Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rubber Authority of Thailand: Peningkatan Pasokan Tekan Harga Karet

Rubber Authority of Thailand menyebutkan harga karet menurun karena pasar secara fundamental mengalami tekanan. Kuantitas pasokan meningkat setelah cuaca hujan berakhir.
Ilustrasi./Bisnis
Ilustrasi./Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA— Rubber Authority of Thailand menyebutkan harga karet menurun karena pasar secara fundamental mengalami tekanan. Kuantitas pasokan meningkat setelah cuaca hujan berakhir.

"Pertumbuhan suplai membuat pembeli tidak mempercepat permintaannya, karena persaingan cenderung sedikit," paparnya dalam situs resmi, Jumat (7/7/2017).

Selain itu, harga minyak mentah yang menurun turut menekan nilai jual karet. Harga minyak melesu menyusul laporan soal kenaikan produksi OPEC pada Juni 2017.

Investor pun cenderung berhati-hati karena Federal Reserve berencana mengurangi akun neracanya. Pelemahan dolar yang membuat yen meningkat juga turut menekan permintaan karet.

Namun pelemahan baht Thailand bisa memicu peluang eskpor, terutama karet. Alhasil harga komoditas tersebut masih mendapatkan sentimen positif.

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/7/2017) harga karet kontrak Desember 2017 di bursa Tokyo naik 0,9 poi menjadi 197,40 yen per kg. Harga sudah menurun 25,19% sepanjang tahun berjalan.

Sebelumnya Rubber Authority of Thailand menyampaikan tiga negara pemasok utama karet global, yakni Thailand, Indonesia, dan Malaysia akan bertemu pada 5—7 Juli 2017 untuk membahas cara mengatasi gejolak harga. Namun, belum ada informasi terbaru perihal hasil pertemuan tersebut.

Ketiga negara sebelumnya sudah membentuk International Tripartite Rubber Council (ITRC). ITRC sempat membuat langkah strategis memangkas kapasitas ekspor atau Agreed Export Tonnage Scheme (AETS) pada Maret—Desember 2016.

Di bawah perjanjian AETS, tiga negara yang memasok 60% kebutuhan karet global memotong total ekspornya sebanyak 700.000 ton. Sentimen ini sebenarnya memberikan dampak positif terhadap harga pada tahun lalu. Namun, sejak 2017 perjanjian ini belum diperbarui.

Mengutip dari Bloomberg, Rubber Authority of Thailand dan 5 perusahaan eksportir dari Negeri Gajah Putih juga sudah menyiapkan dana stabilisasi harga. Pernyataan resmi tersebut disampaikan pada Rabu (28/6/2017).

Setiap entitas nantinya menyumbang 200 juta baht (US$5,89 juta) untuk menaikkan harga jual di tingkat global. Dana digunakan untuk pasar fisik dan berjangka. Di pasar berjangka, kini pembelian bisa naik hingga 200.000 ton.

Gejolak harga karet membuat pemerintah Thailand meningkatkan konsumsi lokal. Instansi pemerintah setempat akan mengambil 20.000 ton dalam proyeknya. Sementara Rubber Authority memasok cadangan sebesar 100.000 ton untuk penggunaan rumah tangga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hafiyyan

Topik

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro