Tambang Utama Aluminium di Brasil Bakal Beroperasi Lagi, Harga Anjlok

Harga aluminium di bursa London kembali terperosok lebih dari 3% pada perdagangan setengah hari setelah pengadilan di Brasil menyetujui hasil pengukuran limbah yang membuat pertambangan alumina terbesar di dunia bisa kembali melanjutkan produksinya.
Mutiara Nabila | 08 Oktober 2018 15:39 WIB
Ilustrasi. - JIBI/Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA—Harga aluminium di bursa London kembali terperosok lebih dari 3% pada perdagangan setengah hari setelah pengadilan di Brasil menyetujui hasil pengukuran limbah yang membuat pertambangan alumina terbesar di dunia bisa kembali melanjutkan produksinya.

Norsk Hydro telah kembali diberikan izin dari Brasil untuk menggunakan teknologi baru untuk memperpanjang umur area pembuangan di pertambangan Alunorte yang bermasalah. Tambang tersebut merupakan yang terbesar di dunia. Alhasil, upaya pembukaan tambang itu bisa memulai kembali kapasitas produksi sebanyak 50%.

Analis Argonaut Securities Helen Lau mengatakan bahwa China saat ini bisa meningkatkan ekspornya untuk mengisi kesenjangan pasokan dari penutupan Alunorte. “Hal itu menumbuhkan spekulasi aksi jual,” ujarnya dilansir dari Reuters, Senin (8/10/2018).

Pada perdagangan Senin (8/10), harga aluminiun di London Metal Exchange (LME) merosot selama tiga sesi, anjlok 3,6% menjadi US$2.035 per ton.

Sebelumnya, harga aluminium sempat menyentuh US$2.267 per ton, tertinggi sejak Juni pada ekspektasi bahwa penutupan pertambangan alumina terbesar di dunia itu akan menambah tekanan pada penyusutan pasokan global dalam hingga beberapa bulan.

Kenaikan harga alumina sebelumnya turut membantu harga aluminium naik. Harga alumina melambung ke US$620 per ton dari US$459 per ton pada sepekan sebelumnya karena adanya ekspektasi bahwa Alunorte akan ditutup hingga tahun depan dan semakin menyusutkan suplai di pasar.

Selain itu, saham china juga anjlok tajam pada Senin (8/10) karena Beijing mengumumkan bahwa pihaknya akan memangkas jumlah tunai yang bisa dimiliki bank sebagai aset yang menjadi tanda bahwa investor kini makin khawatir akan perang dagang AS dan China yang makin memanas.

Indeks dolar AS juga menguat di hadapan yuan China yang menambah pelemahan mata uang Negeri Panda karena pembuat kebijakan domestiknya memperbolehkan yuan untuk terus melemah, meskipun tidak merosot setajam yang diperkirakan.

Perdagangan logam industri itu juga diperkirakan akan emlunak dan lebih volatil sepanjang pekan ini karena adanya pertemuan industri dan pertambangan sektor logam London atau disebut pekan LME.

Tag : aluminium
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top