Proyeksi SUN Sepekan: Investor Agar Maksimalkan Potensi Penurunan Harga pada Awal Pekan.

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa sepanjang pekan ini, yield surat utang negara atau SUN acuan 10 tahun diprediksi bergerak pada rentang 8,24% - 8,42%. 
Emanuel B. Caesario | 08 Oktober 2018 16:47 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com
Bisnis.com, JAKARTA -- Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa sepanjang pekan ini, yield surat utang negara atau SUN acuan 10 tahun diprediksi bergerak pada rentang 8,24% - 8,42%. 
Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, mengatakan bahwa hal tersebut didasarkan pada asumsi bahwa yield US Treasury 10 tahun diproyeksi bergerak pada kisaran 3,14% - 3,26% sedangkan CDS 5 tahun Indonesia diperkirakan berada pada rentang 135 – 145 poin. 
Selain itu, determinan lainnya yaitu nilai tukar  rupiah terhadap dolar AS yang pada minggu ini diperkirakan bergerak pada level Rp15.038 – 15.238. 
Sentimen negatif bagi SUN di pasar sekunder pada minggu ini masih berasal dari kekhawatiran pasar terkait dengan rancangan APBN Italia, harga minyak mentah dunia, dan minimnya sentimen positif dari data ekonomi domestik. 
Di sisi lain, sentimen positif diperkirakan didorong relatif terbatasnya rilis data krusial ekonomi AS pada minggu ini dibandingkan dengan minggu sebelumnya. 
Fokus investor terhadap data ekonomi AS pada minggu ini adalah inflasi AS per September 2018 yang diproyeksi menurun. 
Meski investor perlu waspada, berdasarkan analisis sederhana menggunakan data historis menunjukkan bahwa inflasi AS (YoY) merupakan lagging indicator dari harga minyak mentah dunia (Brent ataupun WTI). 
Harga minyak mentah dunia yang cenderung menurun pada bulan Agustus 2018 (dibandingkan Juli 2018) diperkirakan membuat inflasi (YoY) AS pada September 2018 menurun. 
Menurunnya inflasi AS pada akhirnya berpotensi mendorong penurunan yield US Treasury dan indeks dolar AS.  Dengan demikian, harga SUN di pasar sekunder pada minggu ini diperkirakan cenderung tertekan pada awal pekan sebelum kemungkinan rebound pada pertengahan dan akhir pekan ini. 
Hal tersebut dapat dimanfaatkan oleh investor untuk melakukan pembelian secara bertahap (gradually) di saat penurunan harga atau berpartisipasi dalam lelang SUN minggu ini sebelum merealisasi profit pada pertengahan atau akhir pekan. 
"Short-term trading menjadi pilihan yang paling realistis di tengah proyeksi tren kenaikan yield atau penurunan harga SUN di pasar sekunder hingga akhir tahun ini," kata Dhian dalam riset harian, Senin (8/10/2018).
Berdasarkan perkembangan saat ini, perincian dari proyeksi arah pergerakan harga SUN di pasar sekunder dan sentimennya menurut Dhian adalah sebagai berikut:
Senin: Hari ini, harga SUN di pasar sekunder diperkirakan bervariasi dengan kecenderungan melemah. 
Sentimen negatif didorong oleh terus meningkatnya yield US Treasury khususnya tenor 10 tahun pasca turunnya pengangguran AS dan proyeksi melemahnya rupiah pada perdagangan hari ini pasca turunnya cadangan devisa Indonesia.
Selasa: Harga SUN di pasar sekunder diperkirakan melanjutkan pelemahan dibandingkan dengan hari sebelumnya di mana sentimen negatif utamanya berasal dari lelang SUN.
Rabu: Harga SUN di pasar sekunder diperkirakan meningkat dibandingkan dengan hari sebelumnya. Sentimen positif utamanya didorong oleh minimnya rilis data ekonomi AS pada perdagangan Selasa (waktu AS).
Kamis: Harga SUN di pasar sekunder diperkirakan melanjutkan peningkatan. Sentimen positif utamanya didorong oleh proyeksi turunnya inflasi produsen (PPI) AS per September 2018.
Jumat: Harga SUN di pasar sekunder diperkirakan kembali meningkat. Sentimen positif utamanya didorong oleh proyeksi turunnya inflasi konsumen (CPI) AS per September 2018. 
Tag : Obligasi, pasar obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top