Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menopang Proyek Kelistrikan Negeri

Semua kebutuhan pasar akan kami layani. Dari high voltage, medium voltage, sampai low voltage, dari power plant sampai sambungan rumah, semua dapat dipenuhi melalui produk kami.
Stefanus Arief Setiaji
Stefanus Arief Setiaji - Bisnis.com 18 Januari 2017  |  12:36 WIB
CEO Voksel Electric David Lius - dok.pribadi
CEO Voksel Electric David Lius - dok.pribadi

Bisnis.com, JAKARTA — PT Voksel Electric Tbk., merupakan salah satu pelaku industri perkabelan di Indonesia yang memiliki pangsa pasar hingga luar negeri. Pada kuartal I/2016, pergantian terjadi di pucuk kepemimpinan Voksel Electric. David Lius, sosok muda kelahiran Singapura 21 Agustus 1982, kini dipercaya memimpin perusahaan yang berdiri sejak 1971 itu. Bisnis berkesempatan mewawancarainya belum lama ini. Berikut petikannya.

Bagaimana potensi industri perkabelan?

Dalam industri kabel, ada dua macam fungsi kabel. Pertama, jenis kabel untuk telekomunikasi. Kedua, kabel power. Voksel Electric merupakan produsen untuk keduanya. Untuk power cabel, kami banyak menyuplai ke PLN [PT Perusahaan Listrik Negara (Persero)], sedangkan untuk kabel telekonunikasi ke PT Telekomunikasi Indonesia.

Secara industri, tentu saja ada sinkronisasi produk dengan kebutuhan konsumen, terutama dalam hal ini pemerintah. Berbicara dalam konteks industri secara umum, pasti ada siklus. Ada siklus lima tahunan dan 10 tahunan, yang biasanya terjadi saat pergantian pemerintahan. Dalam dua tahun terakhir ini , kami melihat proyek kelistrikan 35.000 MW membuat industri menjadi sangat optimistis. Jika komitmen pemerintah berjalan baik, dalam lima hingga 10 tahun, ini akan baik bagi pertumbuhan industri perkabelan di Indonesia.

Apakah proyek 35.00 MW pemerintah memiliki dampak langsung terhadap Voksel?

Sangat besar. Selama ini kami sangat mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah. Dengan komitmen pemerintah untuk membangun infrastruktur baik dalam penyediaan listrik maupun telekomunikasi terutama yang berbasis fiber optic, itu akan memberikan kesempatan bagi kami untuk berkembang maju. Seperti kebijakan Telkom yang mulai mengganti kabel tembaga ke fiber optic, akan memberi dampak positif kepada kami.

Kami berharap akan ada proyek-proyek tambahan baru. Karena  itu kami sangat optimistis dengan industri kabel saat ini, terutama dengan potensi pertumbuhan dan pembangunan infrastruktur di Indonesia ke depan yang sangat besar.

Bagaimana target pasar Voksel, proyek infrastruktur besar atau kebutuhan listrik rumah tangga?

Semua kebutuhan pasar akan kami layani. Dari high voltage, medium voltage, sampai low voltage, dari power plant sampai sambungan rumah, semua dapat dipenuhi melalui produk kami.

Saat ini kami sedang membangun distribution chain dengan perluasan distributor melalui 1.000 toko dalam program kami saat ini. Jika 1.000 toko tersebut sudah tersebar di seluruh Indonesia, kami berharap produk kami akan semakin dekat dengan konsumen, termasuk konsumen rumah tangga.

Berapa besar pangsa pasar Voksel?

Untuk pangsa pasar, sebenarnya setiap segmen industri beda-beda, seperti suplai kami ke PLN. Penggunaan kabel PLN itu ada dua , yaitu kabel transmisi dan distribusi. Untuk kabel transmisi, kami termasuk yang cukup besar di Indonesia.

Bahkan untuk teknologi kabel baru HTLS/ACFR yang kami kembangkan, saat ini sudah digunakan oleh PLN. Sedangkan untuk kabel distribusi, saat ini kami adalah pemain tiga besar di industri. Untuk kerja sama dengan Telkom, secara kapasitas kami termasuk yang terbesar untuk fiber optic.

Sejak awal kami juga sudah menyuplai kabel tembaga ke Telkom, dan sekarang migrasi dilakukan ke fiber optic.

Secara kapasitas produksi dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN), kami bisa disebut sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia. Pada Oktober 2016, kami dianugerahi Special Award for The Best Local Content Electricity Company dan Top 5 Electrical Supporting Company dalam Indonesia Best Electricity Award (IBEA) 2016. Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk selalu menjadi lebih baik.

Apa saja kendala dalam mendukung proyek kelistrikan 35.000 MW?

Kami tidak ingin melihatnya sebagai kendala, tapi lebih sebagai tantangan. Dalam menjalankan proyek dan program, tidak mungkin semuanya berjalan mulus. Kondisi di Indonesia barangkali lebih kepada masalah birokrasi. Keinginan untuk membangun ada, tetapi birokrasi untuk memperoleh persetujuan itu cukup banyak.

Kami melihat dalam dua tahun terakhir, hambatan sedikit berkurang. Mungkin hanya membutuhkan waktu saja untuk dapat berjalan dengan lebih baik. Kami optimistis akan hal tersebut. Bagi pengusaha, sebenarnya yang dibutuhkan adalah kepastian secara jangka panjang.

