CALON EMITEN: Dewata Freight International Incar Kontrak Rp100 Miliar

Calon emiten sektor logistik pelayaran PT Dewata Freight International Tbk. menyebut tengah mengincar kontrak jumbo senilai Rp100 miliar dari salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Dara Aziliya | 22 Oktober 2018 20:23 WIB
Karyawan melintas di dekat monitor Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (16/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Calon emiten sektor logistik pelayaran PT Dewata Freight International Tbk. menyebut tengah mengincar kontrak jumbo senilai Rp100 miliar dari salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Manajemen masih belum mau menyebutkan nama perusahaan BUMN tersebut, tetapi Dewata Freight International telah masuk ke dalam tiga besar shortlisted calon pemenang tender. Rencananya, pengumuman pemenang tender akan dilaksanakan pada akhir Oktober 2018.

Direktur Utama Dewata Freight International Bimada menyampaikan perusahaan percaya diri untuk dapat memenangkan kontrak tersebut. Apalagi, dengan menempuh penawaran umum saham perdana (IPO), struktur modal perseroan akan semakin kuat.

“Pasar terbesar kami merupakan perusahaan-perusahaan BUMN, kontribusinya 80%—90% [pada pendapatan]. Untuk mendapatkan kontrak dari BUMN, struktur modal kami harus kuat karena perusahaan bisa tidak memberikan uang muka atau terkadang pembayarannya lebih lama,” ungkap Bimada di Jakarta, Senin (22/10).

Bimada menjelaskan sebagian aktivitas bisnis perseroan bergerak pada EPC (Engineering, Procurement, and Construction) perusahaan-perusahaan pelat merah yang bergerak pada sektor konstruksi. Klien swasta perseroan yang cukup besar berasal dari manufaktur dan pembangkit listrik.

Direktur Keuangan Dewata Freight International Nur Hasanah menyampaikan pada tahun ini perseroan menargetkan raupan kontrak sebesar Rp80 miliar. Target tersebut sudah dipenuhi 100% oleh perseroan per September 2018.

Nur menjelaskan dengan raupan target kontrak tersebut, perseroan optmistis pendapatan pada 2018 dapat mencapai Rp187 miliar atau meningkat 27,93% dari pendapatan perseroan tahun lalu yang sebesar Rp146,17 miliar. Nur memaparkan pada tahun ini perseroan telah membukukan sejumlah kontrak penting misalnya proyek di Jailolo yang nilainya mencapai Rp10 miliar.

Perseroan juga terlibat kontrak pembangkit listrik tenaga gas berkapasitas 15MW di Lampung dengan pendanaan sebesar Rp195 miliar dan Tarakan senilai Rp70 miliar. Perseroan juga belum lama ini mendapatkan kontrak pengangkutang produk-produk Grup Wings.

Pada tahun depan, perseroan menargetkan belanja modal sebesar Rp20 miliar—Rp40 miliar, yang disesuaikan dengan raupan kontrak perseroan.

Sebagaimana diketahui, perseroan akan melaksanakan IPO dengan mepelas 300 juta saham baru dengan rentang harga penawaran Rp120—Rp165 dan rasio PE 8,5—10 kali.

Tag : emiten, ipo
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top