Indeks Manufaktur China Naik, Dolar Australia Terkerek

Menguatnya data aktivitas manufaktur China menguatkan mata uang dolar Australia (AUD). Pasalnya, pembelian terhadap sejumlah komoditas bahan baku logam dari Negeri Kangguru diperkirakan meningkat.
Hafiyyan | 30 Juni 2017 11:00 WIB
Manufaktur China - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Menguatnya data aktivitas manufaktur China menguatkan mata uang dolar Australia (AUD). Pasalnya, pembelian terhadap sejumlah komoditas bahan baku logam dari Negeri Kangguru diperkirakan meningkat.

Pada perdagangan Jumat (30/6/2017) pukul 10.29 WIB mata uang AUD naik 0,0015 poin atau 0,20% menuju 0,7698 per dolar AS. Ini merupakan peningkatan dalam 3 sesi beruntun. Angka tersebut juga menjadi level tertinggi sejak 20 Maret 2017.

Asia Trade Poin Futures dalam publikasi risetnya hari ini menuliskan kenaikan data ekonomi China mempengaruhi naiknya AUD-USD, dimana data Manufacturing PMI dan data Non-Manufacturing PMI dirilis di atas ekspektasi pasar

Data manufaktur China atau manufacturing purchasing manager’s index (PMI) periode Juni 2017 naik ke level 51,7. Angka ini melampaui estimasi konsensus sebesar 51.

Pencapaian tersebut juga meningkat dari Mei 2017 di posisi 51,2. Level 50 menunjukkan adanya ekspansi. Hal ini memberikan sentimen positif terhadap harga komoditas, terutama logam dasar.

Kenaikan AUD-USD juga disebabkan oleh data rilis kredit sektor swasta bulanan maupun tahunan yang positif, dimana data kredit sektor swasta bulanan dirilis sesuai harapan di level 0,4 %. Adapun kredit sektor swasta tahunan dirilis sesuai harapan di posisi 0,4 %.

Dalam riset berbeda, Monex Investindo Futures menyampaikan pasar tenaga kerja Australia yang mengalami perbaikan membawa AUD-USD menguat. Pada Mei 2017, jumlah lowongan pekerjaan naik 1,5%.

Kendati di bawah prediksi pasar yang mengatakan akan ada kenaikan 1,8%, secara tahunan angka ini naik 11,4%, atau pertumbuhan tertinggi sejak 2010. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun juga naik menjadi 2,512%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, australia

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top