pembeli (off taker), dan Air Product sebagai provider atau penyedia jasa teknologi.

“Di Peranap kami juga punya potensi batu bara yang besar, sehingga bisa dipakai untuk menyuplai kebutuhan bahan baku,” imbuhnya.

Pembentukan JV merupakan tindak lanjut perjanjian kerja sama antara PTBA, Pertamina, dan Air Products di Amerika Serikat pada 7 November 2018. Penandatanganan ini dilakukan oleh Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, serta Chairman, President & CEO Air Products Seifi Ghasemi, yang disaksikan Menteri BUMN Rini Soemarno.

Berjalan Paralel
Arviyan menyebutkan, proyek di Peranap akan berjalan paralel dengan proyek gasifikasi batu bara di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Saat ini, program tersebut memasuki tahap bankable feasibility study dan pembebasan lahan.

“Jadi, proyek gasifikasi di Tanjung Enim akan berada di Kawasan Industri berbasis batu bara yang kami kembangkan,” ujarnya.

Proyek yang bekerja sama dengan Pertamina, PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) ini direncanakan mulai pada Desember 2018 atau Januari 2019. Adapun, operasi komersial (Commercial Operation Date/ COD) ditargetkan pada November 2022.

Proyek ini akan menghasilkan tiga produk utama, yakni syn gas untuk bahan pupuk urea berkapasitas 570.000 ton per tahun, DME 400.000 ton per tahun, dan polypropelene 450.000 ton. Kebutuhan batu bara dari PTBA mencapai 9 juta ton per tahun.

"Ada peluang juga proyek ini akan menggunakan teknologi dari Air Products. Ini masih kami kaji," imbuhnya.

Tag : ptba, bukit asam
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top