Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

EMITEN PROPERTI: Pendapatan Intiland Development (DILD) Turun 4,3% pada 2017

Emiten properti PT Intiland Development Tbk. membukukan pendapatan usaha pada 2017 senilai Rp2,2 triliun, turun tipis sebesar 4,3% dibandingkan capaian 2016 senilai Rp2,3 triliun. Penurunan terjadi seiring dengan kondisi pasar yang masih kurang kondusif.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 26 Maret 2018  |  16:55 WIB
EMITEN PROPERTI: Pendapatan Intiland Development (DILD) Turun 4,3% pada 2017
CEO PT Intiland Development Tbk Hendro Gondokusumo (dari kiri) berbincang dengan Direktur Pemasaran Susan Pranata, dan Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Archied Noto Pradono di sela-sela konferensi pers, di Senayan City, Jakarta, Kamis (12/10). - JIBI/Endang Muchtar
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten properti PT Intiland Development Tbk. membukukan pendapatan usaha pada 2017 senilai Rp2,2 triliun, turun tipis sebesar 4,3% dibandingkan capaian 2016 senilai Rp2,3 triliun. Penurunan terjadi seiring dengan kondisi pasar yang masih kurang kondusif.

Archied Noto Pradono, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland Development, menilai kondisi pasar properti secara umum belum sepenuhnya pulih di tahun 2017.

Pasar properti nasional masih menghadapi sejumlah tantangan pertumbuhan, selain juga disebabkan konsumen dan investor yang cenderung masih mengambil sikap menunggu terhadap perubahan kondisi pasar.

“Segmen pengembangan kawasan industri dan recurring income menjadi pendorong utama pencapaian kinerja keuangan tahun 2017. Hasil penjualan lahan kawasan industri sepanjang tahun lalu bisa langsung dibukukan sebagai pendapatan usaha,” ungkap Archied dalam siaran pers, Senin (26/3/2018).

Segmen pengembangan kawasan industri mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp550,9 miliar, atau memberikan kontribusi sebesar 25% dari keseluruhan. Jumlah tersebut melonjak sebesar 578% dibandingkan pencapaian tahun 2016 yang mencapai Rp81,3 miliar.

Segmen properti investasi yang merupakan sumber recurring income atau pendapatan berulang memberikan kontribusi senilai Rp528,2 miliar atau 24% dari keseluruhan. Segmen ini meraih pertumbuhan pendapatan usaha sebesar Rp180,6 miliar atau 52% dari pencapaian pada 2016 senilai Rp347,6 miliar.

Peningkatan yang cukup signifikan ini, terutama dipicu oleh meningkatnya kontribusi dari pendapatan sewa perkantoran serta pengelolaan fasilitas gedung dan kawasan.

Segmen pengembangan mixed-use & high rise mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp703,6 miliar, atau memberikan kontribusi 31,9%. Segmen pengembangan kawasan perumahan tercatat memberikan kontribusi sebesar Rp420 miliar atau 19,1%.

Menurut Archied, pengakuan penjualan pada dua segmen ini mengalami penurunan masing-masing sebesar 37% dan 43%. Penurunan ini lebih disebabkan marketing sales yang diperoleh dari kedua segmen tersebut belum bisa diakui sebagai pendapatan usaha.

“Penurunan ini karena marketing sales pada segmen mixed-use and high rise dan kawasan perumahan belum bisa dibukukan sebagai pendapatan usaha 2017, karena menunggu progres pembangunan,” ungkap Archied.

Pada tahun lalu, emiten dengan ticker DILD ini memperoleh kinerja marketing sales cukup baik, yakni sebesar Rp3,3 triliun, atau 106,3% lebih tinggi dari 2016. Segmen pengembangan mixed-use & high rise serta kawasan perumahan memberikan kontribusi marketing sales masing-masing sebesar Rp1,9 triliun dan Rp 483 miliar.

Ditinjau berdasarkan tipenya, pendapatan dari pengembangan (development income) memberikan kontribusi sebesar Rp1,67 triliun atau 76% dari keseluruhan.

Sementara itu, pendapatan berkelanjutan yang berasal dari segmen properti investasi seperti penyewaan perkantoran, pengelolaan sarana olah raga, pengelolaan kawasan dan gedung, serta penyewaan pergudangan memberikan kontribusi Rp 528,2 miliar atau 24%.

Dari sisi kinerja profitabilitas, DILD membukukan laba kotor sebesar Rp955,7 miliar dan laba usaha mencapai Rp344,9 miliar. Laba bersih perseroan tercatat mencapai Rp297,5 miliar, cenderung sama dengan perolehan tahun lalu.

“Di tengah tantangan besar sepanjang tahun lalu, perseroan berhasil menjaga kinerja laba bersih. Kami masih mempertahankan langkah dan strategi konservatif pada tahun ini,” kata Archied lebih lanjut.

Menghadapi kondisi pasar pada 2018, perseroan telah menyiapkan sejumlah strategi kunci untuk menjaga pertumbuhan kinerja usaha. Salah satunya adalah melalui pengembangan dan peluncuran proyek-proyek baru yang akan dilakukan tahun ini.

“Untuk meluncurkan proyek-proyek baru, kami tentu tetap mempertimbangkan perubahan arah dan kondisi pasar. Namun kami yakin kondisinya akan berangsur membaik, sehingga pasar properti akan kembali bergairah dan kondusif bagi investasi,” kata Archied.

Manajemen perseroan berkeyakinan kondisi pasar properti nasional akan bergerak membaik tahun ini. Perubahan ke arah positif tersebut, antara lain ditopang oleh sejumlah faktor, antara lain arah perkembangan indikator perekonomian dan iklim investasi Indonesia yang cenderung tumbuh positif.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

intiland development
Editor : Ana Noviani
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top