Anggarkan Capex Rp1 Triliun, BIRD Fokus Pengembangan Aplikasi Pemesanan

Emiten taksi regular PT Blue Bird Tbk. mematok belanja modal tahun ini di kisaran Rp1 triliun atau relatif tidak banyak berubah dari realisasi tahun lalu sekitar Rp900 miliar.
Emanuel B. Caesario | 29 Maret 2017 19:30 WIB
Blue Bird - Jibiphoto

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten taksi regular PT Blue Bird Tbk. mematok belanja modal tahun ini di kisaran Rp1 triliun atau relatif tidak banyak berubah dari realisasi tahun lalu sekitar Rp900 miliar, seiring strategi perusahaan untuk lebih berkonsentrasi pada transformasi bisnis berbasis aplikasi Internet dibandingkan ekspansi armada.

Michael Tene, Investor Relation Blue Bird mengatakan, realisasi belanja modal tahun lalu turun cukup dalam dibandingkan 2015, yakni dari sekitar Rp1,7 triliun pada 2015 menjadi hanya sekitar Rp900 miliar pada 2016.

Penurunan tersebut disebabkan karena pergeseran fokus perusahaan tahun lalu menjadi lebih mengarah pada strategi transformasi bisnis akibat persaingan sengit dengan angkutan berbasis aplikasi.

“Tahun ini capex kami tidak akan terlalu ekspansif, kami akan concern dengan capex untuk pengembangan teknologi. Kami ingin agresif untuk kembangkan teknologi. Anggarannya kemungkinan akan sedikit di atas Rp1 triliun,” katanya, Rabu (29/3/2017).

Sigit Priawan Djokosoetono, Direktur Blue Bird mengatakan, tahun ini perseroan memutuskan untuk lebih menahan diri dalam ekspansi armada setelah tahun lalu mengalami tekanan pendapatan yang cukup kuat akibat persaingan bisnis dengan angkutan berbasis aplikasi.

Tahun ini, perseroan fokus untuk mengembangkan diversifikasi saluran-saluran pemesanan terhadap taksi regular Blue Bird, antara lain yang sudah dilakukan adalah kerja sama dengan PT Gojek Indonesia.

Menurutnya, masih ada sejumlah bentuk kerja sama layanan yang akan dilakukan antara Blue Bird dan Go-Jek. Di sisi lain, Blue Bird juga akan terus mengembangkan fitur layanan dalam aplikasi MyBlueBird yang dimiliki perseroan.

Sigit masih enggan mengungkapkan layanan baru hasil kerja sama dengan Go-Jek yang akan diluncurkan, tetapi realisasinya akan dalam waktu dekat.

Menurutnya, hasil kerja sama antara Blue Bird dan Go-Jek yang dimulai sejak awal Februari lalu berjalan sesuai harapan dan memberi hasil yang baik, meskipun perseroan masih belum menghitung tingkat keuntungannya.

Sementara itu, untuk aplikasi MyBlueBird, perseroan berencana mengembangkan fitur Easy Ride yang memungkinkan pelanggan membayar secara non tunai meskipun memesan Blue Bird melalui pemberhentian di pinggir jalan, tanpa memesan di aplikasi.

Selama ini, pembayaran non tunai hanya dimungkinkan bila memesan Blue Bird melalui aplikasi. Fitur tersebut akan diluncurkan pada kuartal kedua tahun ini. Selain itu, perseroan juga akan membuka pemesanan semua layanan Blue Bird melalui aplikasi itu, termasuk bus, limousine dan mobil sewa Golden Bird.

“Fokus kami sekarang sebenarnya untuk memastikan transformasi bisnis kami bisa berjalan, sehingga terutama membuat keuangan sehat, market share terjaga dan secara jangka panjang bisa survive,” katanya, Rabu (29/3).

Sigit mengatakan, belanja modal besar tahun ini terbatas hanya untuk peremajaan armada. Akan ada sekitar 4.000-an armada Blue Bird yang akan diremajalan tahun ini dengan anggaran antara Rp150 juta hingga Rp180 juta per unit. Atau, berkisar antara Rp600 miliar hingga Rp720 miliar.

Perseroan belum akan meningkatkan jumlah armada taksi Blue Bird yang saat ini sekitar 26.000 unit. Demikian pula dengan armada bus yang sekitar 600 unit, Silver Bird sekitar 1.000 unit, dan mobil rental sekitar 5.000 unit.

“Dengan optimalisasi armada dan saluran pemesanan, kita harapkan tingkat utilisasi tahun ini tentu bisa meningkat sedikit dari posisi tahun lalu yang sekitar 70%. Namun, yang kami lakukan tahun ini mungkin saja baru akan terefleksikan dalam top line tahun depan, belum di tahun ini,” ujarnya.

Oleh karenanya, Sigit mengaku belum bisa mengukur target pertumbuhan bisnis perseroan tahun ini. Di sisi lain, regulasi pemerintah tentang layanan transportasi umum tidak dalam trayek yakni Permenhub 32/2016 masih belum bisa dipastikan dampaknya.

Tag : capex, blue bird
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top