Saham Blue Chip Jadi Tenaga IHSG Saat Pasar Asia Lesu

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memperpanjang penguatannya pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Selasa (9/10/2018), dengan saham blue chip sebagai pendorong utama.
Renat Sofie Andriani | 09 Oktober 2018 17:49 WIB
Karyawan melintas di bawah layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (13/9/2018). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil memperpanjang penguatannya pada akhir perdagangan hari kedua berturut-turut, Selasa (9/10/2018), dengan saham blue chip sebagai pendorong utama.

Berdasarkan data Bloomberg, IHSG ditutup menguat 0,62% atau 35,72 poin di level 5.796,79, setelah rebound dan berakhir dengan kenaikan 0,51% atau 29,14 poin di posisi 5.761,07 pada perdagangan Senin (8/10). 

Indeks mulai melanjutkan penguatan setelah dibuka naik 0,19% atau 10,84 poin di level 5.771,92 pagi tadi, dan berakhir cukup kuat meskipun sepanjang perdagangan bergerak cenderung tipis. Sepanjang perdagangan hari ini, IHSG bergerak pada level 5.756,24-5.796,79.

Sektor aneka industri (+2,12%) dan industri dasar (+1,58%) memimpin penguatan di antara delapan sektor mendongkrak tenaga IHSG di akhir perdagangan, sedangkan sektor tambang memilih menetap sendiri di zona merah dengan melemah 1,18%.

Dari 605 saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 187 saham menguat, 192 saham melemah, dan 226 saham stagnan.

Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang naik 1,28% menjadi pendorong utama terhadap penguatan IHSG, diikuti saham ASII (+2,55%), TLKM (+1,99%), dan BMRI (+2,42%).

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja menargetkan pertumbuhan permintaan kredit di atas 12% hingga akhir tahun ini, lebih tinggi dari kisaran 10%-11% yang diperkirakan sebelumnya.

“Permintaan dari sektor korporasi dan infrastruktur membantu mendukung pertumbuhan,” ujar Setiaatmadja, kepada awak media di Jakarta, seperti dikutip Bloomberg.

Sejalan dengan IHSG, indeks Bisnis-27 memperpanjang penguatannya bahkan naik lebih dari 1% hari ini. Indeks Bisnis-27 ditutup menanjak 1,12% atau 5,61 poin di level 505,48.

Sementara itu, indeks saham lainnya di Asia mayoritas terpantau melemah sore ini, dengan indeks SE Thailand (-0,15%), indeks FTSE Malay KLCI (-0,09%) dan indeks FTSE Straits Time Singapura (-0,47%).

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing berakhir melemah 1,76% dan 1,32%, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 China ditutup variatif, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong berakhir turun 0,11%.

Secara keseluruhan, bursa saham Asia turun untuk sesi perdagangan hari ketujuh berturut-turut saat meningkatnya friksi perdagangan antara China dan Amerika Serikat (AS) berikut kenaikan imbal hasil obligasi AS terus membebani prospek untuk kawasan ini.

Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,9% ke posisi 157,41 pada pukul 4.18 sore waktu Hong Kong, menuju level penutupan terendahnya dalam hampir 15 bulan.

Bursa saham memperpanjang pelemahan setelah Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksinya untuk pertumbuhan ekonomi global, untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun, akibat tensi perdagangan.

“Ekuitas telah bergulat dengan kenaikan imbal hasil dan para pedagang saat ini kembali fokus pada AS-China, yang merupakan risiko besar,” ujar Stephen Innes, kepala perdagangan untuk Asia Pasifik di Oanda Corp., seperti dikutip Bloomberg.

Saham-saham pendorong IHSG:

Kode

(%)

BBCA

+1,28

ASII

+2,55

TLKM

+1,99

BMRI

+2,42

Saham-saham penekan IHSG:

 Kode

(%)

PGAS

-4,50

PTBA

-4,05

KLBF

-3,10

GGRM

-1,07

Sumber: Bloomberg

Tag : IHSG
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top