Kekhawatiran Geopolitik, Aksi Merger & Akuisisi Global Dapat Melambat

Aksi merger dan akuisisi (M&A) global dapat melambat tajam akibat meningkatnya kekhawatiran geopolitik, menurut sebuah survei yang dilakukan Ernst & Young LLP.
Renat Sofie Andriani | 08 Oktober 2018 11:08 WIB
Merger - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi merger dan akuisisi (M&A) global dapat melambat tajam akibat meningkatnya kekhawatiran geopolitik, menurut sebuah survei yang dilakukan Ernst & Young LLP.

Minat atas aksi korporasi tersebut berada di level terendahnya dalam empat tahun, dengan hanya 46% eksekutif yang berencana melakukan pembelian dalam 12 bulan ke depan, menurut survei terhadap lebih dari 2.600 eksekutif perusahaan di 45 negara.

Angka itu lebih rendah dari raihan sebanyak 56% eksekutif dalam survei oleh konsultan multinasional tersebut tahun lalu.

Pelambatan ini mungkin hanya sementara dan alasan strategis untuk aksi itu masih tetap kuat. Aksi korporasi ini diprediksi akan meningkat pada paruh kedua tahun 2019.

“Ketidakpastian geopolitik, perdagangan, dan tarif akhirnya membuat sejumlah pihak yang terlibat untuk mengambil jeda,” ujar Steve Krouskos, wakil ketua layanan konsultasi transaksi global Ernst & Young (EY), dalam laporan tersebut, seperti dikutip Bloomberg, Senin (8/10/2018).

“Terlepas dari laba paruh pertama yang lebih kuat dari yang diantisipasi dan keharusan strategis yang tak terbantahkan untuk adanya transaksi, kita dapat melihat tahun ini akan berakhir dengan aksi M&A yang jauh lebih lesu dibandingkan dengan sebelumnya.”

EY adalah salah satu dari sejumlah lembaga yang memperingatkan mengenai potensi pelambatan aksi M&A. Transaksi lintas batas besar, yang memicu ledakan dalam aktivitas ini dalam lima tahun terakhir, kemungkinan akan melambat karena dampak dari perang dan peraturan perdagangan, menurut JPMorgan Chase & Co. pada bulan September.

Perusahaan-perusahaan mengumumkan transaksi senilai sekitar US$3 triliun dalam sembilan bulan pertama tahun ini, menurut data yang dihimpun oleh Bloomberg.

Raihan ini akan menempatkan 2018 di jalur yang berpotensi mengalahkan total capaian senilai US$4,1 triliun pada tahun 2007, kecuali ada pelambatan tajam pada kuartal keempat.

Perusahaan-perusahaan mengambil lebih banyak waktu untuk meninjau portofolio mereka di tengah ketidakpastian dan kemungkinan akan melepaskan aset lebih banyak lagi, menurut survei yang sama.

Hal ini mungkin menjadi pertanda baik untuk kegiatan ekuitas swasta, dengan sekitar 31% dari pelakunya memperkirakan buyout firm akan menjadi pengakuisisi utama pada 2019.

“Kenaikan modal swasta, termasuk ekuitas swasta, super funds, sovereign wealth funds (dana kekayaan negara), dan modal ventura perusahaan, telah secara fundamental membentuk kembali bentuk lingkungan pendanaan dan akan membantu menyegarkan aktivitas M&A di masa depan,” tambah Krouskos.

Hasil negosiasi Brexit adalah perhatian utama bagi para eksekutif yang berpartisipasi dalam survei ini, jelas EY. Sekitar 41% eksekutif mengatakan akan lebih memilih untuk melihat perjanjian perdagangan bebas yang serupa dengan Swiss, antara Inggris dan Uni Eropa ketika mereka berpisah.

Terlepas dari ketidakpastian seputar Brexit, Inggris adalah pilihan No. 2 untuk para eksekutif yang disurvei dalam hal transaksi M&A, naik dari posisi kelima dalam survei bulan April.

Tag : Merger & Akuisisi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top