Emisi Obligasi Kian Mahal

Korporasi harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar tingkat kupon emisi surat utang baru yang semakin tinggi pada kuartal III/2018 sejalan dengan melemahnya pasar obligasi domestik.
Tim Bisnis Indonesia | 14 September 2018 11:55 WIB
Emisi obligasi. - Bisnis Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA — Korporasi harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar tingkat kupon emisi surat utang baru yang semakin tinggi pada kuartal III/2018 sejalan dengan melemahnya pasar obligasi domestik.

Emisi obligasi menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Jumat (14/9/2018). Berikut laporannya.

Berdasarkan catatan Bisnis, setidaknya ada empat emiten yang melaksanakan penawaran surat utang pada September 2018, diantaranya PT XL Axiata Tbk. (EXCL), PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT), PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC), dan PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA).

Keempatnya harus menawarkan kupon yang lebih tinggi dibandingkan dengan emisi sebelumnya untuk menyesuaikan dengan kenaikan bunga acuan 7 days Reverse Repo Rate dan tingkat yield Surat Utang Negara.

Sepanjang 2018, Bank Indonesia telah mengerek BI 7-DRR sebanyak 125 basis poin dari 4,25% pada akhir 2017 ke level 5,5%. Adapun, tingkat yield SUN tenor 3 tahun dan 5 tahun telah naik lebih dari 200 basis poin year to date ke level 8,375% dan 8,488%.

Di tengah kondisi tersebut, XL Axiata mulai menawarkan obligasi dan sukuk senilai total Rp2 triliun. Penggalangan dana itu terdiri atas PUB Obligasi XL Axiata Tahap I Tahun 2018 senilai Rp1 triliun dan PUB II Sukuk Ijarah XL Axiata Tahap I Tahun 2018 senilai Rp1 triliun.

Kedua obligasi korporasi itu merupakan bagian dari PUB XL Axiata dengan total target penerbitan masing-masing Rp 5 triliun.

Mohamed Adlan bin Ahmad Tajudin, Direktur Keuangan XL Axiata, Kamis (13/9/2018), menyampaikan perseroan khusus mengalokasikan dana hasil PUB obligasi dan sukuk ijarah ini untuk meningkatkan kualitas jaringan dan perluasan kapasitas perseroan.

Dia menyebut perseroan akan mendiversifikasi investor melalui PUB yang dirancang dalam beberapa seri dan kupon tersebut. Lebih detail, baik obligasi maupun sukuk yang ditawarkan EXCL memiliki 5 seri, yakni seri A dengan tenor 370 hari kalender, Seri B dengan tenor 3 tahun, Seri C dengan tenor 5 tahun, Seri D dengan tenor 7 tahun, dan Seri E dengan tenor 10 tahun.

Kelima seri surat utang yang memiliki peringkat AAA(idn) dari Fitchitu ditawarkan dalam pricing range bertingkat yaitu tenor 1 tahun sebesar 8%-8,5%, tenor 3 tahun sebesar 8,75%-9,5%, tenor 5 tahun sebesar 9,25%-10,25%, tenor 7 tahun 9,85%-10,5%, dan tenor 10 tahun pada rentang 10%-10,65%.

Dibandingkan dengan emisi Sukuk pada Mei 2017, tingkat kupon yang ditawarkan EXCL kali ini relatif lebih tinggi. Pada Mei 2017, sukuk tenor 3 tahun dilepas dengan kupon 8,4%, tenor 5 tahun 8,75%, tenor 7 tahun 9,1%, dan tenor 10 tahun 9,4%.

Chief Executive Officer XL Axiata Dian Siswarini menyampaikan dalam 2—3 tahun terakhir perusahaan mulai melebarkan ekspansi jaringan ke wilayah luar Jawa. Penerbitan obligasi dan sukuk ijarah itu akan digunakan perseroan sebagai belanja modal perluasan network tersebut.

“Sekarang ini, kontribusi pendapatan dari luar Jawa tumbuh cukup besar, sehingga kami tidak boleh berhenti membangun jaringan 4G. Di luar Jawa, kompetitor kami hanya satu sehingga kami terus bertarung memperbanyak jaringan,” ungkap Dian.

Adapun, Direktur Keuangan Waskita Karya Haris Gunawan mengatakan kupon untuk Obligasi Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) III Tahap III Tahun 2018 telah diputuskan. Obligasi seri A memiliki tenor 3 tahun akan membayar kupon 9% dan seri B yang memiliki tenor 5 tahun memberikan kupon 9,75% per tahun.

Tingkat kupon tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kupon emisi obligasi Waskita Karya pada Februari 2018. Saat itu, Obligasi Berkelanajutan III Waskita Karya Tahap II Tahun 2018 seri A menawarkan kupon 7,75% dan seri B 8,25%. Artinya, ada kenaikan kupon sebesar 125 basis poin untuk obligasi tenor 3 tahun dan 150 basis poin untuk obligasi tenor 5 tahun.

