Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bersiap IPO, Totalindo Incar Kontrak Baru Rp3 Triliun

Perusahaan konstruksi PT Totalindo Eka Persada menargetkan kontrak baru tahun ini senilai Rp3 triliun, meningkat 100% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang sekitar Rp1,52 triliun seiring rencana perseroan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia pada pertengahan tahun ini.
Totalindo/Istimewa
Totalindo/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan konstruksi PT Totalindo Eka Persada menargetkan kontrak baru tahun ini senilai Rp3 triliun, meningkat 100% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu yang sekitar Rp1,52 triliun seiring rencana perseroan untuk melantai di Bursa Efek Indonesia pada pertengahan tahun ini.

Eko Wardoyo, Direktur Totalindo Eka Persada mengatakan, perseroan optimistis dapat mencapai target tersebut, sebab pada lima bulan pertama tahun ini saja perseroan sudah mengantongi kontrak baru senilai Rp1,49 triliun, sekitar 50% dari targetnya.

“Saya pikir kalau kami sudah bisa kantongi empat proyek dengan nilai Rp1,5 triliun di awal tahun ini, maka untuk mencapai Rp3 triliun itu sangat achievable,” katanya usai acara due diligence meeting & publick expose dalam rangka penawaran umum perdana saham Totalindo di Jakarta, Selasa (9/5/2017).

Adapun, carry over kontrak perseroan pada tahun lalu yang dibawa ke tahun ini adalah senilai Rp2,69 triliun dari 11 proyek multiyears. Dengan demikian, target kontrak dihadapi perseroan tahun ini akan mencapai Rp5,69 triliun.

Donald Sihombing, Direktur Utama Totalindo Eka Persada, mengatakan bahwa optimism perseroan untuk meningkatkan target kontrak baru yang tinggi pada tahun ini adalah karena menguatnya struktur permodalan perseroan setelah menggelar penawaran umum perdana.

Perseroan akan melepas 2,15 miliar saham baru kepada publik, atau setara 30,07% dari modal disetor dan ditempatkan setelah IPO. Harga pelaksanaan IPO saham perseroan ditargetkan antara Rp300 hinga Rp490 per saham.

Dengan kata lain, target dana segar yang akan dikantongi perseroan dari aksi korporasi ini akan mencapai antara Rp645 miliar hingga Rp1,05 triliun. Pencatatan saham perseroan ditargetkan akan dilakukan pada 9 Juni 2017, sehingga dana tersebut sudah akan efektif digunakan di sisa tahun ini.

Donald mengaku tidak terlalu kuatir dengan fluktuasi yang terjadi di pasar konstruksi bangunan gedung saat ini akibat lesunya bisnis properti. Menurutnya, segmen properti yang sangat terpengaruh pada pelemahan ekonomi selama ini adalah segmen atas.

Sementara itu, segmen menengah hingga bawah sejatinya masih cukup baik. Proyek-proyek properti dan infrastruktur dari pemerintah juga cukup melimpah tahun ini sehingga menjadi penyeimbang di tengah kelesuan permintaan konstruksi swasta.

Oleh karena itu, perseroan tahun ini berniat lebih banyak menyasar proyek dari pemerintah. Tahun lalu, kontrak proyek pemerintah yang ditangani perseroan hanya 3% dari seluruh kontrak, atau hanya sekitar Rp45 miliar.

Tahun ini, perseroan ingin meningkatkan porsinya hingga 42% dari seluruh kontrak baru. Dengan kata lain, dari target Rp3 triliun, proyek pemerintah diharapkan mencapai hingga Rp1,26 triliun.

“Hingga Mei, kami sudah memperoleh Rp760 miliar dari kontrak proyek pemerintah tahun ini. Kami masih sangat optimis bisa memperoleh Rp500 miliar lagi, karena proyek pemerintah itu nilainya puluhan triliun,” katanya.

Donald mengatakan, konsultan properti Colliers International Indonesia memproyeksikan dalam tiga tahun ke depan proyek properti segmen menengah ke bawah akan terus bertumbuh, terutama dari program pemerintah.

Oleh karena itu, perseroan memutuskan untuk lebih memburu proyek-proyek pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah, khususnya proyek rumah susun. Untuk Jakarta saja, akan ada 60 menara rumah susun pemerintah yang akan dibangun tahun ini dengan nilai kontrak sekitar Rp3,5 triliun untuk tiga tahun.

Menurutnya, perseroan tidak saja akan menyasar pasar Jakarta, tetapi juga wilayah lain seperti Jawa Barat dan Sumatra Utara. Di sisi lain, sejumlah pengembang properti pun mulai lebih banyak meluncurkan proyek yang menyasar segmen menengah bawah.

Menurut data Colliers, sebanyak 56% dari apartemen baru di wilayah Jakarta tahun lalu adalah proyek yang menyasar segmen bawah, sementara segmen atas hanya 19% dan segmen menengah 25%. Tahun ini, segmen bawah akan mencakup 17% proyek, sementara segmen menengah mencapai 61% dan segmen atas 22%.

Perseroan saat ini tengah mengikuti 11 tender proyek dari sejumlah pelanggan tetap perseroan. Donald optimistis perseroan bisa memenangkan minimal 7 di antaranya.

Adapun, lima pelanggan utama perseroan dengan nilai kontrak tertinggi sepanjang 2012-2016 yakni Agung Podomoro Group 43%, Agung Sedayu Group 17%, Synthesis Group 14%, Maxima Realty 13%, dan Nusa Kirana Group 13%. Total nilai kontrak kelimanya mencapai Rp5,6 triliun.

Sementara itu, dari sisi jumlah proyek terbanyak, pelanggan terbesar Totalindo adalah pemerintah, yakni 33% dari seluruh kontrak perseroan untuk 2012-2016.

Sebagai catatan, meski target kontrak baru perseroan tahun ini berada di atas rata-rata lima tahunnya, target kontrak tahun ini masih lebih rendah dibandingkan realisasi kontrak baru pada 2015 lalu yang mencapai Rp3,89 triliun.

Nilai kontrak baru Totalindo lima tahun terakhir yakni Rp303 miliar pada 2012, Rp1,88 triliun pada 2013, Rp863 miliar pada 2014, Rp3,89 miliar pada 2015, dan Rp1,52 miliar pada 2016.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Fajar Sidik

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper