Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

China Tekan Harga Logam Berjangka, Tembaga Sentuh US$6.000

Ronde perang dagang baru mengirim harga logam dasar bergejolak. Harga logam tembagabahkan terseret ke kisaran US$6.000-an per ton untuk pertama kalinya selama tahun ini dan menuju penurunan terbesar sejak 2015.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 19 Juli 2018  |  21:25 WIB
China Tekan Harga Logam Berjangka, Tembaga Sentuh US$6.000
Tembaga - Reuters
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Ronde perang dagang baru mengirim harga logam dasar bergejolak. Harga logam tembagabahkan terseret ke kisaran US$6.000-an per ton untuk pertama kalinya selama tahun ini dan menuju penurunan terbesar sejak 2015.

Logam dasar lainnya seperti seng, timah hitam, nikel dan platinum turut terperosok hingga lebih dari 2% diikuti dengan emas yang menyentuh harga terendah dalam setahun.

Laju aksi jual pada komoditas logam semakin cepat, yang dimulai sejak awal Juni karena ketakutan investor akan perang dagang antara China dengan Amerika Serikat yang akan membawa kerugian bagi pertumbuhan ekonomi dunia dan menghambat permintaan bahan mentah logam.

Pada Kamis (19/7), China menggugat Pemerintah AS karena telah salah menuduh pihak China sehingga pihak Negeri Panda melakukan serangan balik dengan menghentikan diskusi dengan AS.

“Ketidakpastian mendominasi saat ini dan investor masih sangat khawatir dengan semua sikap proteksionis perdagangan dan ancaman balasan yang kita lihat selama ini. Dampaknya jelas terlihat pada harga tembaga,” ujar Casper Burgering, ekonom senior ABN Amro di Amsterdam, dikutip dari Bloomberg, Kamis (19/7).

Harga logam merosot tajam pada perdagangan di London, membuat sejumlah pialang berspekulasi bahwa pergerakan harga tersebut disebabkan oleh dana teknikal, atau disebut sebagai penasihat perdagangan komoditas (commodity trading adviser/CTA), menambah posisi jangka pendek pada awal perdagangan di Eropa.

“Melihat pergerakan harga saat ini, sepertinya CTA telah kembali bangkit,” kata Alastair Munro, analis Marex Spectron di London. Pada pekan ini, spekulasi posisi jangka pendek pada logam tembaga mengalami lonjakan ke level tertingginya sejak sempat memuncak pada Januari 2016.

Kenaikan tensi perang dagang juga turut mengirim yuan melemah di hadapan dolar AS, semakin menekan para pembeli logam di China, pengguna komoditas industri terbesar di dunia. Mata uang China diperdagangkan mendekati level terendahnya dalam tahun ini.

Harga tembaga anjlok 2,3% menjadi US$6.006,50 per ton di perdagangan London Metal Exchange (LME). Harga logam merah tersebut merosot sejauh 18% sejak awal Juni, pada jalurnya mendekati pasar bearish.

Seng dan timah hitam juga turun mengalami penurunan hingga lebih dari 3%, dan nikel melemah 2%. Selain itu, aluminium juga merosot tipis 0,4% diiringi dengan kenaikan pasokan di LME untuk sembilan hari berturut dan menjadi kenaikan dengan durasi terpanjang sejak 2009.

Harga seluruh logam mulia kompak memerah dengan penurunan terbesar dialami oleh platinum yang jatuh 2,5% ke level terendahnya sejak Desember 2008.

Emas turut terperosok ke harga terendahnya dalam setahun setelah Kepala Federal Reserve AS Jerome Powell memberikan pernyataan terkait dengan tenaga kerja AS dan inflasi yang mendorong ekspektasi akan adanya kenaikan suku bunga lebih lanjut pada September mendatang dan menjadi dorongan bagi dolar AS untuk menguat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas logam

Sumber : Bloomberg

Editor : Pamuji Tri Nastiti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top