Lelang SUN Tak Capai Target, Ini Komentar Analis

Lelang surat utang negara yang digelar pemerintah Selasa (25/4/2017) hanya mendulang permintaan Rp17,02 triliun, terendah sepanjang tahun ini dan tahun lalu. Analis menilai, faktor eksternal menjadi penyebabnya.
Emanuel B. Caesario | 25 April 2018 09:24 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Lelang surat utang negara yang digelar pemerintah Selasa (25/4/2017) hanya mendulang permintaan Rp17,02 triliun, terendah sepanjang tahun ini dan tahun lalu. Analis menilai, faktor eksternal menjadi penyebabnya.

Pemerintah menggelar lelang atas 5 seri, yakni SPN03180725 (3 bulan), SPN12190131 (9 bulan), FR0063 (5 tahun), FR0064 (10 tahun), dan FR0075 (20 tahun). Namun, pemerintah hanya memenangkan permintaan dari 2 seri, yakni FR0064 Rp3,95 triliun, dan FR0075 Rp2,2 triliun. Total nilai yang dimenangkan pemerintah hanya Rp6,15 triliun, jauh dibandingkan targetnya Rp17 triliun.

Handy Yunianto, Kepala Riset Fixed Income Mandiri Sekuritas, mengatakan bahwa minimnya partisipasi lelang kemungkinan besar karena investor asing tidak ikut serta, terutama karena kekhawatiran kurs serta membaiknya daya tarik aset Amerika Serikat yakni dollar dan US Treasury.

Indeks dollar Amerika Serikat terus meningkat sehingga menyebabkan hampir semua mata uang negara berkembang melemah. Nilai tukar rupiah bahkan hampir menyentuh level Rp14.000 sebelum pelaksanaan lelang.

Investor domestik juga menahan diri kalau-kalau yield US Treasury 10 tahun menyentuh level psikologisnya di 3%. Kini, yieldnya sudah di 2,975%. Hal ini menyebabkan partisipasi lelang menjadi sangat minim.

Handy menilai, reaksi pasar ini hanya sementara dan minat ke pasar SUN akan meningkat lagi begitu dollar indeks dan yield US Treasury turun lagi.

Handy mengatakan, menurut perhitungan Mandiri Sekuritas, investor asing dengan break even level kurs di Rp14.000 adalah senilai Rp40 triliun. Mandiri Sekuritas memperkirakan, bila level Rp14.000 tercapai, paling banter nilai outflow hanya separuhnya, atau Rp20 triliun. Ini mendorong yield SUN naik sekitar 30 bps.

Sementara itu, dirinya mencatat arus keluar asing sudah mencapai Rp11 triliun pada Jumat (20/4) dan Senin (23/4) yang belum tercatat di DJPPR, sedangkan yield SUN 10 tahun sudah naik sekitar 21 bps. Artinya, tekanan jual mestinya sudah relatif mereda.

Lagipula, European Central Bank dan Bank of Japan masih melanjutkan program quantitative easing yang akan mengimbangi arus modal keluar dari pasar negara berkembang.

Selain itu, Mandiri Sekuritas berpandangan kenaikan The Fed akan lebih terbatas karena faktor ekonominya yang banyak defisit, baik perdagangan maupun fiskal.

“Dengan kondisi Amerika saat ini, saya percaya US Treasury tidak akan sustain di atas 3%. Kami percaya tren dollar indeks akan melemah sehingga pressure terhadap rupiah akan terbatas. Kalau begitu, bagi investor ini adalah opportunity to buy,” katanya pada Bisnis, Selasa (24/4/2018).

Anup Kumar, Analis Senior Fixed Income Bank Maybank Indonesia, mengatakan bahwa hasil lelang yang rendah kemarin sempat ditanggapi negatif oleh pasar. Namun, pasar mengapresiasi langkah Bank Indonesia untuk mengintervensi sehingga gejolak tidak begitu besar dan rupiah kembali sedikit menguat.

Anup menilai, pelemahan yang terjadi semata-mata karena faktor eksternal, sementara dari dalam negeri tidak ada yang cukup negatif.

“Menurut kita harusnya sudah mulai akumulasi beli lagi di saat ini, ketika imbal hasil SUN 10 sudah menjadi murah. Suku bunga riilnya sekarang 350 bps, padahal rata-rata 5 tahun hanya 240 bps. Justru ini menjadi titik untuk akumulasi beli dan berharap imbal hasil bisa turun ke level 6,7%,” katanya.

Imbal hasil SUN 10 tahun sudah bergerak mendekati 6,9% kemarin. Suku bunga riil yang dimaksud merupakan selisih antara yield dengan tingkat inflasi nasional. Maret 2018 lalu, inflasi nasional tercatat 3,4%, sehingga selisih dengan yield 10 tahun menjadi 350 bps.

Anup menilai, investor masih bisa melakukan akumulasi beli bahkan hingga yield SUN 10 tahun menyentuh level 7,2%. Namun, menurutnya peluang untuk SUN melemah sampai ke level tersebut cukup rendah. Sebaliknya, potensinya justru akan menguat.

Hal ini didukung oleh akan adanya data-data penting yang dirilis pada Mei mendatang, seperti pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2018 dan defisit transaksi berjalan. Selain itu, SUN juga akan masuk dalam indeks obligasi global Bloomberg, sehingga akan menambah arus masuk dana asing yang berpatokan pada indeks tersebut.

Tag : sun
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top