Malindo Feedmill (MAIN) Bidik Pertumbuhan Penjualan 15 Persen

Emiten perunggasan PT Malindo Feedmill Tbk. membidik pertumbuhan penjualan sebesar 15% menembus Rp6 triliun pada 2017.
Ana Noviani | 20 Juni 2017 18:23 WIB
Ilustrasi - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten perunggasan PT Malindo Feedmill Tbk. membidik pertumbuhan penjualan sebesar 15% menembus Rp6 triliun pada 2017. 

Direktur Malindo Feedmill Rudy Hartono mengatakan perseroan bakal memperluas pangsa pasar pakan ternak, day old chick (DOC) dan ayam potong untuk mendongkrak penjualan. Di sisi lain, perseroan juga kian agresif memasarkan produk makanan olahan yang diproduksi. 

"Tahun ini kami proyeksi penjualan naik sekitar 15%. Mudah-mudahan pemerintah mendukung industri dan ekonomi nasional tumbuh sehingga target ini bisa tercapai," tuturnya, Selasa (20/6). 

Kendati demikian, capaian kinerja emiten berkode saham MAIN pada kuartal I/2017 kurang menggembirakan. Dalam periode Januari-Maret 2017, penjualan MAIN tertekan 2,4% menjadi Rp1,27 triliun dan laba bersih terkoreksi 52,5% menjadi Rp24,85 miliar. 

Penurunan tersebut, kata Rudy, disebabkan oleh penurunan harga pakan. Padahal, volume penjualan pakan ternak mengalami peningkatan. Selain itu, perseroan mengalami lonjakan beban pokok produksi akibat mahalnya harga jagung lokal.  

"Jagung impor itu harganya di bawah Rp3.000 per Kg, sekarang kami beli jagung dari petani Rp4.700 per Kg dengan kadar air yang lebih tinggi dari jagung impor," keluhnya. 

Kendati begitu, Rudy menegaskan komitmen perseroan untuk mendukung langkah pemerintah mendorong swasembada jagung nasional. Konsekuensinya, MAIN memproyeksi akan terjadi penurunan margin keuntungan dalam 1-2 tahun mendatang. Selain itu, perseroan bakal menggulirkan belanja modal untuk pembangunan fasilitas pengeringan jagung (corn dryer) di sentra-sentra produksi jagung nasional. 

Tak hanya mengandalkan penjualan pakan ternak, ayam pedaging, dan DOC yang menyumbang 92% terhadap total pendapatan perseroan, MAIN juga semakin giat mendorong divisi makanan olahan dengan merek Sunny Gold, Ciki Wiki, dan Sobat. Perseroan telah membuat iklan televisi untuk produk Sunny Gold yang mulai ditayangkan sejak Mei 2017.

"Tahun lalu makanan olahan naik 43%, kuartal I/2017 sudah naik 40%. Kami optimistis akan boosting terus," imbuhnya. 

Sayangnya, Rudy mengatakan penjualan makanan olahan sepanjang periode Ramadan dan jelang Lebaran tahun ini tidak setinggi yang diproyeksi perseroan. 

Di sisi lain, perseroan belum menebus pasar ekspor Jepang kendati sudah mendapat izin ekspor makanan olahan sejak 2015. Menurutnya, MAIN belum mencapai kesepakatan business to business dengan importir Negeri Sakura lantaran harga yang kurang kompetitif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
malindo feedmill

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top