Saham Diusulkan Jadi Aset Kolateral Perbankan

Kalangan pelaku usaha meminta kepada otoritas pasar modal untuk menyusun payung hukum terkait penggunaan efek bersifat ekuitas alias saham menjadi aset kolateral yang bisa dijaminkan di perbankan.
Tegar Arief
Tegar Arief - Bisnis.com 26 Agustus 2018  |  20:38 WIB
Saham Diusulkan Jadi Aset Kolateral Perbankan
Pengunjung beraktivitas di dekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham, di Jakarta, Senin (19/2/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA - Kalangan pelaku usaha meminta kepada otoritas pasar modal untuk menyusun payung hukum terkait penggunaan efek bersifat ekuitas alias saham menjadi aset kolateral yang bisa dijaminkan di perbankan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani meyakini, jika fasilitas ini disediakan, maka minat perusahaan untuk mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan semakin besar.

Apalagi, dijadikannya saham sebagai jaminan perbankan telah diterapkan di banyak negara. Menurutnya, mekanisme ini bisa diterapkan di dalam negeri untuk menambah kemudahan pencarian dana perusahaan tercatat.

"Kalau saham bisa dijaminkan akan menjadi menarik, jadi akan semakin banyak perusahaan melakukan IPO [initial public offering] karena nilai tambahnya besar," kata dia, pekan lalu.

Dia menjelaskan, tujuan dari pasar modal adalah memudahkan perusahaan untuk mencari dana. Di sisi lain, masih banyak perusahaan yang enggan mencatatkan sahamnya di bursa karena masih menganggap akses pendanaan dari perbankan lebih mudah.

Dengan demikian, kata Hariyadi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus mempermudah dan memperbanyak instrumen penghimpunan dana di pasar modal. Usulan saham dijadikan sebagai aset kolateral juga telah disampaikan kepada otoritas sejak beberapa waktu lalu.

"Dulu memang ditolak karena alasan dianggap spekulasi. Tapi kami sudah menyampaikan ke OJK, bahwa pengawasan di perbankan dan pasar modal sekarang sangat ketat jadi tidak akan ada spekulasi," tegasnya.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, perlu ada komunukasi lintas sektoral untuk membahas usulan Apindo ini. Yakni antara bursa efek, OJK yang membidangi pasar modal, serta OJK di sektor perbankan.

"Sejauh ini masih belum ada pembahasan. Tapi kalau dirasa perlu ada fasilitas itu maka perlu ada pembicaraan juga dengan sektor perbankan," kata dia.

Kata dia, otoritas pasar modal menampung usulan para pelaku usaha. Namun mengenai kepastian ada atau tidaknya payung hulum mengenai hal tersebut perlu dibahas lebih lanjut dengan pihak terkait.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee menjelaskan, emiten akan diuntungkan dengan dijadikannya saham sebagai aset kolateral. Kata dia, emiten akan mendapat kemudahan dalam mencari dana karena adanya fasilitas ini. Sebab, mayoritas aset yang dimiliki emiten telah dijadikan jaminan di perbankan.

Sehingga, jika emiten masih butuh dana maka mencari di pasar modal, bisa melalui penawaran baik saham maupun surat utang. "Selain itu rata-rata utang emiten di Indonesia di bank lebih kecil dibandingkan emiten di negara lain. Jadi kalau fasilitas ini ada akan memudahkan ekspansi," kata dia.

Namun otoritas perlu menyiapkan antisipasi jika kondisi pasar terpuruk. Misalnya bagaimana penghitungan valuasi saham yang dijaminkan jika terjadi kejatuhan pasar, atau adanya opsi perbankan meminta aset tambahan dari emiten jika harga saham jatuh karena market terpuruk.

"Kalau market turun valuasinya tetap, bank bisa rugi. Atau perlua da jaminan tambahan untuk menghitung valuasi saat pasar jatuh, nah seperti ini yang perlu dirumuskan dengan teliti," jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saham

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top