IMF Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global, Harga Minyak Turun

Harga minyak mengalami penurunan setelah International Monetary Fund menurunkan prediksi pertumbuhan globalnya. Namun, masih ada pendorong harga yang muncul ketika badai Michael di Amerika Serikat berpotensi menahan 40% produksi.
Mutiara Nabila | 10 Oktober 2018 21:15 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mengalami penurunan setelah International Monetary Fund menurunkan prediksi pertumbuhan globalnya. Namun, masih ada pendorong harga yang muncul ketika badai Michael di Amerika Serikat berpotensi menahan 40% produksi.

Pada perdagangan Rabu (10/10), harga minyak Brent turun tipis 0,12 poin atau 0,14% menjadi US$84,88 per barel dan mencatatkan kenaikan harga hingga 26,93% secara year-to-date (ytd). Harga turun setelah sempat naik 1,3% ke US$85 per barel pada penutupan perdagangan Selasa (9/10).

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ikut mengalami penurunan 0,22 poin atau 0,29% menjadi US$74,74 per barel dan membukukan kenaikan hingga 23,70% sepanjang 2018 berjalan.

International Monetary Fund (IMF) menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi global untuk 2018 dan 2019 pada Selasa (10/10) sehingga menimbulkan kekhawatiran akan penyusutan permintaan produk minyak mentah.

Analis Asia Trade Poin Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan bahwa IMF telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global di tahun 2018 dan 2019 mendatang menjadi 3,7% dari sebelumnya 3,9% yang diumumkan pada April lalu.

“Revisi IMF ini nantinya akan berdampak pada permintaan minyak, tetapi sanksi AS kepada Iran pada bulan November mendatang tampaknya masih menjadi katalis positif bagi harga minyak,” ujarnya, dikutip dalam laporan hariannya, Rabu (10/10).

Tekanan perdagangan dan kenaikan tarif impor mengambil alih alur perdagangan, dengan pasar negara berkembang kini harus berjuang keras dengan kondisi pengetatan finansial dan capital outflow.

“Harga naik di saat paling oportunistis melihat narasi pertumbuhan global yang memudar,” kata Stephen Innes, Kepala Perdagangan Asia – Pasifik di Oanda, dikutip dari Reuters, Rabu (10/10/2018).

Di AS, sekitar 40% produksi minyak mentah hariannya akan turun dari Teluk Meksiko karena ada evakuasi dan penutupan kilang dampak badai Michael yang mulai mendekat ke lepas pantai Florida. Produsen minyak itu telah mengevakuasi sekitar 75 orang.

Terminal minyak mentah swasta terbesar di AS, Louisiana Offshore Oil Port LLC, kini juga menahan operasinya di terminal bawah lautnya. Fasilitas tersebut merupakan satu-satunya di AS yang bisa diisi penuh dengan kapasitas mencapai 2 juta barel.

Berdasarkan data Biro Keamanan dan Penegakan Lingkungan AS, perusahaan tersebut telah menghentikan produksi harian yang berjumlah 670.000 barel minyak mentah dan 726 juta kaki kubik gas alam pada Selasa (9/10).

Selanjutnya, ekspor minyak mentah Iran juga anjlok pada pekan pertama Oktober karena pembeli sudah mulai mencari alternatif sebelum sanksi AS mulai efektif berlaku pada 4 November mendatang.

Ekspor minyak Iran pada minggu pertama Oktober tercatat sebesar 1,1 juta barel per hari atau lebih rendah dari periode bulan April sebesar 2,5 juta barel per hari. Ekspor Iran yang mengalami penurunan itu memberikan sinyal akan potensi pengetatan pasokan minyak global dalam waktu dekat. 

Data cadangan minyak mentah AS dari pemerintah dan industri akan ditunda rilisnya satu hari pekan ini karena ada hari libur pada Senin (8/10) lalu. American Petroleum Institute (API) merilis datanya pada Selasa (9/10), dan baru akan dikonfirmasi oleh Energy Information Administration (API) pada Kamis (11/10).

Analis PT Monex Invesindo Futures Faisyal memproyeksikan bahwa setelah komentar IMF itu, harga minyak bisa melemah ke level support terdekat di US$72,20 – US$73 per barel. Namun, harganya berpeluang naik karena produksi di AS yang terhenti oleh datangnya bada Michael di Teluk Meksiko.

Jika kembali mengalami kenaikan, diperkirakan harga minyak WTI akan berada di kisaran antara US$75,00 – US$76,20 per barel.

Tag : Harga Minyak
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top