Penggunaan Mata Uang Alternatif Dinilai Bisa Menopang Rupiah

Pelemahan nilai tukar rupiah kian parah meskipun indeks dolar Amerika Serikat juga melemah. Pemerintah dinilai bisa menggunakan mata uang alternatif untuk topang pelemahan rupiah.
Mutiara Nabila | 11 Oktober 2018 19:21 WIB
Perbandingan kurs rupiah tahun 1998, 2008, dan 2018. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah kian parah meskipun indeks dolar Amerika Serikat juga melemah. Pemerintah dinilai bisa menggunakan mata uang alternatif untuk topang pelemahan rupiah.

Pada Kamis (11/10/2018), nilai tukar rupiah tercatat melemah 43 poin atau 0,28% menjadi Rp15.243 per dolar AS dan mengalami pelemahan hingga 10,79% selama 2018 berjalan.

Sedangkan, indeks dolar AS, yang mengukur kekuatannya di hadapan sekeranjang mata uang utama, melemah 0,19% menjadi 95,33.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, salah upaya yang dapat dilakukan pemerintah untuk menopang rupiah adalah dengan mendorong transaksi perdagangan internasional dengan menggunakan mata ulang alternatif. Hal ini diperlukan untuk mengurangi beban perekonomian nasional.

“Mata uang yuan renmimbi China misalnya, dapat menjadi alternatif. Hal ini mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia,” ungkap Assyifa dalam rilis resmi yang diterima Bisnis, Kamis (11/10/2018).

Pelemahan nilai tukar rupiah secara terus-menerus dinilai Assyifa sudah mulai menekan perekonomian Indonesia. Salah datu dampaknya adalah semakin membebani transaksi perdagangan yang menggunakan mata uang dolar AS.

“Dengan depresiasi rupiah yang semakin parah, pemerintah sebaiknya mempertimbangkan penggunaan mata uang alternatif pengganti dolar AS untuk transaksi perdagangan internasional,” lanjutnya. 

Berdasarkan data Statistik Kementerian Perdagangan, nilai impor nonmigas dari China mencapai 27,4% dari total perdagangan selama Semester I 2018. Pemerintah perlu mendorong perusahaan pengimpor yang melakukan perdagangan dari China untuk melakukan pembayaran dalam yuan renminbi. 

Selain itu, depresiasi nilai rupiah terhadap yuan renminbi lebih rendah apabila dibandingkan dengan dolar AS. Sejak 1 Januari 2018, nilai rupiah terdepresiasi di hadapan yuan renminbi sebesar 5,47%. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan nilai depresiasi rupiah terhadap dolar AS sebesar 10,79%. 

“Mitra dagang utama Indonesia lainnya, seperti Jepang, Thailand dan Singapura, memiliki porsi perdagangan yang cukup signifikan pula dengan China. Sehingga tidak menutup kemungkinan negara-negara tersebut juga terbuka untuk mempertimbangkan transaksi menggunakan yuan renminbi,” papar Assyifa.

Adapun, Bank Indonesia (BI) juga dapat terus mendorong kebijakan yang sudah bergulir sebelumnya, dengan mendorong transaksi bilateral dengan Thailand dan Malaysia untuk menggunakan mata uang lokal, yaitu Ringgit Malaysia dan Baht Thailand.

“Dengan mengintensifkan transaksi dengan mata uang tersebut, cadangan devisa tidak akan mengalami pergerusan sebesar transaksi perdagangan internasional dengan menggunakan dolar AS.”

Tag : Gonjang Ganjing Rupiah
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top