Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Faktor AS dan OPEC, Minyak WTI Nyaman di US$50 per barel

Harga minyak stabil di atas level US$50 per barel dalam dua sesi perdagangan seiring dengan membaiknya data persediaan mingguan Amerika Serikat dan upaya OPEC memangkas produksi.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 07 Oktober 2016  |  17:35 WIB
/Ilustrasi
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Harga minyak stabil di atas level US$50 per barel dalam dua sesi perdagangan seiring dengan membaiknya data persediaan mingguan Amerika Serikat dan upaya OPEC memangkas produksi.

Meskipun demikian, harga rentan tergelincir akibat kekhawatiran investor perihal peningkatan harga baru-baru ini bakal mendorong produsen untuk memacu produksi. Alhasil pasar yang mengalami surplus semakin tertekan.

Pada perdagangan Jumat (7/10) pukul 16:51 WIB harga minyak West Texas Intermediate (WTI) kontrak November 2016 turun 0,16 poin atau 0,3% menjadi US$50,28 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent kontrak Desember 2016 merosot 0,26 poin atau 0,5% menjadi US$52,25 per barel.

Harga minyak terdorong sentimen positif dari menurunnya persediaan minyak mentah mingguan AS. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) yang dirilis Rabu (5/10) menunjukkan stok minyak mentah AS per Jumat (30/9) merosot 2,98 juta barel menuju 499,74 juta barel.

Angka stok terbaru menunjukkan posisi terendah sejak awal Januari 2016. Selain itu, hasil ini melanjutkan tren positif pada pekan sebelumnya karena persediaan merosot 1,88 juta barel.

Produksi mingguan minyak AS per Jumat (30/9) juga turun 30.000 barel per hari dari pekan sebelumnya menjadi 8,47 juta barel per hari. Angka ini merupakan level terendah dalam tiga pekan ke belakang.

Jeff Currie, head of commodities research Goldman Sachs Group Inc., mengatakan meski data fundamental membaik, harga masih tertekan oleh kemungkinan surplus suplai minyak mentah ke depan. Alhasil harga kembali turun.

Goldman memprediksi surplus pasokan minyak mentah masih terjadi pada tahun depan. Adapun dari sisi harga, minyak perlu mencapai level US$55 per barel agar produsen shale oil memproduksi pada jumlah normal.

Michael McCarthy, chief market strategist in Sydney CMC Markets, mengatakan harga minyak naik sekitar 11% setelah OPEC pada pekan lalu menyepakati pemotongan produksi untuk pertama kalinya sejak 2008. Level produksi dari 32,5—33 juta barel per hari akan dipangkas sekitar 700.000 barel per hari.

Adapun keputusan resmi pemangkasan suplai baru akan dibahas dalam rapat organisasi di Wina, Austria, pada 30 November.

Terbaru, sentimen positif dari AS perihal berkurangnya persediaan mingguan di bawah level 500 juta barel sejak Januari lalu tidak bertahan lama. Menurut McCarthy, dengan harga yang bertengger di kisaran US$50—US$55 per barel dapat membuat produsen shale oil, yakni Paman Sam, memacu kembali produksinya.

“Ada kekhawatiran bisa harga mencapai US$50, kemudian reli menuju US$55 dapat membuat AS menggenjot produksi. Akan tetapi, momentum positif minyak saat ini telah membawa harga ke posisi atas dalam rentang proyeksi,” ujarnya, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (7/10/2016).

National Bank of Abu Dhabi (NBAD) dalam publikasi risetnya, Kamis (6/10), memaparkan minggu depan harga minyak akan mengacu pada pertemuan antara OPEC dan non-OPEC di Istanbul, Turki, pada 8—13 Oktober 2016. Pertemuan ini merupakan tindak lanjut diskusi di Aljazair pada akhir September.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak brent opec wti departemen energi as (eia)
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top