Mirae Asset Sekuritas: Harga SUN Cenderung Melemah Terbatas

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa harga surat utang negara atau SUN pada perdagangan hari, Kamis (30/8/2018)  bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah terbatas.
Emanuel B. Caesario | 30 Agustus 2018 09:35 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA--Mirae Asset Sekuritas memperkirakan bahwa harga surat utang negara atau SUN pada perdagangan hari, Kamis (30/8/2018)  bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah terbatas.

"Hal tersebut utamanya didorong oleh proyeksi depresiasi terbatas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang disebabkan oleh masih tingginya sentimen dari krisis mata uang Turki, sentimen dari rilis data PDB AS, dan sebagai antisipasi pasar jelang rilis data inflasi acuan The Fed (core PCE) nanti malam," kata Dhian Karyantono, Analis Fixed Income Mirae Asset Sekuritas, dalam riset harian,  Kamis (30/8/2018).

Berikut ini proyeksi rentang pergerakan harga dan yield seri-seri acuan SUN hari ini:

FR0063 (15 Mei 2023):  91,90 (7,71%) -  92,20  (7,62%)
FR0064 (15 Mei 2028):  87,75 (7,96%) -  88,35  (7,86%)
FR0065 (15 Mei 2033):  87,40 (8,11%) -  88,00  (8,03%)
FR0075 (15 Mei 2038):  91,00 (8,44%) -  91,50  (8,39%).

Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat diperkirakan akan bergerak di kisaran Rp14.640 – Rp14.680 dengan kecenderungan melemah.

Sementara itu, pada perdagangan kemarin, harga SUN tenor pendek dan menengah melemah sedangkan tenor panjang cenderung menguat. 

Rata-rata pelemahan harga SUN tenor pendek dan menengah di pasar sekunder masing-masing sebesar 28,43 bps dan 12,92 bps, sedangkan SUN tenor panjang menguat terbatas dengan rata-rata kenaikan sebesar 33,88 bps.

Penurunan harga SUN secara umum kemarin disebabkan oleh meningkatnya yield US Treasury dan nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi sebesar 0,12% ke level Rp14.645 sebagai antisipasi pasar jelang sentimen dari rilis data pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2018.

Dengan demikian, yield SUN secara umum meningkat di mana yield benchmark 10 tahun naik ke level 7,90% dibandingkan hari sebelumnya sebesar 7,88%.

Sementara itu, meski harga SUN secara umum mengalami penurunan namun transaksi obligasi pemerintah di pasar sekunder baik dari sisi nominal  maupun frekuensi perdagangan meningkat dibandingkan dengan hari sebelumnya di mana SUN tenor menengah dan panjang mendominasi dua kategori tersebut.

Pada pasar global, yield US Treasury bergerak terbatas dan indeks dolar AS melanjutkan penurunan.

Pada perdagangan terakhir di pasar global (Asia semalam), yield US Treasury 10 tahun cenderung  bergerak terbatas pada rentang 2,88% - 2,89%.

Berdasarkan faktor pendorong kenaikan yield  US Treasury, data PDB AS kuartal II-2018 direvisi meningkat ke level 4,2% (QoQ) dibandingkan dengan estimasi sebelumnya dan ekspektasi pasar di level 4,1% (QoQ) seiring dengan revisi meningkat komponen investasi, inventori, dan keseimbangan perdagangan internasional. 

Selain itu, dorongan kenaikan yield US Treasury datang dari redanya kekhawatiran terkait dampak dari perang dagang setelah Trump menyatakan adanya kemungkinan kesepakatan renegosiasi perdagangan bebas internasional dengan Kanada.

Hal ini sekaligus menyusul Meksiko yang telah lebih dulu menyetujui renegosiasi perdagangan bebas akhir minggu lalu untuk kemudian menggantikan perjanjian NAFTA sebagai bentuk pernjanjian trilateral perdagangan bebas ketiga negara tersebut.

Meski demikian, kedua faktor tersebut tidak serta merta  mendorong yield US Treasury naik signifikan setelah investor melihat masih tingginya ketidakpastian terkait krisis mata uang Lira pasca rilis data keyakinan konsumen terhadap ekonomi Turki pada agustus 2018 masih dalam level pesimis (indeks di bawah 100 poin) di level 68 poin atau turun dibandingkan dengan Juli 2018 di level 73,1 poin.

Hal tersebut direspon oleh pasar dengan depresiasi lira terhadap dolar AS sebesar 3,08% ke level 6,47. 

Di sisi lain, indeks dolar AS turun ke level 94,5 poin (sebelumnya 94,7 - 94,8 poin) di mana penurunan indeks atau depresiasi dolar AS utamanya didorong oleh sentimen dari kemungkinan adanya kesepakatan renegosiasi dagang antara AS dengan Kanada dan rilis data pertumbuhan pemesanan rumah AS (pending home sales) per Juli 2018 yang tumbuh negatif di level 2,3% (YoY).

Tag : Obligasi
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top