Taper Tantrum 2013 Tak Akan Terulang

Aksi jual investor global terus berlanjut di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal serupa pernah terjadi pada 2013 silam, saat The Fed melakukan tapering, mengurangi stimulus ekonomi secara bertahap.
Tegar Arief | 21 Juli 2018 14:35 WIB
Pengunjung mengamati papan monitor yang menunjukkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa efek Indonesia, Jakarta, Rabu (11/7/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Aksi jual investor global terus berlanjut di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal serupa pernah terjadi pada 2013 silam, saat The Fed melakukan tapering, mengurangi stimulus ekonomi secara bertahap.

Namun kondisi saat ini menurut Senior Portofolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Caroline Rusli berbeda dengan Taper Tantrum 2013.

Menurutnya, dampak normalisasi kebijakan moneter The Fed saat ini akan lebih moderat ditopang oleh kondisi makro ekonomi Indonesia yang lebih kuat.

Dia memaparkan, ada tiga indikator kuatnya kondisi makro ekonomi. Pertama inflasi yang terkendali, di mana saat ini di kisaran 3,5% YoY, dibandingkan 2013 yang sempat mencapai 8,2% YoY.

Kedua adalah perbedaan suku bunga riil yang jauh lebih tinggi dibandingkan 2013, sehingga Indonesia tidak serta merta harus mengikuti kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi AS.

"Ketiga adalah posisi cadangan devisa yang lebih tinggi," kata Caroline dalam risetnya yang diterima Bisnis, Sabtu (21/7/2018).

Adapun sentimen positif yang akan mendorong pasar saham ke level yang lebih tinggi menurutnya adalah perbaikan truktural yang dicanangkan oleh pemerintah, yang akan membuat ekonomi Indonesia lebih stabil dan efisien.

Misalnya pembangunan infrastruktur dan konektivitas yang baik akan menurunkan biaya logistik. Alhasil, harga barang-barang lebih terjangkau dan subsidi pemerintah pun akan berkurang.

Belum lagi multiplier effect yang timbul  akibat konektivitas tersebut. Keterhubungan kota dan pulau akan mempercepat pertumbuhan dan pemerataan ekonomi, sehingga kesenjangan akan berkurang.

"Sentimen positif jangka pendek adalah kenaikan harga komoditas seperti batubara yang meningkatkan ekspor dan mendorong konsumsi. Selain itu, turunnya impor minyak setelah Lebaran akan memperbaiki neraca perdagangan Indonesia," paparnya.

Tag : market
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top