Sawit Tak Akan Tergantikan Minyak Nabati Lain

Keberadaan minyak kelapa sawit dinilai tidak dapat digantikan oleh minyak nabati lainnya, meskipun banyak kampanye negatif yang menyerang komoditas ini.
Annisa Margrit | 27 April 2018 18:03 WIB
Petani memindahkan kelapa sawit hasil panen ke atas truk di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (4/4/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, NUSA DUA — Keberadaan minyak kelapa sawit dinilai tidak dapat digantikan oleh minyak nabati lainnya, meskipun banyak kampanye negatif yang menyerang komoditas tersebut.

Chairman LMC International, James Fry mengatakan minyak kelapa sawit digunakan dengan sangat luas di Uni Eropa (UE). Jika UE benar-benar memblokir impor komoditas ini, maka tidak hanya Indonesia kehilangan 6 juta-7 juta ton ekspor minyak kelapa sawit tapi kawasan tersebut harus sudah memiliki pengganti yang bisa memenuhi kebutuhan.

Menurutnya, minyak kedelai adalah pengganti yang paling mungkin. Namun, jumlahnya tidak mencukupi dan sebagian besar kedelai yang beredar merupakan hasil Genetically Modified Organisms (GMO).

“Apakah warga UE mau mengonsumsi produk GMO?” ujar Fry di sela-sela The 6th International Conference on Oil Palm and Environment yang bertemakan Embracing Sustainable Palm Oil: Solutions for Local Production and Global Change di Nusa Dua, Bali, Jumat (27/4/2018).

Sementara itu, sunflower oil dan rapeseed oil pun tidak memiliki jumlah yang cukup. Untuk menutupi kekurangan, maka UE bisa saja mengimpor canola oil. Namun, jenis minyak nabati ini juga banyak yang masuk kategori GMO.

Dia melanjutkan trade off alias mengganti minyak kelapa sawit dengan minyak kedelai atau minyak nabati lainnya sangat kompleks.

“UE punya sertifikasi yg mereka lakukan. Jadi kalau mereka melarang produk minyak sawit yg sudah lolos sertifikasi, buat apa ada sertifikasi?” tambah Fry.

Sementara itu, Program Manager Sustainable Developmet The Netherlands Oils and Fats Industry Eddy Esselink menyatakan pelarangan minyak sawit masih dalam negosiasi di UE. Dia meyakini hal itu tidak akan terjadi.

Esselink mengungkapkan promosi dan kampanye positif atas kelapa sawit dan turunannya di UE mulai membuahkan hasil karena ada kenaikan permintaan terhadap produk sawit yang berkelanjutan dan tersertifikasi. Saat ini, 69% produk sawit di UE untuk makanan adalah produk yang berkelanjutan.

Apalagi, ada Amsterdam Declaration Group yang diluncurkan pada 2016. Deklarasi yang menyatakan komitmen dukungan terhadap sawit yang berkelanjutan tersebut mencakup sejumlah negara Eropa yakni Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, Norwegia, dan Britania Raya.

UE merupakan salah satu pasar terbesar bagi minyak kelapa sawit Indonesia. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), ekspor CPO ke UE tercatat sebesar 31,05 juta ton pada 2017 atau meningkat 23% dari realisasi tahun sebelumnya yang sebanyak 25,11 juta ton.

Pada 2017, porsi ekspor ke UE sebesar 16,18%. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang sekitar 17,78%.

Tag : minyak sawit
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top