Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

LAJU SAHAM 8 MEI: Berikut Bahasan Aksi Emiten

Sejumlah aksi emiten korporasi menjadi penggerak kurs rupiah dan IHSG hari ini.
Mia Chitra Dinisari
Mia Chitra Dinisari - Bisnis.com 08 Mei 2017  |  10:27 WIB
Total Bangun Persada - Istimewa
Total Bangun Persada - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Sejumlah aksi emiten korporasi menjadi penggerak kurs rupiah dan IHSG hari ini.

Menurut Oso Securities, aksi emiten beberapa korporas ini menjadi sorotan pasar. 

Berikut laju emiten saham yang menjadi bahasan hari ini

TOTL baru kantongi kontrak Rp 813 miliar
PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) masih optimistis bisa meraup kontrak anyar hingga Rp 4 triliun sampai akhir tahun ini. Hingga akhir April tahun ini, TOTL sudah mendapat kontrak anyar hingga Rp 813 miliar. Kebanyakan dari kontrak tersebut berupa pembangunan gedung perkantoran. Menurut Mahmilan Sugiyo, Sekretaris Perusahaan Total Bangun Persada Tbk, pihaknya saat ini tengah mendata proyek-proyek yang bisa diikuti oleh Total. Namun, ia tidak merinci identitas dari nama proyek tersebut. Adapun nilai total, proyek-proyek incaran itu bisa mencapai Rp 12 triliun. Dari daftar proyek yang didata, Total berharap bisa mendapat proyek senilai Rp 3,6 triliun sampai Rp 4,8 triliun. Artinya, bila proyeksi tersebut tercapai, Total sanggup memenuhi target perolehan kontrak baru tahun ini.

MINA kepincut laba dari pesona Bali
PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) berniat mengembangkan resor dengan konsep kawasan terpadu di atas lahan seluas empat hektare. Perseroan memilih daerah Sanur. Gunawan Angkawibawa, Direktur Sanurhasta Mitra, menyebutkan, rencana membangun kawasan terpadu atau mixed used tersebut masih menunggu hasil studi. Ini juga untuk mencocokkan keinginan pasar dalam pengembangan resor itu. Opsinya adalah, kawasan Sanur bisa dikembangkan dengan beberapa bentuk bangunan, seperti hotel, vila, dan kondotel.Sebagai tahap awal, MINA akan menggelontor dana sebesar Rp 8,6 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk modal kerja dan persiapan membangun resor di Sanur. Pendanaannya bakal bersumber dari hasil penawaran umum perdana alias initial public offering (IPO) mencapai Rp 27,56 miliar.

CLEO akan tambah dua pabrik baru
PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) berencana menambah dua pabrik baru. Pabrik milik emiten kelima di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2017 ini masing-masing dibangun di Ungaran, Jawa Tengah, dan Kendari, Sulawesi Tenggara. Pembangunan satu pabrik tersebut menelan investasi sebesar Rp 10 miliarRp 20 miliar. CLEO akan menggunakan sebagian dana hasil penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO) untuk membiayai pembangunan kedua pabrik itu. Satu pabrik baru bisa menghasilkan minimal 100 juta liter air per tahun atau 5% dari total kapasitas fasilitas produksi milik CLEO. Seluruh pabrik produsen air minum dalam kemasan ini berkapasitas produksi 1,6 miliar liter per tahun. Saat ini, CLEO mengoperasikan 19 pabrik, dengan 48 jaringan distribusi internal dan 50 jaringan distribusi eksternal. Penambahan dua pabrik ini sekaligus menjadi strategi CLEO untuk meluaskan jaringan distribusi.

MEDC akan stock split 1:4
PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) berencana memecah nilai nominal saham alias stock split. Rasio stock split tersebut empat berbanding satu. Dengan kata lain, nominal saham MEDC yang sebelumnya Rp 100 akan menjadi Rp 25. MEDC akan lebih dulu meminta persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 16 Juni 2017 mendatang. Selain stock split, MEDC juga akan melanjutkan rencana penambahan modal tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) yang sempat tertunda. Hilmi pernah mengatakan, untuk tahap awal, MEDC membidik rights issue sekitar Rp 2 triliun. Sebelumnya, MEDC sudah mendapatkan restu dari pemegang saham untuk menerbitkan maksimal 1,3 miliar saham atau 27% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh. Rights issue dilakukan untuk membayar utang dan memperkuat modal.

TBLA meraup kenaikan laba bersih 322,95% di Q1
PT Tunas Baru Lampung Tbk (TBLA) mencatatkan pendapatan usaha kuartal pertama 2017 sebesar Rp 2,24 triliun atau meningkat 117,78% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,03 triliun. Pendapatan terserbut dikontribusi dari produk pabrikasi dan turunan pengelolaan hasil perkebunan kelapa sawit sebesar Rp 1,58 triliun. Sedangkan produk pabrikasi dan sampingan dari pengelolaan gula memberikan kontribusi sebesar Rp 657,45 miliar. Beban pokok penjualan pada kuartal pertama 2017 sebesar Rp 1,70 triliun. Angka tersebut meningkat 117,17% bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 785,32 miliar. Sementara dari sisi bottom line, laba bersih TBLA kuartal pertama 2017 tercatat sebesar Rp 275,62 miliar. Angka ini mengalami peningkatan 322,95% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 65,17 miliar.

