Malaysia dan Indonesia Jajaki Suplai Biodiesel ke China

Dua negara produsen utama minyak kelapa sawit, yakni Indonesia dan Malaysia akan membicarakan persoalan pengiriman biodiesel ke China.
Hafiyyan | 24 Agustus 2017 08:53 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA--Dua negara produsen utama minyak kelapa sawit, yakni Indonesia dan Malaysia akan membicarakan persoalan pengiriman biodiesel ke China.

Seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (24/8/2017), Menteri Industri Perkebunan dan Komoditas Malaysia Mah Kew Siong mengatakan, kedua negara akan berdiskusi utuk mengekspor minyak sawit berbasis biodiesel ke China. Pasalnya, Negeri Panda ingin menerapkan program B5

"China mencari biodiesel karena akan meningkatkan kontrol lingkungan. Jika B5 diterapkan, itu menciptakan pasar CPO yang besar," paparnya.

Menurutnya, Indonesia dan Malaysia perlu bekerja sama untuk memenuhi permintaan China. Malaysia juga ingin memperluas pasar biodiesel ke negara-negara lain seperti India dan Filipina.

Analis PT Asia Trade Point Futures Deddy Yusuf Siregar mengatakan program B5 yang direncanakan China akan menciptakan kebutuhan CPO baru sebesar 9 juta ton per tahun. Artinya, Negeri Panda menjadi pasar potensial untuk meningkatkan ekspor CPO dari Indonesia.

Tahun lalu, China menyerap 3,8 juta ton CPO dari Indonesia. Mengutip data Bank Dunia, negara tersebut mengonsumsi 5 juta ton minyak kelapa sawit pada musim 2016-2017.

Menurut Deddy, program B5 China juga menjadi harapan baru untuk menopang harga CPO dalam jangka panjang. Pasalnya, pasar berkali-kali melakukan aksi jual karena melihat proyeksi kenaikan produksi CPO pada 2017.

Bahkan ada peluang volume suplai semakin bertumbuh dalam beberapa periode mendatang setelah terhambat EL Nino pada 2016 silam.

"Kans naiknya harga CPO tahun ini terhalang oleh proyeksi pertumbuhan produksi," ujarnya.

Pada tahun ini, produksi CPO Indonesia diperkirakan naik 12,69% year on year (yoy) menjadi 35,5 juta ton pada. Sementara suplai baru dari Malaysia diprediksi bertumbuh 10,17% yoy menjadi 19,5 juta ton dari 17,7 juta ton pada 2016.

Sebelumnya, produksi CPO kedua negara yang menyumbang lebih dari 80% suplai global merosot pada 2016 akibat hambatan cuaca. Data Malaysian Palm Oil Board menunjukkan volume produksi merosot 13,24% yoy menuju 17,32 juta ton dari sebelumnya 19,96 juta ton.

Sementara data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebutkan total produksi minyak sawit pada 2016 turun 3% yoy menjadi 34,5 juta ton, yang masing-masing disokong oleh CPO sejumlah 31,5 juta ton dan palm kernel oil (PKO) sebesar 3 juta ton. Pada 2015 jumlah pasokan mencapai 35,5 juta ton.

Jadi, dengan proyeksi pemulihan suplai yang menekan harga, pelaku usaha masih bisa berharap sisi permintaan meningkat. Harapan besar itu berasal dari program B5 China.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
cpo

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup