Depresiasi Rupiah, Garuda Maintenance (GMFI) Bidik Pasar Internasional

Emiten perawatan pesawat PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. membidik perluasan pasar dari maskapai regional dan internasional, memanfaatkan pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan bakar pesawat.
Dara Aziliya | 06 November 2018 20:45 WIB
PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk - Istimewa

Bisnis.com, TANGERANG – Emiten perawatan pesawat PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. membidik perluasan pasar dari maskapai regional dan internasional, memanfaatkan pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga bahan bakar pesawat.

Berdasarkan catatan emiten dengan sandi GMFI tersebut, kontribusi dari maskapai nondomestik pada pendapatan perseroan pada 2016 hanya sekitar 10%, sisanya didominasi oleh maskapai dalam negeri. Perseroan terus meningkatkan porsi dari maskapai asing.

Direktur Utama Garuda Maintenance Facility Aero Asia Iwan Joeniarto menyampaikan hingga kuartal III/2018, porsi pendapatan dari maskapai nondomestic telah menanjak ke level 30% . Kenaikan ini sejalan dengan upaya perseroan menggaet klien dari maskapai nonafiliasi.

“GMF akan lebih banyak mengembangkan pasar ke regional dan internasional. Dengan kondisi harga fuel naik dan kurs rupiah lemah, GMF harus mengembangkan pasarnya ke internasional di mana mereka tidak mempersoalkan currency,” ungkap Iwan di Cengkareng, Selasa (6/11).

Iwan menyampaikan pada tahun depan, dia menargetkan dapat mengantongi pendapatan dari maskapai asing hingga 50% dari total pendapatan perseroan. apalagi, sejak tahun lalu perseroan membukukan kontrak dengan sejumlah maskapai Low Cost Carrier (LCC).

Menurut Iwan, pasar LCC di negara lain sangat prospektif bagi perseroan karena jumlahnya yang sangat banyak dan trennya terus bermunculan. Salah satu maskapai yang diincar penambahan volumenya adalah IndiGo, maskapai LCC asal India.

Pada tahun lalu, IndiGo telah melakukan trial untuk perawatan oleh GMFI dan tahun ini perseroan telah mengantongi kontrak untuk maintenance 11 unit pesawat tersebut. Pada tahun depan, perseroan telah mengantongi kontrak untuk 24 unit pesawat.

Selain menjajaki pasar maskapai LCC, perseroan juga melaksanakan kerja sama dalam skema kemitraan (partnership) dengan rekan di beberapa negara.

Iwan menjelaskan saat ini perseroan sedang mengevaluasi kerja sama bisnis dengan Uni Emirat Arab. “Diskusinya sudah mengerucut denga calon partner di sana yang dalam hal ini mereka akan menyediakan hanggar, kami yang mengisi dan me-manage,” ungkap Iwan.

 Di Australia, Iwan menyampaikan perseroan sedang mengupayakan pembukaan kantor cabang untuk merambah pasar-pasar domestik di Australia. Di Negara Kanguru, perseroan akan terlebih dahulu membidik perawatan-perawatan ringan dan mengarahkan proses perawatan berat ke Indonesia.

Tag : kinerja emiten, garuda maintenance facility
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top