Setelah KSO, Garuda Indonesia (GIAA) Berpeluang Akuisisi Sriwijaya Air?

Maskapai pelat merah, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., berpeluang mengakuisisi PT Sriwijaya Air menyusul kerja sama operasi yang diteken untuk keseluruhan operasional dan finansial Sriwijaya Group.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 15 November 2018  |  15:43 WIB
Setelah KSO, Garuda Indonesia (GIAA) Berpeluang Akuisisi Sriwijaya Air?
Penumpang bersiap menaiki pesawat maskapai penerbangan Garuda Indonesia di Bandara Frans Kaisiepo Biak, Papua, Selasa (29/10/2013). - Bisnis/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA—Maskapai pelat merah, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk., berpeluang melakukan akuisisi PT Sriwijaya Air menyusul kerja sama operasi yang diteken untuk keseluruhan operasional dan finansial Sriwijaya Group.

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei dan Jasa Konsultasi Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Gatot Trihargo menjalaskan bahwa Sriwijaya Air memiliki sejumlah kewajiban kepada Garuda Indonesia. Secara khusus, maskapai swasta itu memiliki kewajiban pembayaran kepada PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk. untuk pemeliharaan pesawat.

Gatot menjelaskan bahwa tujuan dari dilakukannya kerja sama operasi (KSO) antara PT Citilink Indonesia dengan Sriwijaya Air dan PT NAM Air yakni memastikan kewajiban Sriwijaya Group terhadap Garuda Indonesia Group terpenuhi. Oleh karena itu, pengelolaan operasional dan finansial bekerja sama dengan Citilink.

“Margin yang didapat dari hasil kerja sama tersebut nantinya akan digunakan untuk mencicil kewajiban,” ujarnya saat dihubungi Bisnis.com, Rabu (14/11/2018).

Selain kewajiban kepada Garuda Indonesia, Gatot menyebut Sriwijaya juga memiliki kewajiban terhadap PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. yang telah direstrukturisasi. Melalui KSO yang diteken, diharapkan perseroan mampu membayar secara rutin kepada bank pelat merah tersebut.

Untuk tahap awal, dia mengatakan KSO dilakukan untuk memastikan pemenuhan kewajiban berjalan dengan lancar. Namun, kerja sama tersebut dapat dikembangkan ke depannya termasuk melalui skema akuisisi Garuda Indonesia terhadap Sriwijaya Air.

“Tidak menutup kemungkinan [akuisisi]. Nanti lihat kondisi ke depan sambil dilakukan kajian,” jelasnya.

Gatot menambahkan KSO yang diteken oleh Citilink dengan Sriwijaya Air dan NAM Air tidak membebani perseroan. Sebaliknya, kerja sama tersebut mampu mengoptimalkan rute-rute yang dimiliki.

Sampai berita ini diturunkan, Direktur Utama Garuda Indonesia I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra belum menanggapi pertanyaan Bisnis.com mengenai peluang ke depan perseroan untuk melakukan akusisi Sriwijaya.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2018, Garuda Indonesia membukukan pendapatan usaha US$3,21 miliar. Jumlah tersebut naik dari US$3,11 miliar pada kuartal III/2017.

Di sisi lain, beban pokok penjualan dan pendapatan tercatat naik dari US$2,75 miliar pada kuartal III/2017 menjadi US$2,94 miliar pada kuartal III/2018. Dengan demikian, laba bruto yang dibukukan US$271,77 juta per 30 September 2018.

Dari situ, Garuda Indonesia membukukan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$114,08 juta pada 30 September 2018, atau turun 48,62% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Sementara itu, analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai KSO yang diteken dapat memperluas pangsa pasar Garuda Indonesia Group. Akan tetapi, secara keuangan tidak akan berdampak besar.

“Pertama, Garuda Indonesia masih merugi dan Sriwijaya Air masih kalah dibandingkan dengan maskapai lain seperti Air Asia atau Lion,” jelasnya.

William menyarankan agar Garuda Indonesia perlu mempersiapkan beberapa strategi untuk memanfaatkan jangkauan pasar yang bertambah. Dengan demikian, langkah strategis tersebut dapat memperbaiki kinerja keuangan perseroan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumn, garuda indonesia

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top