Kinerja Emiten: Margin Perusahaan Rokok Berpotensi Lebih Besar

Pasar memperkirakan bahwa margin perusahaan rokok akan lebih tinggi pada 2019.
Hafiyyan | 21 November 2018 14:35 WIB
Pekerja melinting rokok sigaret kretek di salah satu industri rokok di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (31/5). - Antara/Destyan Sujarwoko

Bisnis.com, JAKARTA — Pasar memperkirakan bahwa margin perusahaan rokok akan lebih tinggi pada 2019.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Christine Natasya menyampaikan, dengan tidak adanya pertumbuhan cukai rokok, pasar meyakini margin perusahaan rokok akan lebih tinggi pada 2019. Sentimen ini tentunya menguntungkan PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) dan PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) sebagai pemimpin pasar.

GGRM diperkirakan akan menjadi emiten yang paling diuntungkan dengan kebijakan ini, karena memiliki target pasar luas di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Segmen pasar tersebut biasanya sensitif terhadap kenaikan harga.

“Dengan tarif cukai stabil, kenaikan harga jual rerata (average selling price/ASP) rokok tidak akan terlalu tinggi, tetapi margin perusahaan terkerek. Hal ini mendorong pertumbuhan laba bersih emiten,” tuturnya kepada Bisnis.

Pada 2019, HMSP diperkirakan hanya menaikkan ASP Sigaret Kretek Tangan (SKT) 3%, Sigaret Kretek Mesin 5%, dan Sigaret Putih Mesin 6%. Adapun, ASP produk SKT dan SKM GGRM juga diestimasi naik 3% dan 5%. 

Laba bersih HMSP pada 2019 diperkirakan naik menjadi Rp14,83 triliun dari 2018 sebesar Rp13,17 triliun. Adapun, laba bersih GGRM dalam waktu yang sama diprediksi meningkat menuju Rp10,59 triliun dari sebelumnya Rp8 triliun.

Namun demikian, Christine hanya memberikan prospek netral terhadap sektor rokok karena perubahan penetapan pembobotan Indeks LQ45 dan Indeks IDX30 yang mempertimbangkan kepemilikan saham publik. Peraturan yang berlaku Februari 2019 itu akan melempar posisi HMSP dan GGRM dari urutan 10 besar.

Secara keseluruhan, dia pun merekomendasikan hold terhadap saham HMSP dengan target harga Rp3.650, dan beli terhadap saham GGRM dengan target harga Rp93.000. Target harga itu berlaku sampai 12 bulan ke depan.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menyampaikan, tidak naiknya tarif cukai rokok pada 2019 tentunya memberikan sentimen positif bagi kinerja keuangan emiten. Dia merekomendasikan beli terhadap saham GGRM dan HMSP dengan target masing-masing Rp80.000 dan Rp4.000.

“Target itu berpeluang tercapai sampai akhir 2018,” imbuhnya.

Analis NH Korindo Sekuritas Joni Wintarja menuturkan, relaksasi tarif cukai membuat emiten dapat menyesuaikan kenaikan harga jual berdasarkan tingkat inflasi dan persaingan pasar. Di samping itu, marjin laba bersih berpotensi mengalami peningkatan.

Saham rokok favoritnya ialah GGRM dengan target harga Rp100.000 dalam 12 bulan ke depan. Nilai itu mencerminkan valuasi PER 19,5 kali. Adapun, rekomendasi HMSP ialah hold dengan target harga Rp4.225.

Selain 4 analis atau sekuritas di atas, pada November 2018 sejumlah 7 analis lainnya memperbarui pandangan mereka terhadap HMSP. Sejumlah 4 sekuritas merekomendasikan beli dengan kisaran target harga Rp4.180—4.850, dan 3 lainnya netral atau hold dengan target Rp4.000—4.100.

Sementara itu, 10 analis juga memperbarui pandangannya terhadap saham GGRM pada November 2018. Seluruhnya merekomendasikan beli dengan kisaran target harga saham Rp80.000—99.000.

Tag : emiten rokok, kinerja emiten
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top