Apakah semua produksi kabel bisa digarap di dalam negeri?

Tergantung jenis kabelnya. Kalau untuk transmisi, hingga 95% merupakan muatan lokal. Untuk kabel transmisi bahan baku utamanya adalah aluminium, dan aluminium sudah bisa diproduksi lokal.

Karena itu, kami selalu mendukung usaha pemerintah untuk meningkatkan dan mendorong konten dalam negeri dan terus menyesuaikan dengan kebutuhan kabel di Indonesia, terutama untuk mendorong peningkatan produk yang bermuatan lokal.

Apakah sudah banyak produksi Voksel yang dipakai di luar negeri?

Secara promosi, memang produk kabel buatan dalam negeri tidak banyak didengungkan dan diketahui umum. Namun, beberapa produk Voksel saat ini sudah digunakan di beberapa negara. Contohnya ke negara tetangga seperti Singapura. Singapore Sports Hub kabelnya dari Voksel. Microsoft Data Center juga memakai kabel dari kami. Kami sudah melakukan ekspor ke lebih dari 52 negara, dan pasar terbesar kami ada di Dubai.

Dari sisi kompetensi dan kualitas produk dengan standar luar negeri, bahan baku lokal kami sudah memenuhi standar. Artinya dari sisi efisiensi dan kompetitif, seharusnya sudah kami miliki. Saat ini kami melihat hambatannya lebih ke aspek topografi. Untuk ekspor, mungkin China lebih diuntungkan karena letaknya yang lebih dekat menjangkau ke negara-negara di Afrika lalu India, mereka lebih dekat.

Jadi peluang ekspor sebenarnya dari pandangan saya hambatannya lebih ke mahalnya transportasi. Seperti yang tadi saya sampaikan, bisnis kabel itu kan ada siklusnya. Kami berharap, saat siklus di dalam negeri sedang turun, pasar ekspor ini bisa menutup penurunan tersebut. Itu sebabnya, kami tetap menjaga pasar ekspor dengan tetap menjaga kualitas untuk dapat selalu memenuhi standar internasional.

Dengan teknologi baru yang kami miliki, termasuk adanya kerja sama dengan sister company kami, eskpor juga akan tetap menjadi pertimbangan bagi perluasan pasar kami.

Negara mana yang menjadi pasar paling besar?

Tergantung produknya. Kami berkonsentrasi lebih besar di kabel transmisi. Kabel transmisi memang kebanyakan dipakai di negara-negara berkembang seperti Kamboja, Myanmar, Filipina, dan Vietnam.

 Soal teknologi baru, apa yang ditawarkan?

Umumnya untuk kabel, dengan fungsinya yang sama, teknologi lebih ke aspek kapabilitas usia yang lebih lama. Kami juga memiliki kemampuan dalam mengembangkan teknologi yang lebih khusus karena kami memiliki sister company di Jepang dan China yang juga merupakan produsen terkemuka di masing-masing negara.

Jadi dari riset dan pengembangan, kami banyak melakukan kerja sama dengan sister company untuk selalu melakukan pengembangan produk sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan pasar.

Langkah pertama yang ditempuh saat dipercaya sebagai CEO?

Saya menjabat memang belum lama, baru tahun ini. Untuk sebuah perusahaan, teamwork tak bisa dilepaskan dan kerja tim memang sudah terbangun. Selama ini kegiatan utama perusahaan adalah menjual produk kabel, namun kami saat ini memulai mengembangkan layanan lain, misalnya konsultasi dan engineering. Itu harus kami jalankan sebagai bentuk layanan kepada konsumen.

Kepuasan pelanggan merupakan faktor penting menurut kami. Untuk itu butuh sinkronisasi dan kolaborasi di semua divisi sehingga bisa lebih kompak untuk mencapai target yang sama. 

Saya melihat orang-orang di Voksel banyak yang memiliki talenta dan punya potensi yang baik. Itu salah satu motivasi saya untuk memimpin Voksel. Learning is part of the culture. Saya banyak belajar dari CEO sebelumnya. Dia memberi banyak dukungan dan selalu berbagi ilmu dengan karyawan.

Ada rencana ekspansi?

Pasti kami ingin melakukan ekspansi. Apalagi industri ini sedang naik daun. Ekspansi tentu ada di program kami dan fokusnya masih di bisnis perkabelan. Masih banyak improvement yang bisa dilakukan. Saat ini, fokus lebih ke efisiensi.

Kami memilih menyiapkan fundamental perusahaan agar lebih kuat terutama untuk menghadapi ketatnya persaingan sambil kami melakukan rencana ekspansi pasar.

Kami juga melihat secara jangka menengah dan panjang, ada program-program pengembangan yang dilakukan pemerintah, dan kami siap mendukung program pemerintah tersebut. Terus terang untuk proyek-proyek pemerintahan, kami melihat sudah ada dampak bagi perkembangan bisnis kami terutama di kuartal kedua dan kuartal ketiga tahun lalu. Memang dari sisi pertumbuhan belum optimal, tetapi kami melihat ada kesempatan yang besar dalam dua atau tiga tahun ke depan. Kami yakin itu.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

voksel electric ceo
Editor : Stefanus Arief Setiaji
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top