Ini Latar Belakang Emiten Kapal Pengangkut Komoditas Siap Ekspansi Tahun Ini

Pemulihan harga komoditas dunia menjadi momentum bagi emiten kapal angkutan komoditas untuk kembali ekspansif pada tahun ini setelah kinerja perseroan sempat lesu selama 2 tahun terakhir.
Dara Aziliya | 20 Februari 2018 15:35 WIB
Kapal pengangkut LNG. - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Pemulihan harga komoditas dunia menjadi momentum bagi emiten kapal angkutan komoditas untuk kembali ekspansif pada tahun ini setelah kinerja perseroan sempat lesu selama 2 tahun terakhir.

Harga komoditas yang konsisten kembali ke level normal mendorong produsen batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) untuk meningkatkan produksi, sehingga volume yang akan ditransportasikan ikut terkerek.

Dari informasi yang dihimpun Bisnis.com, beberapa perusahaan pelayaran yang bergerak khusus di sektor pengangkut komoditas optimistis iklim bisnis pada tahun ini akan jauh membaik setelah pada tahun lalu perseroan mencatatkan net loss.

Wakil Direktur Utama PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk. Lucas Djunaidi mengungkapkan pada tahun ini perseroan optimistis porsi kontrak jangka panjang akan meningkat, setelah pada tahun lalu hanya bertahan di level 50%-an.

“Beberapa tahun terakhir industri batu bara sempat melemah. Saat masa keemasan batu bara, porsi kontrak jangka panjang kami 90%—95%, sisanya 5%—10% hanya spot business. Dengan bergairahnya harga batu bara, harapan kami porsi kontrak jangka panjang bisa kembali seperti dulu,” ungkap Lucas di Jakarta, Selasa (20/2/2018).

Lucas mengatakan dalam dua bulan berjalan pada 2018 ini, manajemen sudah melihat tren pertumbuhan kontrak-kontrak pengangkutan baru. Kontrak diyakini terus berdatangan, sehingga kinerja perseroan dapat membaik.

Emiten kapal dengan kode saham MBSS tersebut pun belum lama ini memperoleh kontrak durasi 5 tahun dari PT Muji Lines dengan nilai mencapai US$78 juta.

Sepanjang Januari—September 2017, MBSS membukukan rugi bersih sebesar US$7,11 juta atau naik 14,75% (yoy). Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal US$27,2 yang akan digunakan untuk belanja dan perbaikan kapal.

Direktur Utama PT Buana Lintas Lautan Tbk. Kevin Wong menyampaikan pada tahun ini, akan banyak peluang bagi bisnis kapal pengangkut komoditas seiring perbaikan harga batu bara di tingkat internasional.

“Banyak peluang bagi PT Buana Lintas Lautan Tbk. untuk berembang lebih cepat dari pada tahun-tahun sebelumnya. Kami mempersiapkan diri untuk menangkap peluang dengan rencana-rncana yang extraordinary,” ungkap Kevin.

Adapun, belum lama ini emiten dengan kode saham BULL tersebut menempuh penambahan modal engan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau right issue dengan mengincar dana sebesar Rp650 miliar.

Menurut Kevin, dana tersebut akan digunakan untuk pengembangan armada, penguatan modal kerja, dan pembayaran pinjaman perseroan. Selama Janauri—September 2019, perseroan berhasil mencatatkan laba bersih US$10,6 juta setelah pada periode sama tahun 2016 membukukan rugi US$75.691.

Sementara itu, Investor Relations PT Wintermar Offshore marine Tbk. Pek Swan Layanto menyampaikan sejumlah proyek produksi komoditas memang menunjukkan gairah pada tahun ini setelah ada yang sempat dihentikan sejak 3 tahun lalu.

Swan menjelaskan meski baru dua bulan berjalan, kenaikan harga minyak berhasil mengerek sentimen positif pada sektor pelayaran Indonesia. Untuk itu, emiten dengan kode saham WINS tersebut pun bersiap menangkap peluang melalui private placement dengan target perolehan dana sebesar Rp70 miliar.

“Tujuan private placement ini memang untuk memperkuat capital dan untuk cadangan kas kami sehingga waktu ada kesempatan [proyek] masuk, kas kami siap. Sekarang harga minyak menguat lagi, sentimen sudah positif lagi sehingga menggerakkan proyek,” ungkap Swan.

Selama 9 bulan pertama 2017, perseroan membukukan rugi komprehensif periode berjalan sebesar US$13,12 juta atau naik 15,9% dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya.

Tag : komoditas, kapal
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top