Depresiasi Rupiah, HK Metals (HKMU) Genjot Ekspor

Emiten manufaktur dan perdagangan logam PT HK Metals Utama Tbk. berencana memperbesar porsi penjualan ekspor perseroan, merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang terus terjadi.
Dara Aziliya | 09 Oktober 2018 16:16 WIB
Jajaran direksi MPRO dan HKMU bersama-sama membuka perdagangan Bursa Efek Indonesia, Selasa (9/10/2018) sekaligus menandakan pencatatan perdana saham kedua perseroan sebagai emiten ke-41 dan ke-42. Bisnis - Emanuel B. Caesario

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten manufaktur dan perdagangan logam PT HK Metals Utama Tbk. berencana memperbesar porsi penjualan ekspor perseroan, merespons pelemahan nilai tukar rupiah yang terus terjadi.

Berdasarkan data perseroan, emiten yang baru saja melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa (9/10/2018) tersebut masih mengandalkan pasar lokal untuk meningkatkan penjualan. Porsi ekspor masih cukup kecil yaitu pada kisaran 20%.

Direktur HK Metals Utama Yudhi Sudarmanto menyampaikan dari porsi ekspor yang sebesar 20% tersebut, perseroan menargetkan kontribusi pengapalan ke luar negeri dapat mencapai 40% sampai 2019 mendatang.

“Kemungkinan akan kami naikkan sampai 40% hingga 2019, dengan kondisi dolar yang seperti ini. Perluasan ekspor itu akan ke Kanada. Mereka sudah menunggu untuk membeli lumunium extrusion. Total volume ekspor yang sudah berjaan sekarang addalah 100—120 ton per bulan,” ungkap Yudhi di Jakarta, Selasa (9/10/2018).

Yudhi mengatakan, potensi permintaan dai Kanada hampir menyerupai pembelian dari Amerika Serikat. Adapun, perseroan telah mengekspor produknya ke beberapa negara seperti Belanda, Amerika Serikat, dan Turki.

Kendati demikian, emiten dengan kode saham HKMU itu menyebut tetap akan fokus menggarap pasar ekspor karena permintaan dalam negeri terus bertumbuh, dan kebutuhan branding merek-merek produk perseroan.

Terkait dengan pelemahan nilai tukar rupiah, Direktur HK Metals Utama Pratama Girindra Wirawan menyampaikan dampak pada pereseroan tidak terlalu signifikan mengingat jumlah bahan baku yang dibeli dalam dolar tidak terlalu besar.

Berdasarkan catatan perseroan, entitas anak yaitu PT Handal Aluminium Sukses membukukan pengeluaran dalam dolar AS untuk pembelian bahan baku hanya sebesar 15% dari total COGS perseroan.  “Selain itu, harga aluminium [yang merupakan produk HKMU] juga fluktuatif. Kalau dolar AS naik signifikan, pasar akan menyesuaikan. Pada Juni 2018 kemarin misalnya, harga aluminium sudah mengalami kenaikan,” jelas Pratama.

Pada tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan pada kisaran Rp935 miliar dengan penambahan kontribusi dari ekspor ke Kanada dan meningkatnya sumbangan dari Handal Aluminium Sukses. Laba bersih perseroan diprediksi dapat menyentuh Rp80 miliar.

Tag : bei, ipo
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top