REKOMENDASI SAHAM: Ini Strategi Sumber Alfaria (AMRT) Raih Cuan

Kian dekat dengan hunian masyarakat, membuat PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. lebih gesit dalam memutar strategi meraih cuan tanpa tergerus beban.
Novita Sari Simamora | 21 Maret 2018 20:52 WIB
Gerai Alfamart - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA - Kian dekat dengan hunian masyarakat, membuat PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. lebih gesit dalam memutar strategi meraih cuan tanpa tergerus beban.

AKtivitas belanja masyarakat yang doyan ke supermarket, dan beralih ke minimarket, membuat Sumber Alfaria Trijaya yang dikenal dengan brand Alfamart gencar membuka gerai-gerai baru setiap tahun. Tak tanggung-tanggung, pada tahun lalu, AMRT pun telah membuka 1.111 gerai baru.

Lebih dari 1.000 gerai baru itu, ternyata memang tak dimiliki langsung oleh Alfamart. Hanya 170 gerai baru yang menggunakan konsep waralaba, selebihnya 941 gerai dimiliki langsung oleh Alfamart.

Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan Sumber Alfaria Trijaya Tomin Widian membeberkan beberapa faktor penyebab penaikan beban perseroan. Pertama, karena adanya peningkatan beban amortisasi sewa yang disebabkan nilai perpanjangan sewa untuk toko-toko mengalami kenaikan.

Harga sewa perpanjangan yang tidak sama dengan harga sewa awal membuat beban AMRT kian naik. Bahkan, peningkatan harga sewa itu pun telah menekan laba AMRT pada tahun lalu.

Faktor kedua, komponen gaji dan upah dimana komponen tersebut sudah merepresentasikan 50% dari angka total beban dan kenaikan tiap tahun komponen itu di atas 8%.

Ketiga, kenaikan beban utilities koneksi informasi teknologi, dimana AMRT mengupayakan perbaikan pada koneksi informasi teknologi data di toko sehingga dapat memenuhi kebutuhan pelanggan terutama terkait dengan layanan e-services.

Dalam laporan keuangan 2017, AMRT berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan mendekati dua digit yakni 9,5% menjadi Rp61,46 triliun. Namun, beberapa beban dan biaya AMRT naik lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pendapatan.

Lebih detail, beban pokok pendapatan AMRT pada 2017 mencapai Rp49,46 triliun, tumbuh 9,35% year on year dari posisi Rp45,23 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Beban penjualan dan administrasi emiten bersandi saham AMRT per 2017 senilai Rp10,34 triliun, naik 15,7% secara tahunan dan beban umum dan administrasi naik 6,1% menjadi Rp1,2 triliun per akhir 2017.

Selain itu, beban keuangan AMRT pun naik hingga 23% menjadi Rp646,93 miliar per akhir 2017, dari posisi Rp525,82 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan biaya dan beban tersebut membuat laba AMRT tertekan.

Penaikan beban tersebut pun membuat laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk AMRT senilai Rp300,27 miliar, turun 50% dari posisi Rp601,58 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

"Kami akan terus berupaya memperbaiki bisnis proses supaya bisa lebih efektif dan efisien," ungkapnya kepada Bisnis.com melalui surat elektronik.

Pada tahun ini, AMRT akan mengalokasikan belanja modal senilai Rp2,3 triliun untuk membuka 800 gerai Alfamart pada tahun ini. Jumlah gerai yang dibuka pada tahun ini memang lebih sedikit dibandingkan tahun lalu.

Pembukaan gerai yang lebih sedikit ini, katanya, sejalan dengan kondisi makro ekonomi yang kurang mendukung dan juga pencapaian kinerja perusahaan yang belum sesuai dengan harapan manajemen. Tomin menuturkan, sebaran gerai baru paling banyak pada tahun ini akan berada di luar Pulau Jawa.

Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya menuturkan, biaya operasional AMRT cenderung meningkat, bila biaya sewa gerai-gerai mencatatkan peningkatkan. Namun, kenaikan biaya operasional tersebut bisa ditanggulangi dengan menaikkan biaya produk yang dijual, untuk meningkatkan margin.

Sayangnya, AMRT masih lebih banyak melakukan promosi, karena maraknya gerai-gerai minimarket dari kompetitor lainnya. Dia mengungkapkan, peritel minimarket saat ini tengah berkompetisi sangat ketat.

Untungnya, aktivitas belanja di minimarket terbilang tinggi, karena lebih dekat dengan rumah-rumah masyarakat. Christine memproyeksikan, pertumbuhan pendapatan peritel minimarket pada tahun ini berpotensi berada pada kisaran 7%-8%.

Dia memprakirakan, bisnis minimarket pada tahun ini belum akan sebaik tahun lalu. Alasannya, pada tahun lalu, minimarket telah sangat ekspansi.

Christine pun memberikan rekomendasi hold untuk saham AMRT, mengingat laba peritel ini kian tergerus dan margin yang dimiliki semakin kecil. Dia pun memprakirakan, harga saham AMRT akan berada di level Rp620 hingga akhir tahun.

Berdasarkan konsensus Bloomberg, lima analis merekomendasikan buy, satu analis rekomendasi hold dan satu analis merekomendasikan sell. Konsensus Bloomberg memproyeksikan harga saham AMRT berpotensi mencapai Rp731,25 hingga akhir tahun.

Konsensus Bloomberg juga memproyeksikan, pendapatan dan laba bersih AMRT pada tahun ini masing-masing akan menjadi Rp71,31 triliun dan Rp616,71 miliar. Di sisi lain, laba per saham hingga akhir tahun diproyeksikan akan mencpai Rp38,48.

Tag : alfamart
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top