Harga Minyak Anjlok, Ini Penekannya

Harga minyak mentah anjlok pada akhir perdagangan Selasa (23/10/2018), setelah Arab Saudi menyampaikan pernyataan untuk memenuhi kekurangan suplai dan aksi penghindaran risiko menjalar di pasar global.
Renat Sofie Andriani | 24 Oktober 2018 07:18 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah anjlok pada akhir perdagangan Selasa (23/10/2018), setelah Arab Saudi menyampaikan pernyataan untuk memenuhi kekurangan suplai dan aksi penghindaran risiko menjalar di pasar global.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Desember diperdagangkan di level US$66,04 per barel pada pukul 4.41 sore waktu setempat setelah anjlok lebih dari 4%  atau US$2,93 dan mengakhiri sesi Selasa di level US$66,43 per barel di New York Mercantile Exchange.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Desember anjlok 4,3% dan berakhir di level US$76,44 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium US$10,01 terhadap WTI.

Dilansir Bloomberg, Menteri Energi Saudi Khalid Al-Falih mengatakan OPEC dan sekutu-sekutunya dapat menghasilkan minyak lebih banyak demi memenuhi permintaan dan mengganti kekurangan yang timbul akibat sanksi terhadap Iran.

Sementara itu, di Amerika Serikat (AS), American Petroleum Institute (API) dikabarkan telah melaporkan kenaikan sebesar 9,88 juta barel dalam persediaan minyak mentah pekan lalu.

Itu akan menjadi peningkatan terbesar sejak Februari 2017 jika data Energy Information Administration (EIA) mengonfirmasikannya pada Rabu (24/10) waktu setempat.

“Kenaikan minyak mentah kemungkinan akan dikarenakan berlanjutnya ekspor yang rendah serta periode musim pemeliharaan,” kata James Williams, presiden periset energi WTRG Economics, seperti dikutip Bloomberg.

Laporan bahwa Arab Saudi memiliki kemampuan untuk meningkatkan produksi juga dipandang menjadi sentimen negatif.

Pada saat yang sama, stok minyak terperangkap dalam aksi jual ekuitas pada Selasa. Indeks Eksplorasi & Produksi Minyak & Gas pada S&P 500 turun 4,9%. Indeks ini telah menurun hampir 12% sejauh ini pada bulan Oktober, menuju kinerja bulanan terburuk sejak Desember 2015.

“Ada beberapa alasan untuk penurunan dalam minyak mentah, utamanya adalah penghindaran aset berisiko di seluruh pasar finansial,” kata Bob Yawger, direktur divisi berjangka di Mizuho Securities USA.

“Anda melihat pelaku pasar menghindari ruang komoditas dan ekuitas, kemungkinan besar untuk menempatkan uang mereka pada aset safe haven.”

Laporan API juga dikabarkan menunjukkan suplai bensin dan minyak distilat masing-masing turun lebih dari 2 juta barel pekan lalu, sementara pasokan minyak mentah di Cushing, Oklahoma naik.

Persediaan minyak mentah AS kemungkinan naik 3,7 juta barel pekan lalu, menurut survei analis Bloomberg. Sementara itu, persediaan di Cushing kemungkinan meningkat 1,5 juta barel pekan lalu, menurut perkiraan yang dihimpun oleh Bloomberg

Tag : Harga Minyak
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top