Harga Minyak AS Mandek di Bawah Level US$70 Per Barel

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) masih mengakhiri pergerakannya di bawah level US$70 per barel pada sesi perdagangan keempat berturut-turut, di tengah isu geopolitik yang membelit Arab Saudi dan ekspansi jumlah persediaan minyak mentah di AS.
Renat Sofie Andriani | 23 Oktober 2018 07:18 WIB
Prediksi Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) masih mengakhiri pergerakannya di bawah level US$70 per barel pada sesi perdagangan keempat berturut-turut, di tengah isu geopolitik yang membelit Arab Saudi dan ekspansi jumlah persediaan minyak mentah di AS.

Pada perdagangan Senin (22/10/2018), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak November ditutup di level US$69,17 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak WTI untuk kontrak teraktif Desember berakhir di level US$69,36.

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Desember naik tipis 5 sen dan berakhir di level US$79,83 per barel di ICE Futures Europe exchange. Minyak acuan global ini diperdagangkan premium US$10,47 terhadap WTI untuk bulan yang sama.

Dilansir Bloomberg, Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih meredakan kekhawatiran bahwa eksportir minyak terbesar dunia itu akan menahan pasokan demi menghadapi sanksi yang datang dari kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Namun, setiap gangguan terhadap output dari Saudi atau produsen besar lainnya akan ditahan oleh produsen AS yang telah memompa lebih dari 10,5 juta barel per hari sejak April.

Stok minyak mentah AS kemungkinan bertambah 3 juta barel pekan lalu menuju kenaikan beruntun terpanjang sejak Maret 2017, menurut survei Bloomberg.

“Pasar tampaknya berada dalam semacam pola menahan,” kata Thomas Finlon, direktur Energy Analytics Group LLC.

Awal bulan ini, harga minyak mentah turun dari level tertingginya dalam empat tahun akibat prospek permintaan yang semakin gelap dan pergolakan di pasar ekuitas yang mendorong investor menghindari aset berisiko.

Meski Presiden AS Donald Trump memuji laporan resmi pemerintah Arab Saudi tentang kematian Khashoggi, pasar minyak tetap berhati-hati karena banyak pemimpin mempertanyakan penjelasan ihwal Khashoggi secara tidak sengaja terbunuh dalam sebuah perkelahian.

Sementara itu, sejumlah pejabat Turki mengatakan bahwa kolumnis Washington Post tersebut telah dibunuh pada saat mengunjungi konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki awal bulan ini.

"Pengakuan Saudi bahwa Khashoggi meninggal di dalam konsulat mungkin membuat menyebabkan sedikit keresahan tentang bagaimana pihak Barat bereaksi,” kata Warren Patterson, pakar strategi komoditas di ING Bank NV.

“Tapi Al-Falih mengatakan bahwa mereka akan terus meningkatkan output dan tidak akan menggunakan minyak sebagai senjata tidak konstruktif untuk harga minyak.”

Kepada kantor berita TASS, Al Falih menyatakan Arab Saudi tidak berniat mengulangi embargo minyak tahun 1970-an, dimana Saudi dan beberapa sekutu regional menekan pasokan ke AS dan Eropa sebagai pembalasan atas dukungan mereka untuk Israel.

Pihak kerajaan, lanjut Al Falih, akan meningkatkan produksi menjadi 11 juta barel per hari dalam waktu dekat dan memiliki kemampuan meningkatkannya hingga mencapai 12 juta barel jika pasar membutuhkan.

Pada saat yang sama, aktivitas pengeboran Amerika berekspansi untuk pekan kedua terlepas dari penurunan dramatis dalam pekerjaan yang diperlukan untuk menempatkan sentuhan akhir pada sumur baru. Lebih dari 125 rig tambahan telah dikerahkan di seluruh ladang minyak AS tahun ini.

Tag : Harga Minyak
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top