Jaya Ancol (PJAA) Agresif Dongkrak Pendapatan & Laba Tahun Ini

Jaya Ancol (PJAA) menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang cukup agresif tahun ini seiring optimisme perseroan terhadap kinerja ekonomi yang membaik dan pertumbuhan penduduk kelas menengah di Jabodetabek.
Emanuel B. Caesario | 23 April 2018 14:54 WIB
Wisatawan menikmati suasana di kawasan pantai Ancol, kompleks Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Rabu (4/10). - ANTARA/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba yang cukup agresif tahun ini seiring optimisme perseroan terhadap kinerja ekonomi yang membaik dan pertumbuhan penduduk kelas menengah di Jabodetabek.

Berdasarkan Laporan Tahunan 2017 emiten dengan kode saham PJAA ini, perseroan menargetkan pendapatan usaha Rp1,61 triliun tahun ini. Nilai ini meningkat 30,03% dibandingkan pancapaian 2017 yakni Rp1,24 triliun.

Sementara itu, beban pokok diestimasikan hanya meningkat 21,37% dari Rp641 miliar pada 2017 menjadi Rp778 miliar tahun ini. Dengan demikian, laba bruto dapat diharapkan tumbuh lebih tinggi.

PJAA mengestimasikan laba bruto tahun ini akan mencapai Rp835 miliar, tumbuh 39,3% dibandingkan dengan pencapaian 2017 sebesar Rp599 miliar. Namun, perseroan mengantisipasi risiko melonjaknya beban usaha tahun ini yang diproyeksikan Rp341 miliar melonjak 66,13% dibandingkan tahun lalu Rp205 miliar.

Setelah dikurangi beban pajak yang tumbuh 25,32% yoy, laba tahun berjalan PJAA diperkirakan akan mencapai Rp388 miliar, tumbuh 15,18% dibandingkan pencapaian pada 2017 sebesar Rp337 miliar. Nilai tersebut termasuk bagian dari entitas bukan pengendali.

Apabila dikurangi bagian non-pengendali, laba bersih yang dapat diatribusikan pada pemilik entitas induk PJAA mencapai Rp275,5 miliar pada tahun ini. Nilai ini tumbuh 34,32% dibandingkan dengan pencapaian pada 2017 yakni Rp220,2 miliar.

Manajemen PJAA mengungkapkan proyeksi kinerja keuangan ini didasarkan atas sejumlah asumsi. PJAA memperkirakan kondisi perekonomian nasional 2018 akan stabil dan cenderung membaik. Proyeksi perseroan didasarkan atas asumsi inflasi 3,5%, kurs Rp13.500, pertumbuhan ekonomi 5,4% dan suku bunga acuan Bank Indonesia 4,25%.

PJAA juga menilai meskipun tren pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta mengalami perlambatan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi nilai pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta selalu di atas nilai pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ini adalah bukti bahwa penduduk DKI Jakarta masih menjadi motor penggerak perekonomian nasional. Sehingga perseroan tetap optimis dengan angka pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta yang selama 3 tahun terakhir (2014-2016) senilai 5.93%,” ungkap manajemen seperti dikutip dari Laporan Tahunan 2017, Senin (23/4/2018).

Target perseroan juga didasarkan atas asumsi jumlah penduduk Jabodetabek sebagai pasar utama ancol mencapai 11,3 juta jiwa pada tahun 2018. Perhitungan ini berdasarkan asumsi laju pertumbuhan penduduk 9% dari populasi penduduk 10,3 juta jiwa pada tahun 2017. Selain pertumbuhan jumlah penduduk, PJAA juga berharap ada peningkatan yang signifikan pada kelas menengah konsumtif di Jabodetabek.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pembangunan jaya ancol

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top