EPS Sektor Perbankan Diproyeksi Tumbuh 16%, Pantau Saham Bank Pilihan Bahana Sekuritas

Seiring dengan peningkatan permintaan kredit serta rasio kredit bermasalah yang perlahan turun, biaya cadangan atau provisi perbankan semakin kecil, sehingga laba bersih industri perbankan akan membaik hingga akhir tahun ini.
Fajar Sidik | 25 September 2017 10:52 WIB
Karyawan memperhatikan monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (12/9). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Sektor perbankan diprediksi memiliki posisi yang lebih bagus dibanding sektor lainnya hingga 12 bulan ke depan, dengan perkiraan earning per share (EPS) bakal tumbuh 16%. 

Plt Kepala Riset dan Strategi Bahana Sekuritas Henry Wibowo menjelaskan setelah selama satu-dua tahun terakhir industri perbankan mengalami seretnya permintaan kredit ditambah dengan meningkatnya rasio kredit bermasalah, memasuki paruh kedua tahun ini mulai terlihat sentimen positif yang diperkirakan akan berlanjut hingga tahun depan sehingga mampu mendongkrak kinerja perbankan nasional.

Menurutnya, beberapa faktor yang menjadi pendorong bagi kinerja perbankan diantaranya kenaikan harga komoditas yang konsisten, membuat industri semakin yakin untuk melakukan ekspansi usaha pada tahun depan yang telah dimulai dari kuartal terakhir tahun ini.

Selain itu, konsistensi kenaikan harga komoditas ini membuat pelaku usaha mampu membereskan kredit bermasalah di perbankan, sekaligus membutuhkan tambahan modal untuk ekspansi usaha ke depan. Sehingga permintaan kredit diperkirakan akan meningkat pada semester kedua tahun ini.

Komitmen Presiden Joko Widodo untuk membenahi infrastruktur di seluruh Indonesia mulai dari pembangunan jalan tol, kereta Light Rail Transit (LRT), pembangunan jembatan, penambahan jalur kereta yang baru serta infrastruktur pendukung lainnya tentunya tak terlepas dari pembiayaan perbankan, terutama bagi bank-bank milik negara.

Bahana Sekuritas melihat kredit perbankan sepanjang 2017 diperkirakan tumbuh sekitar 9%--10% karena permintaan kredit dari sektor konsumer dan korporasi masih akan meningkat.

Pada akhir Juli 2017, kredit tumbuh 8,2% dibanding periode yang sama tahun lalu, yang merupakan akselerasi dibanding pertumbuhan 7,7% pada akhir Juni 2017. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) tercatat sebesar 3,0% di akhir Juli 2017, lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 3,18%.

''Seiring dengan peningkatan permintaan kredit serta rasio kredit bermasalah yang perlahan turun, biaya cadangan atau provisi perbankan semakin kecil, sehingga laba bersih industri perbankan akan membaik hingga akhir tahun ini,'' jelas Henry Wibowo dalam siaran pers yang diterima Bisnis.com, Senin (25/9/2017).

''Penurunan pencadangan ini cenderung tidak akan berdampak terlalu banyak pada laba perbankan tahun depan, namun laju permintaan kredit tahun depan diperkirakan lebih tinggi dibanding tahun ini karena tahun depan sudah akan dimulai kegiatan kampanye,'' tambahnya.

Henry menambahkan, bila menilik data kredit perbankan berdasarkan sektor hingga akhir Juli, terlihat peningkatan kredit dari sektor konsumer yang mengambil porsi 28% dari total kredit, tumbuh 10,1% secara tahunan. Kredit modal kerja yang mengambil porsi 47% dari total kredit meningkat 8,1% dibanding Juli tahun lalu, sedangkan kredit Investasi yang mendapat porsi 25% dari total kredit nasional, tumbuh 6,4% dibanding periode yang sama tahun lalu.

Anak usaha Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) ini meyakini sektor perbankan memiliki posisi yang lebih bagus dibanding sektor lainnya hingga 12 bulan ke depan, dengan perkiraan earning per share (EPS) bakal tumbuh 16% dibandingkan dengan pertumbuhan pasar secara keseluruhan yang diperkirakan sekitar 12% - 14%.

Bahana merekomendasikan beli untuk saham bank besar seperi Bank Mandiri dengan kode saham BMRI target harga Rp 8.125 per lembar, bank BUMN ini diuntungkan dengan turunnya biaya pencadangan serta pembiayaan yang disalurkan untuk proyek infrastruktur.

Bank Rakyat Indonesia yang berkode saham BBRI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 17.000/lembar, bank yang mendominasi pembiayaan untuk sektor mikro, kecil dan menengah ini masih akan membukukan net interest margin yang besar.

Sedangkan untuk bank skala menengah-kecil, Bahana merekomendasikan beli untuk saham Bank CIMB Niaga yang berkode saham BNGA, dengan target harga Rp 1.600/lembar . Kehadiran CEO baru perseroan membawa perubahan yang positif sejak dua tahun yang lalu, serta valuasi yang murah di bawah 1.0x Price-to-Book menjadi faktor yang menguntungkan.

Saham Bank Pan Indonesia yang berkode saham PNBN, juga layak dikoleksi dengan adanya rencana merger dan akuisisi serta rencana divestasi 39% saham ANZ Australia yang ada di Panin Bank. Bahana memberi target harga Rp 1.400/lembar untuk saham PNBN.

 

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rekomendasi saham

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top