Setelah Sorgum, Perang Dagang China-AS Hentikan Impor Kedelai

Pembelian biji kedelai dari China ke Amerika Serikat terhenti akibat kekhawatiran atas keberlanjutan aksi Beijing untuk mengekang impor tanaman dari AS sebagai lanjutan dari gerakan anti-dumping komoditas sorgum pada minggu lalu mengguncang industri pertanian.
Mutiara Nabila | 25 April 2018 21:22 WIB
Kedelai - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pembelian biji kedelai dari China ke Amerika Serikat terhenti akibat kekhawatiran atas keberlanjutan aksi Beijing untuk mengekang impor tanaman dari AS sebagai lanjutan dari gerakan anti-dumping komoditas sorgum pada minggu lalu mengguncang industri pertanian.

Berdasarkan data Departemen Pertanian AS (USDA) yang dikutip dari Reuters, Rabu (25/4/2018) pembeli dari China, yang membeli 60% penjualan biji kedelai di seluruh dunia, belum menandatangani kebijakan baru untuk mengambil biji-bijian dari AS pada dua minggu terakhir.

Berdasarkan data dari USDA, sekitar 3 juta ton biji kedelai – diperkirakan bernilai sekitar US$1,3 miliar – sudah dikirimkan melalui pelabuhan AS. Biji kedelai menjadi komoditas yang terbesar yang diekspor AS ke China pada tahun lalu dengan nilai US$12,3 miliar.

Sejumlah kapan membawa sorgum dari AS yang awalnya menuju ke China saat ini berbalik arah seiring dengan kebijakan Beijing yang memberlakukan anti-dumping pada impor AS dan menimbulkan ketegangan perdagangan antara dua negara dengan ekonomi teratas tersebut.

“Setelah aksi China terhadap sorgum AS, tidak ada lagi yang mau mengambil risiko melakukan impor biji-bijian,” ujar salah satu pedagang asal Singapura yang memiliki fasilitas pengolah kedelai di China.

“Akibatnya, selisih harga di Brasil dan AS meningkat ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya, menolak diidentifikasi karena tidak memiliki hak bicara ke media, dikutip dari Reuters, Rabu (25/4/2018).

Data bea cukai menunjukkan impor biji kedelai dari AS ke China menurun 27% pada Maret lalu, dibandingkan dengan waktu yang sama pada tahun lalu. Sementara itu, pembelian ke Brasil meningkat tiga kali lipat.

“Kami sekarang melakukan pembelian dari Brasil, Kanada, dan sebagian dari Argentina, kami tidak berani membeli [kedelai] dari AS” ujar perwakilan industri pengolah kedelai di China.

Pengurangan ekspor dari AS ke China juga dipengaruhi oleh faktor musiman. Biji kedelai yang baru saja dianen di Amerika Selatan mendominasi perdagangan dunia pada awal hingga pertengahan tahun ini, diikuti oleh AS pada September mendatang.

Perdagangan AS juga kehilangan saham pasar di China karena tanaman yang dipanen berkualitas rendah pada akhir tahun lalu, diikuti oleh curah hujan, dan badai yang tidak menentu.

“Untuk China, ketersediaan pasokan biji kedelai mendorong ketahanan pangan,” ujar J.Y. Chow, ahli makanan dan pertanian Mizuho Bank di Singapura.

“Selanjutnya akan ada kejelasan karena sebentar lagi musim panen di Amerika Selatan dan saya pikir akan ada tekanan untuk segera menyelesaikan isu ini pada Juli saat sejumlah importir akan menandatangani kesepakatan untuk pengiriman kedelai AS,” kata Chow.

Tingginya permintaan kedelai Brasil telah mendorong kenaikan harga pada kargo Amerika Selatan, memangkas laba perusahaan pengolah kedelai di China.

Harga biji kedelai Brasil terakhir tercatat senilai US$467 per ton, sudah termasuk biaya pengiriman dan kargo ke China untuk pengiriman Juni-Juli 2018. Biasanya harganya hanya berkisar US$10 per ton.

Sumber : Reuters

Tag : komoditas, kedelai
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top