Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Artha Sekuritas: Ini Tiga Sektor Utama Penopang Indeks Bisnis-27

Artha Sekuritas memproyeksikan tiga sektor sebagai penopang utama kinerja indeks Bisnis-27 tahun ini, yakni konsumer, perbankan dan properti.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 26 Maret 2018  |  00:46 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat papan elektronik penunjuk Indeks Harga Saham Gabungan, di Jakarta, Selasa (27/2/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Karyawan beraktivitas di dekat papan elektronik penunjuk Indeks Harga Saham Gabungan, di Jakarta, Selasa (27/2/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Artha Sekuritas memproyeksikan tiga sektor sebagai penopang utama kinerja indeks Bisnis-27 tahun ini, yakni konsumer, perbankan dan properti.

Frederik Rasali, Vice President Research Artha Sekuritas, mengatakan bahwa meskipun kinerja tahun lalu tidak begitu menggembirakan, sektor konsumber berpotensi membukukan kinerja yang lebih baik tahun ini dan menjadi salah satu sektor yang dapat diandalkan sebagai penopang kinerja indeks Bisnis-27.

Beberapa emiten sektor konsumer yang menjadi penopang kinerja indeks Bisnis-27 antara lain ICBP, INDF, MYOR, dan HMSP.

Frederik mengatakan, pemulihan kinerja di sektor ini akan terkait erat pula dengan pemulihan sektor komoditas, perbankan dan properti.

Pemulihan harga komoditas global akhir tahun lalu, terutama tambang dan CPO, akan mendorong korporasi di sektor tersebut untuk mulai berekspansi, melunasi utang di bank, dan menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Hal tersebut akan mendorong kinerja ekonomi, sebab tingkat NPL bank akan menurun sementara daya beli masyarakat meningkat. Hal ini akan mendorong aktivitas konsumsi yang lebih tinggi dari masyarakat.

Sementara itu, tren penurunan suku bunga juga diproyeksikan tidak lagi berlanjut tahun ini sering membaiknya ekonomi global dan keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Masyarakat yang selama ini cenderung menunggu suku bunga untuk turun lebih dalam lagi sebelum menarik kredit konsumsi kemungkinan akan berubah pikiran. Hal ini berpotensi mendorong peningkatan kredit konsumsi masyarakat tahun ini setelah tertahan tahun lalu.

“Konsumen sudah aware tentang suku bunga sudah tidak akan turun lagi. Kalua begitu, mereka akan melakukan spending money, ambil cicilan rumah atau kredit konsumer. Tahun ini, tiga sektor yang saya lihat bagus itu keuangan, konsumer dan properti,” katanya pekan lalu.

Frederik mengatakan, arus permintaan kredit mulai terlihat meningkat di akhrir tahun lalu, meskipun sedikit terhambat di awal tahun ini. Hal ini mengindikasikan ekonomi dalam negeri sedang dalam tahap ekspansi, hanya saja sedikit terhambat lajunya oleh sentimen global.

Namun, sentimen negatif yang berkembang di pasar global saat ini, khususnya perang dagang yang terjadi antara China dan Amerika Serikat, hanya akan menjadi sentimen jangka pendek. Seiring dengan berjalannya waktu pasar akan segera menemukan titik keseimbangan baru dan akan cenderung lebih stabil.

“Pada kuartal pertma ini loan growth memang masih slow, tetapi kita berharap di paruh kedua dan seterusnya itu bisa pick up. Secara fundamental ini akan memperbaiki kinerja emiten finansial,” katanya.

Frederik juga menilai sektor properti akan mendapat angin segar. Pelemahan penjualan properti selama iini telah mendorong banyak pengembang mulai beralih ke produk-produk dengan kisaran harga yang lebih terjangkau. Segmentasi ini umumnya banyak menggunakan skema KPR.

“Suku bunga kita sudah tidak turun lagi, orang pasti akan take action karena ini kesempatan bagus sebelum suku bunga naik lagi. Seharusnya ini akan mendorong kinerja emiten-emiten properti,” katanya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indeks bisnis27
Editor : Riendy Astria

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top