UNSP merugi Rp 605,12 miliar tahun lalu
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) masih menanggung kerugian pada 2016 lalu. Penjualan bersih UNSP turun 29,4% (yoy) menjadi Rp 1,5 triliun. Meskipun UNSP membukukan keuntungan selisih kurs Rp 221 miliar, namun beban keuangan yang tinggi membuat UNSP masih harus menanggung rugi bersih sebesar Rp 605,12 miliar. Pada 2015, kerugian UNSP mencapai Rp 1 triliun. Beban keuangan UNSP memang naik dari Rp 611 miliar menjadi Rp 859,62 miliar. Total liabilitas perusahaan ini mencapai Rp 13,5 triliun. UNSP memiliki pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu setahun sebesar Rp 6,5 triliun.

Refinancing, INDF rilis obligasi Rp 2 triliun
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) akan merilis Obligasi Indofood Sukses Makmur VIII Tahun 2017 Dengan Tingkat Bunga Tetap. Nilai emisi obligasi tersebut sebesar Rp 2 triliun dan memiliki tenor lima tahun hingga 26 Mei 2022 mendatang. Obligasi itu diterbitkan untuk pembelian obligasi lama atau refinancing. Adapun utang obligasi yang bakal INDF refinancing adalah, Obligasi Rupiah VI yang diterbitkan pada 14 Mei 2012 silam. Nilai emisi atas obligasi lama itu sama dengan obligasi baru, Rp 2 triliun. Tingkat bunganya merupakan tingkat bunga tetap, sebesar 7,25% per tahun. Obligasilama ini bakal jatuh tempo pada 31 Mei 2017 mendatang. Pefindo menyematkan rating idAA+ untuk obligasi lama tersebut. Rating serupa juga disematkan untuk obligasi baru yang bakal diterbitkan.

Butuh dana untuk ekspansi, KREN tidak bagi dividen
Di tahun 2017 ini, PT Kresna Graha Investama (KREN) punya rencana yang cukup ekspansif. Hal itu jadi alasan perseroan untuk tidak membagikan dividen kepada pemegang saham KREN. Tahun ini perseroan menganggarkan belanja modal senilai Rp 200 miliar yang didapatkan oleh perseroan melalui internal cash flow. Saat ini perseroan menargetkan dua sampai tiga IPO di tahun ini termasuk IPO anak perusahaan KREN yakni PT M Cash Integrasi. Selain itu, perseroan juga akan terus menggenjot obligasi dengan memfokuskan pada global bonds. Manajemen perseroan bilang bahwa dalam waktu dekat, akan ada emiten yang akan menerbitkan global bonds melalui perseroan dengan jumlah yang cukup besar meski perseroan belum mau menyebutkannya.

Anak usaha KREN bersiap untuk IPO
Salah satu anak usaha PT Kresna Graha Investama (KREN) yakni PT M Cash Integrasi berencana untuk menginjakkan kaki di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui skema Initial Public Offering (IPO). IPO ini rencananya bakal dilakukan pada awal kuartal empat mendatang dengan menggunakan buku April. Dalam IPO ini, perusahaan tersebut menargetkan dana sebesar Rp 200 miliar hingga Rp 250 miliar. Nantinya, dana tersebut akan dipakai oleh PT M Cash Integrasi untuk belanja modal dan juga digunakan untuk working capital. KREN sebagai induk PT M Cash Integrasi memiliki saham sebesar 17,6% melalui PT Kresna Usaha Kreatif. Saat ini, perusahaan tersebut sedang dalam proses menghitung berapa saham yang akan dilepas oleh perseroan dalam skema IPOini.

TOTL sebar dividen total Rp 153,45 miliar
PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) menyetujui untuk membagikan dividen sebesar Rp 153,45 miliar kepada para pemegang saham. Nilai ini setara dengan 68,81% dari laba tahun berjalan. Dengan demikian, para investor akan mendapatkan Rp 45 untuk setiap saham yang dimiliki. Sementara itu, sisa dana yang didapat dari laba bersih periode yang sama akan dibukukan sebagai laba ditahan. Untuk informasi, sampai akhir tahun 2016, TOTL mampu membukukan laba bersih sebesar Rp 223,02 miliar. Selain itu, pada RUPS kali ini, TOTL juga menyetujui pengangkatan Rusdy Daryono sebagai Komisaris Independen yang memiliki masa kerja hingga 25 April 2018 mendatang

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham
Editor : Mia Chitra Dinisari
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top