Indeks Tambang Jadi Jawara, Batu Bara Bullish sampai 2019

Di tengah pergerakan bursa saham yang volatil, indeks saham pertambangan (JAKMINE) memimpin penguatan dibandingkan dengan indeks sektoral lainnya, seiring dengan peningkatan harga komoditas dan potensi perbaikan kinerja emiten dari ekspor.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 27 Agustus 2018  |  12:24 WIB
Indeks Tambang Jadi Jawara, Batu Bara Bullish sampai 2019
Kinerja saham sektor tambang kinclong. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA—Di tengah pergerakan bursa saham yang volatil, indeks saham pertambangan (JAKMINE) memimpin penguatan dibandingkan dengan indeks sektoral lainnya, seiring dengan peningkatan harga komoditas dan potensi perbaikan kinerja emiten dari ekspor.

Kinerja emiten tambang menjadi topik headline koran cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (27/8/2018). Berikut laporannya.

Pada akhir pekan lalu, indeks harga saham gabungan ditutup turun 14,23 poin atau 0,24% ke level 5.968,75. IHSG merosot 6,09% sepanjang tahun berjalan 2018.

Dari sembilan indeks sektoral yang membentuk IHSG, tiga indeks yang mencetak kinerja positif dan enam indeks tersungkur di zona merah.

Secara year-to-date, tiga indeks sektoral yang menghijau, yakni indeks saham pertambangan dengan kenaikan 24,46%, industri dasar dan kimia naik 20,2%, dan agrikultur 1,07%.

Dengan kinerja tersebut, indeks JAKMINE menjadi kampiun dengan return tertinggi secara ytd. Pada penutupan perdagangan Jumat (24/8), JAKMINE terkoreksi 0,98 poin atau 0,05% ke level 1.983,88.

Berdasarkan bobotnya terhadap IHSG, ada 10 saham utama yang mendorong indeks pertambangan sepanjang tahun berjalan 2018. Dari 10 saham, tujuh di antaranya merupakan emiten sektor pertambangan batu bara, sedangkan 3 lainnya merupakan sektor logam. (Lihat Infografis).

Analis RHB Sekuritas Hariyanto Wijaya mengatakan, ada dua faktor utama yang membuat kinerja indeks saham pertambangan cenderung menguat sepanjang 2018. Pertama, penguatan harga batu bara Newcastle yang menjadi acuan global.

Pasalnya, 23 dari 46 emiten penghuni indeks JAKMINE bergerak di sektor batu bara. Oleh karena itu, sentimen yang membayangi komoditas batu hitam mendominasi gerak indeks saham sektor pertambangan.

Faktor Kedua, peningkatan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Sentimen tersebut berdampak positif bagi emiten pertambangan karena mereka menjual produk dalam berdasarkan nilai dolar AS. Pendapatan dari sisi ekspor pun berpotensi meningkat.

“Sentimen harga batu bara mendominasi perbaikan saham. Selain itu, emiten menerima penjualan dalam dolar AS, sehingga faktor nilai tukar memberikan manfaat tambahan,” tuturnya kepada Bisnis, Jumat (24/8).

Mengutip data Bloomberg, akhir pekan kemarin rupiah turun 11 poin atau 0,08% menjadi Rp14.649 per dolar AS. Rupiah melesu 8,24% secara ytd. Adapun, kurs tengah BI dipatok Rp14.655 per dolar AS.

Hariyanto menambahkan, saham sektor tambang, khususnya batu bara, cenderung bullish sampai tahun depan. Diperkirakan rerata harga batu bara global pada 2018 senilai US$95 per ton, dan 2019 sebesar US$90 per ton.

“Kami melihat ke depannya harga batu bara masih positif, sehingga kinerja sektor pertambangan cenderung meningkat,” ujarnya.

Analis Ciptadana Sekuritas Asia Christian Saortua mengatakan, emiten pertambangan, khususnya batu bara, sedang menikmati kenaikan harga jual. Hal ini menjadi katalis utama pendorong saham-saham emiten batu hitam.

Sayangnya, pada semester I/2018 faktor produksi yang cenderung flat akibat kendala cuaca menahan kinerja emiten. Namun, kinerja operasional diharapkan membaik pada semester II/2018 seiring dengan cuaca yang lebih kondusif.

Harga komoditas logam juga mengalami tanda-tanda perbaikan. Contohnya nikel yang menjadi produk andalan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) dan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM).

Pada penutupan perdagangan Jumat (24/8), harga nikel di London Metal Exchange (LME) naik 190 poin atau 1,44% menjadi US$13.430 per ton. Harga menguat 6,15% secara ytd.

“Namun, bukan hanya soal harga, produksi menjadi sentimen utama penggerak harga saham emiten logam. Contohnya ANTM yang pada tahun ini siap menggenjot penjualan emas dan nikel mencapai level tertingginya,” ujarnya.

Artinya, sambung Christian, investor lebih melihat perbaikan fundamental kinerja sebagai faktor pendorong saham, dibandingkan sekadar peningkatan harga komoditas di pasar global.

Adapun, sentimen negatif yang membayangi emiten pertambangan ialah isu perang dagang yang memanas antara Amerika Serikat dan China. Faktor tersebut dapat berimbas kepada fluktuasi sejumlah harga komoditas.

Analis senior Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan menyampaikan, sentimen utama yang mendorong indeks JAKMINE ialah memanasnya harga batu bara, sehingga menopang kinerja emiten. Komoditas logam mineral seperti timah dan nikel juga bergerak positif.

“Secara umum, harga komoditas masih positif sampai tahun depan. Ini memberikan dampak positif bagi kinerja emiten sekaligus sahamnya,” tuturnya.

Dia mengestimasi rerata harga batu bara pada 2018 sebesar US$90 per ton, dan tahun depan meningkat menuju US$95 per ton. Adapun, rerata harga emas tahun ini US$1.300 per troy ounce, dan 2019 senilai US$1.350 per troy ounce.

SAHAM PILIHAN

Hariyanto menyebut dua saham sektor terkait pertambangan pilihan utamanya, yakni PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) dan PT United Tractors Tbk. (UNTR). Namun, UNTR tidak termasuk di dalam indeks JAKMINE.

Kinerja Adaro memang cenderung tertekan pada semester I/2018. Hal ini disebabkan kendala operasional akibat hujan deras sampai dengan April 2018.

Dalam laporan keuangan per Juni 2018, Adaro mencatatkan pendapatan usaha sejumlah US$1,61 miliar, naik 3,94% year-on-year (yoy) dari sebelumnya US$1,55 miliar. Laba bersih menurun 12,14% yoy menuju US$195,38 juta dari semester I/2017 senilai US$222,39 juta.

Dari sisi operasional, volume produksi pada semester I/2018 turun 4% yoy menjadi 24,06 juta ton, sedangkan penjualan melesu 6% yoy menuju 23,80 juta ton. Melambatnya kinerja disebabkan faktor cuaca yang cenderung basah.

Manajemen Adaro memperkirakan volume produksi dan penjualan akan meningkat semester II/2018 seiring dengan dukungan cuaca yang lebih baik. Karena itu, perusahaan memertahankan panduan produksi di kisaran 54 juta—56 juta ton,

“Mulai Mei 2018, cuaca berangsur normal. Adaro akan menggenjot produksinya, sehingga mencapai target,” ujar analis RHB Sekuritas itu.

Selain itu, sambung Hariyanto, operasional Adaro ditangani oleh tiga perusahaan kontraktor terbesar di Indonesia. Ketiga perusahan itu ialah PT Pamapersada Nusantara (PAMA), PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), dan anak usaha ADRO, PT Saptaindra Sejati (SIS).

Dia pun merekomendasikan beli terhadap saham ADRO dengan target harga Rp2.600 sampai dengan Juni 2019. Pada penutupan perdagangan Jumat (24/8), saham itu turun 30 poin atau 1,55% menjadi Rp1.910.

Adapun, target harga saham UNTR ialah Rp47.600 hingga Juni 2019. Akhir pekan lalu, saham anak usaha PT Astra International Tbk. (ASII) ini turun 800 poin atau 2,29% menuju Rp34.200.

Hariyanto menyampaikan, di samping faktor bullish sektor batu bara, UNTR berpotensi mendulang pendapatan baru dari akuisisi tambang emas Martabe, Sumatra Utara. Proses akuisisi ditargetkan rampung pada kuartal IV/2018.

Sejumlah saham tambang lain yang menarik menurutnya ialah DOID dengan target harga Rp1.400, ITMG Rp33.600, dan HRUM Rp3.400. Kemudian di sektor alat berat ada HEXA dengan target harga Rp4.200.

Adapun Ciptadana Sekuritas menjagokan dua saham anak usaha PT Inalum (Persero), yakni PTBA dan ANTM. Target harga masing-masing ialah Rp5.200 dan Rp1.130 per saham.

Selain itu, Christian menilai ada sejumlah saham tambang lainnya yang cukup menarik, yakni HRUM dengan target harga Rp3.400, INCO Rp4.800, dan ADRO Rp2.475.

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas Indonesia menjagokan PTBA dan ANTM sebagai saham tambang pilihan utama. Target harga masing-masing ialah Rp5.000 dan Rp1.400 per saham.

Kinerja PTBA didorong oleh kejelasan kebijakan DMO sebesar 25%. Regulasi ini justru menguntungkan perusahaan karena dapat memperbesar penjualan ke pasar ekspor.

“Perusahaan juga sudah mulai mengembangkan lagi produksi batu bara premium berkalori tinggi,” ujar Andy.

Adapun, kinerja ANTM terdorong oleh strategi perusahaan yang memacu penjualan tiga logam andalannya, yakni emas, nikel, dan bauksit. Di sisi hulu, perusahaan sudah mendapat tambahan kuota ekspor bijih nikel. Antam juga diuntungkan rencana ekspansi Chemical Grade Alumina (CGA) di PT Indonesia Chemical Alumina (ICA).

Andy menyebutkan, dua saham tambang lainnya yang menarik ialah ITMG dengan target harga Rp39.100 dan ADRO Rp2.880 per saham. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emiten tambang

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top