Harga Produsen AS Perkuat Spekulasi Suku Bunga, Indeks Dolar Naik

Indeks dolar AS bergerak mixed cenderung menguat pada perdagangan siang ini, Kamis (12/7/2018), menyusul rilis data inflasi AS yang memperkuat kembali ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali lebih lanjut tahun ini.
Renat Sofie Andriani | 12 Juli 2018 12:36 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks dolar AS bergerak mixed cenderung menguat pada perdagangan siang ini, Kamis (12/7/2018), menyusul rilis data inflasi AS yang memperkuat kembali ekspektasi bahwa The Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebanyak dua kali lebih lanjut tahun ini.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS, yang melacak pergerakan greenback terhadap sejumlah mata uang dunia terpantau naik 0,02% atau 0,022 poin ke level 94,741 pada pukul 11.08 WIB.

Sebelumnya, indeks dolar dibuka turun tipis 0,017 poin atau 0,02% di posisi 94,702, setelah pada perdagangan Rabu (11/7), berakhir menguat 0,60% atau 0,561 poin di level 94,719.

Saat pasar finansial tetap dihantui oleh kekhawatiran perang perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China, fokus investor beralih pada data harga produsen yang sedikit lebih kuat dari perkiraan yang sekaligus mendorong kepercayaan terhadap negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia tersebut.

Para investor selanjutnya menantikan rilis data inflasi konsumen AS untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang kapan dan seberapa cepat The Fed akan menaikkan suku bunga.

“Data inflasi konsumen bisa kuat karena harga minyak telah tinggi, sehingga dapat menyebabkan lebih banyak dukungan untuk dolar,” kata Minori Uchida, kepala strategi mata uang di MUFG Bank, dikutip Reuters.

“Namun harga minyak sudah mulai turun, dan saya tidak berpikir suku bunga jangka panjang akan naik sebanyak itu. Itu berarti saya pikir dukungan untuk dolar tidak akan terus berlanjut bahkan jika dolar dibeli,” tambahnya.

Harga produsen AS meningkat lebih dari yang diperkirakan pada Juni di tengah kenaikan biaya jasa dan kendaraan bermotor yang mengarah menuju kenaikan tahunan terbesar dalam 6,5 tahun.

Indeks harga produsen untuk permintaan final naik 0,3% bulan lalu setelah naik 0,5% pada Mei. Hal ini mendorong kenaikan tahunan pada indeks harga produsen menjadi 3,4%, kenaikan terbesar sejak November 2011, dari 3,1% pada Mei.

Pada Rabu (11/7), kegelisahan di pasar mata uang atas eskalasi dalam perang perdagangan AS-China sedikit lebih terkendali dibandingkan dengan pasar ekuitas, dimana terjadi penurunan besar secara global setelah pemerintah AS mengancam mengenakan tarif 10% pada impor tambahan China senilai US$200 miliar.

“Jika hal itu terus meningkat, bukan hanya AS yang terpukul pada tingkat makroekonomi, makroekonomi China, dan negara-negara dengan hubungan makroekonomi ke China, akan terkena dampak juga,” ujar Kazushige Kaida, head of foreign exchange di State Street Bank.

Posisi indeks dolar AS                                                                        

12/7/2018

(Pk. 11.08 WIB)

94,741

(+0,02%)

11/7/2018

94,719

(+0,60%)

10/7/2018

94,158

(+0,09%)

9/7/2018

94,077

(+0,12%)

6/7/2018

93,963

(-0,46%)

 

 

 

 

 

 

Sumber: Bloomberg

Tag : dolar as
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top