Haris mengakui bahwa kupon yang dibanderol memang lebih tinggi dari emisi obligasi sebelumnya pada awal 2018. Namun, hal itu sejalan dengan kondisi pasar obligasi, seperti kenaikan suku bunga acuan dan imbal hasil surat utang negara (SUN).

Kenaikan imbal hasil SUN, sambungnya, membuat perseroan harus menawarkan kupon obligasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan instrumen obligasi negara. Dengan demikian, terjadi kenaikan cost of fund untuk emisi surat utang emiten BUMN ini.

“Ada kenaikan jelas tetapi masih di bawah ekspektasi kami. Untuk proyeksi 5 tahun di angka 9,75% tidak terlalu tinggi kecuali mencapai dua digit,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (13/9).

Haris mengatakan salah satu tujuan dari emisi obligasi yakni reprofilling dari leverage atau utang perseroan. Instrumen itu dinilai lebih tepat dipilih dibandingkan dengan jenis lainnya.

“Kami mencari pendanaan yang mempunyai fungsi jangka panjang sejalan dengan investasi jangka panjang. Diharapkan, saat obligasi jatuh tempo, investasi yang dilakukan sudah menghasilkan dan proyek turn key sudah menghasilkan sehingga bisa digunakan untuk pengembalian,” paparnya.

Dia mengungkapkan jumlah yang dihimpun dalam proses penawaran awal atau bookbuilding mencapai Rp1,3 triliun sampai dengan, Kamis (13/9). Pihaknya berharap dapat menghimpun dana minimal Rp1,5 triliun dari emisi tersebut.

Sementara itu, Medco Energi Internasional berencana menerbitkan obligasi dengan nilai maksimal Rp1,25 triliun. Emiten berkode saham MEDC ini menawarkan dua seri obligasi dengan rating idA+, yakni seri A senilai Rp1,15 triliun dengan kupon 10%, dan seri B sejumlah Rp41,25 miliar dengan kupon 10,75%.

Sebelumnya, Bank CIMB Niaga telah merilis tiga seri Obligasi Berkelanjutan II Bank CIMB Niaga Tahap IV Tahun 2018 senilai total Rp1 triliun. Surat utang yang rencananya dicatatkan di BEI pada 21 September 2018 itu terdiri atas seri A senilai Rp746 miliar tenor 370 hari kalender dan kupon 7,5%, seri B senilai Rp137 miliar tenor 3 tahun dan kupon 8,5%, seri C senilai Rp117 miliar tenor 5 tahun dan kupon 8,8%.

Untuk tenor setahun, tingkat kupon yang ditawarkan CIMB Niaga lebih tinggi 130 bps dari emisi obligasi tenor yang sama pada November 2017 yang kuponnya hanya 6,2%.

Maximilianus Nico Demus, Direktur Riset dan Investasi Kiwoom Sekuritas Indonesia, mengatakan kendati pasar saat ini sedang tertekan, tetapi emisi surat utang korporasi tetap akan diminati investor, asalkan peringkatnya cukup tinggi dan tujuannya adalah untuk ekspansi produktif.

Menurutnya, meskipun saat ini harga surat utang pemerintah sudah sangat rendah, investor masih ragu untuk masuk karena volatilitasnya masih tinggi. Surat utang korporasi justru menarik karena cenderung lebih stabil dan kuponnya lebih tinggi.

“Dengan kupon yang tinggi, mereka bisa mengejar target ROI mereka tahun ini dari cash flow pembayaran kupon, tidak lagi dari capital gain karena dia tidak bisa berharap harga naik,” katanya.

Anup Kumar, Senior Fixed Income Analyst Bank Maybank Indonesia, mengatakan bahwa selama kupon obligasi lebih rendah dibandingkan bunga kredit bank, pilihan menerbitkan obligasi tentu lebih rasional bagi korporasi.

Di sisi lain, sejumlah bank pun terkadang menetapkan syarat lebih ketat bagi perusahaan dari sektor tertentu, sehingga tidak selalu mudah bagi korporasi untuk menjajaki sumber dana perbankan.

Hanya saja, investor mungkin akan hati-hati untuk menyerap obligasi korporasi saat ini dan sangat selektif pula. Korporasi dengan peringkat A atau BBB akan sulit untuk mendapatkan pembeli obligasinya.

I Made Adi Saputra, Kepala Riset Fixed Income MNC Sekuritas, mengatakan bahwa sejauh ini belum merevisi proyeksi yield SUN 10 tahun hingga akhir 2018 di level 8,1%. Pasalnya, tekanan di pasar obligasi domestik sudah sangat tinggi sehingga potensi tekanan lebih lanjut diproyeksi lebih terbatas.

“Kita lihat dengan agresifnya kenaikan yield saat ini, mestinya pressure-nya sudah mereda. Kecuali kalau ada sentimen eksternal yang lebih besar dari yang sudah diproyeksikan,” ucapnya. (Dara Aziliya/M. Nurhadi Pratomo/Emanuel B. Caesario/Hafiyyan)

Tag : Obligasi
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top