Parlemen Setuju Pemilu 8 Juni 2017, Pound Sterling Menghijau

Mata uang pound sterling atau GBP mengalami tren bullish dalam jangka pendek seiring dengan membaiknya respon pasar terhadap rencana Inggris untuk mengadakan pemilihan umum parlemen pada 8 Juni 2017.
Hafiyyan | 20 April 2017 20:05 WIB
Pound sterling. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang pound sterling atau GBP mengalami tren bullish dalam jangka pendek seiring dengan membaiknya respon pasar terhadap rencana Inggris untuk mengadakan pemilihan umum parlemen pada 8 Juni 2017.

Pada perdagangan Kamis (20/4/2017) pukul 17:55 WIB, mata uang GBP naik 0,27% atau 0,0035 poin menuju 1,2812 per dolar AS. Dalam waktu yang sama, indeks dolar AS terkoreksi 0,18% atau 0,18 poin menuju 99,558.

Lukman Otunuga, Research Analyst FXTM, mengatakan pasar merespon baik pernyataan May pada Selasa (18/4/2017) yang menginginkan pemilihan umum parlemen dilakukan pada 8 Juni 2017. Meski terbilang mengejutkan langkah ini bertujuan memuluskan kepastian langkah Britania Raya untuk meninggalkan Uni Eropa.

"Kejutan pemilu dadakan Inggris Raya memperkuat GBP. Saat ini, pasar sedang mempelajari dampaknya terhadap megosiasi Brexit," paparnya dalam publikasi riset, Kamis (20/4/2017).

Kejutan tersebut membuat GBP melejit 2,2% atau 0,276 poin pada penutupan perdagangan Selasa (18/4/2017) menuju 1,2841 per dolar AS. Ini merupakan angka tertinggi sejak 4 Oktober 2016.

Pada Rabu (19/4/2017) waktu setempat, parlemen mendukung usulan May perihal tanggal pelaksanaan pemilu. Dukungan bagi PM di parlemen mencapai 522 suara dari total 650 kursi di parlemen.

Menurut Lukman, pernyataan May soal pemilu dan sikap parlemen yang mendukungnya berhasil memastikan posisi kepemimpinannya yang tangguh, meskipun Inggris berpisah dari Uni Eropa. Di sisi lain, sentimen tersebut menekan kegelisahan pasar terhadap risiko Brexit dalam jangka pendek.

Oleh karena itu, dalam waktu dekat harga GBP mengalami periode bullish. Namun, dalam jangka panjang, investor masih dapat memanfaatkan potensi ketidakstabilan politik untuk membuat pound sterling kembali melemah.

Tag : pound sterling, Brexit
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top