Semester I/2018, Global Teleshop (GLOB) Bukukan Rugi Bersih Rp21,05 Miliar

Emiten distribusi ponsel dan gawai PT Global Teleshop Tbk. membukukan pendapatan sebesar Rp288,16 miliar pada semester I/2018, menurun 10,37% dibandingkan dengan pendapatan bersih perseroan pada semester I/2017 (yoy) yang sebesar Rp321,5 miliar.
Dara Aziliya
Dara Aziliya - Bisnis.com 23 Agustus 2018  |  16:10 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten distribusi ponsel dan gawai PT Global Teleshop Tbk. membukukan pendapatan sebesar Rp288,16 miliar pada semester I/2018, menurun 10,37% dibandingkan dengan pendapatan bersih perseroan pada semester I/2017 (yoy) yang sebesar Rp321,5 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan, emiten dengan kode saham GLOB tersebut masih menderita kerugian. Meski pendapatan turun, GLOB berhasil menekan angka kerugian yang dibukukan perseroan.

Pada semester I/2018, perseroan membukukan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp21,05 miliar, mengecil 17,4% dibandingkan dengan kerugian yang diderita perseroan pada semester I/2017 yang menyentuh Rp25,47 miliar.

Perseroan berupaya menekan beban keuangan sehingga mampu menekan kerugian. Pada semester I/2018, beban penjualan perseroan tercatat sebesar Rp13,37 miliar, menurun 28,52% dibandingkan semester I/2017.

Pada awal tahun ini, beban umum dan administrasi perseroan mencapai Rp5,53 miliar , tertekan 31,15% dibandingkan beban umum dan administrasi perseroan pada semester I/2017 yang sebesar Rp8,03 miliar.

Perseroan juga membukukan penghasilan lain-lain sebesar Rp664,63 juta, melonjak 155,13% dari pendapatan lain-lain pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama Global Teleshop Djoko Haryanto menyampaikan perseroan tengah fokus membenahi aktivitas bisnis yang selama tiga tahun terakhir gagal membukukan laba. Simultan dengan hal tersebut, perseroan menjajaki peluang bisnis baru yang memiliki margin laba yang lebih besar.

"Kami akan lihat bisnis baru seperti bisnis trade in karena setiap tahun puluhan juta ponsel masuk ke Indonesia, sekian persen dari 30 juta perangkat itu merupakan ponsel idle di tangan konsumen. Potensi ini yang mungkin bisa kami tangkap, untuk bisa recycle ponsel idle,” jelas Djoko belum lama ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top