USDA Tingkatkan Outlook Komoditas Kapas 2018/2019

Harga kapas merosot tajam dalam sebulan terakhir disebabkan oleh perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang saling mengenakan tarif pada barang konsumsinya dan kapas menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam daftar tersebut.
Mutiara Nabila | 22 Juli 2018 21:18 WIB
Ilustrasi. - JIBI/Reuter

Bisnis.com, JAKARTA – Harga kapas merosot tajam dalam sebulan terakhir disebabkan oleh perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang saling mengenakan tarif pada barang konsumsinya dan kapas menjadi salah satu komoditas yang masuk dalam daftar tersebut.

Meskipun mengalami sedikit penurunan pada penutupan perdagangan Jumat (20/7), outlook komoditas kapas 2018/2019 mengalami kenaikan.

Dilansir dari laporan resmi Cotton Inc., Minggu (22/7), pada perdagangan di New York dan A Index, harga kapas bergerak turun tajam pada pertengahan Juni, menghapuskan kenaikan harga yang telah dicapai pada awal bulan lalu.

Setelah sempat mencapai harga US$92 sen per pon pada pertengahan Juni, harga kapas untuk kontrak teraktif Desember di New York Futures anjlok dan bergerak stabil di posisi US$85 sen per pon.

Pergerakan di A Index sejalan dengan pergerakan di New York Futures dengan kemerosotan harga dari US$102 sen per pon menjadi US$92 sen per pon sepanjang pertengahan Juni hingga awal Juli. Harga kapas di A Index terakhir tercatat berada di posisi US$92 sen per pon.

Adapun, harga kapas China yang disebut dengan Chinese Cotton (CC), mengalami penurunan harga pada produksi domestik maupun internasional dari US$117 sen per pon menjadi US$110 sen per pon atau setara dengan 16.500 yuan per ton.

Penurunan harga tersebut disebabkan oleh mata uang yuan yang megalami pelemahan sebanyak 4% di hadapan dolar AS selama beberapa bulan belakangan.

Selain itu, harga kapas spot India stabil, kokoh di level US$88 sen per pon atau setara dengan 47.000 rupee per candy. Harga kapas spot Pakistan juga stabil sepanjang Juni, tapi mengalami kenaikan pada Juli dari US$76 sen per pon menjadi US$83 per pon.

Dari sisi produksi, perubahan terbesar terjadi dari hasil panen AS pada tahun panen 2018/2019 yang diperkirakan mengalami penurunan sebesar 1 juta bal dari 19,5 juta bal menjadi 18,5 juta bale. Penurunan tersebut disebabkan oleh kondisi kekeringan di wilayah pertanian kapas Texas, Oklahoma, dan Kansas.

Dengan data tersebut, USDA meningkatkan perkiraan pengabaian lahan hingga 35% dari keseluruhan lahan pertanian kapas di AS. Penurunan hasil panen di AS diseimbangkan oleh kenaikan produksi di Brasil sebanyak 500.000 bal sehingga jumlahnya mencapai rekor terbaru sebanyak 9,5 juta bal.

Adapun, di India, hasil panen kapasnya juga mengalami kenaikan sebanyak 200.000 bale menjadi 28,7 juta bal. Sementara itu, di Meksiko, hasil panen kapasnya naik 150.000 bal menjadi 1,8 juta bal.

Pelemahan harga kapas yang terjadi sepanjang pertengahan Juni hingga Juli ini disebabkan oleh perang dagang AS dengan China yang sama-sama saling mengejar kenaikan tarif. Harapan tidak terkena tarif hilang setelah melewati tenggat waktu 6 Juli lalu.

Sebagai hasilnya, AS dan China sama-sama mengenakan tarif pada masing-masing barang konsumsi senilai US$34 miliar dengan kenaikan pajak sebanyak 25%. Salah satu barang AS yang terkena pajak dari China adalah kapas.

Selanjutnya, tak lama setelah aksi saling tampar tarif itu, kedua belah pihak berencana kembali menambahkan tarif ke barang konsumsi senilai US$16 miliar yang diperkirakan akan terkena tambahan pajak sebesar 25% dan mulai berlaku pada akhir bulan Agustus mendatang.

Setelah itu, AS kemudian merilis daftar barang yang akan dikenakan tarif lagi senilai US$200 miliar dengan kenaikan tarif sebesar 10%. Dari daftar barang senilai US$200 miliar tersebut di antaranya terdapat sejumlah besar produk tekstil.

 

Sumber : Bloomberg

Tag : komoditas, kapas
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top